Ancaman Putus Kuliah saat Pandemi, Bagaimana Nasib Generasi?

putus kuliah
Spread the love

Oleh: Sherly Agustina, M.Ag
(Penulis dan pemerhati kebijakan publik)

MuslimahTimes.com–Pendidikan adalah salah satu penopang bangkit dan berkembangnya sebuah negara. Jika pendidikan lemah, maka negara akan lemah. Benjamin Franklin mengatakan bahwa, “Kejeniusan tanpa pendidikan ibarat perak di dalam tambang.”

Kepala Lembaga Beasiswa Baznas, Sri Nurhidayah, mengatakan sepanjang tahun lalu angka putus kuliah di Indonesia mencapai 602.208 orang. Sri mendapatkan informasi tersebut dari Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan Kemendikburistek. Angka putus kuliah paling banyak rata-rata ada di perguruan tinggi swasta (PTS), pada tahun sebelumnya angka putus kuliah 18 persen, lalu di masa pandemi naik mencapai 50 persen. (Jawapos.com, 16/8/21)

Fenomena ini terjadi karena bertambahnya penduduk miskin akibat dampak ekonomi, sosial, dan kesehatan dari pandemi Covid-19. Pandemi membawa pengaruh besar, di bidang ekonomi negeri ini terjebak pada krisis berkepanjangan sejak tahun lalu. Untuk bisa bertahan hidup saja sulit dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Apalagi untuk biaya pendidikan yang relatif tinggi di alam kapitalisme saat ini.

Kapitalisme Penyebab Ancaman Putus Kuliah

Maka hal wajar jika angka putus kuliah meningkat drastis. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari rakyat berjuang sendiri dalam kondisi sulit di masa pandemi. Begitupun di dunia pendidikan rakyat dipaksa untuk menggapainya sendiri, walau dalam kondisi sulit yang mencekik. Perut butuh diisi, otak pun perlu nutrisi, lalu bagaimana agar bisa berjalan dengan baik antara pemenuhan perut dan otak di masa krisis ini?

Jika angka putus kuliah ini tidak bisa ditangani oleh negara, bagaimana nasib generasi? Bukankah generasi adalah aset intelektual yang berharga dan penerus estafet pengelola negeri ini? Lebih jauh lagi, bagaimana nasib negara ini ke depan jika dunia pendidikan tidak diperhatikan. Akankah menjadi negara terbelakang yang menjadi pilihan?

Padahal, potensi SDA Indonesia sangat banyak. Lebih dari cukup untuk bisa mengatasi pendanaan selama pandemi, krisis dan resesi serta di bidang lain seperti pendidikan misalnya, menjadi masalah, manakala potensi SDA yang ada di negeri ini tidak dimiliki dan dikelola oleh negara, melainkan oleh ‘tamu’ yaitu para investor asing yang ingin menguasai SDA dengan berbagai cara dan strategi yang cantik dan licik.

Sayangnya, negara tak menganggap ada ancaman dari para ‘tamu’ tersebut, melainkan mempersilakan untuk memilih aset mana saja yang disukai selama bisa membantu negeri ini dengan jeratan utang. Negara lupa, bahwa utang adalah jebakan batman agar ‘tamu’ tersebut bisa dengan mudah menjarah aset negara.

Beginilah wajah kapitalisme yang dipuji dan dipuja, serta diterapkan di beberapa negeri kaum muslim. Nyatanya, sistem Kapitalisme hanya merusak negeri-negeri kaum muslim di antaranya Indonesia. Karena dalam kapitalisme yang leluasa mengambil kebijakan adalah para kapital yang memiliki modal, bahkan untuk terus memperbanyak modal.

Banyaknya angka putus kuliah menjadi bagian dari masalah akibat diterapkannya kapitalisme di negeri ini, padahal negara memiliki tanggung jawab untuk segera mengatasinya. Karena jika tidak, bersiaplah menjadi salah satu negara terbelakang yang memiliki mental terjajah, bahkan menikmatinya dengan pasrah.

Islam Memiliki Solusi Jitu Problematika Umat

Lalu, bagaimana agar kondisi ini bisa diubah, sehingga menjadikan Indonesia negara yang memiliki wibawa dan performa tinggi? Jawabannya hanya dengan Islam, karena Islam telah memiliki seperangkat konsep yang jelas tentang tata aturan SDA, negara, keuangan, SDM, dan sebagainya. Konsep keuangan dalam Islam mampu menjawab krisis yang terjadi saat ini, terutama mengatasi pandemi yang menjadi penyebab krisis dan masalah lain seperti ancaman putus kuliah saat pandemi.

Baitul Mal yang menjadi kas negara di dalam Islam, telah memiliki konsep yang sempurna mengatur pos pemasukan dan pengeluaran yang diatur oleh syariah. Untuk mengatasi pendemi, bisa dari pos pemasukan kepemilikan umum. Kepemilikan umum di dalam Islam banyak, termasuk di dalamnya jenis barang tambang yang tak terbatas. Potensi ini jika disatukan seluruh negeri kaum muslim sedunia sudah cukup untuk mengatasinya.

Adapun pendidikan, kesehatan, dan keamanan menjadi bagian dari kebutuhan kolektif yang bisa dinikmati secara gratis oleh rakyat. Karena kebutuhan kolektif ini tanggung jawab negara terhadap rakyat. Islam memberikan amanah pada pemimpin negara agar bisa mengatur urusan umat sesuai Islam sehingga kesejahteraan bisa dirasakan umat baik Muslim ataupun kafir dzimmy. Pendanaannya sudah diatur di dalam Baitu Mal. Sehingga, semua warga negara di dalam Islam bisa mendapatkan fasilitas pendidikan, ancaman putus kuliah atau sekolah tidak akan pernah terjadi.

Di dunia pendidikan, Islam memiliki konsep yang paripurna. Hal ini bisa dilihat dari tujuan pendidikan Islam yang ingin diraih, yaitu membentuk insan atau SDM yang memiliki kepribadian Islam, sehingga pola pikir dan sikap sesuai dengan Islam, apa pun yang dipikirkan dan dilakukan harus sesuai dengan Islam. Selain itu, agar SDM menguasai tsaqofah Islam yang menjadi khazanah Islam dan solusi seluruh permasalahan umat dan memiliki skill di dunia sains dan teknologi. Sehingga SDM yang dihasilkan memiliki pribadi yang islami, konseptor, visioner, dan bisa menguasai dunia dengan semua perangkat keahlian yang dimiliki. Karena output dalam Islam dikondisikan untuk menjadi generasi penakluk yang tangguh seperti Rasul dan para sahabat. Maka dari itu, pendidikan dalam Islam dijamin karena merupakan faktor yang sangat penting agar suatu negara memiliki wibawa dan diperhitungkan di dunia internasional.

Berbanding terbalik dengan Kapitalisme, rakyat dituntut untuk berjuang sendiri, baik dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari serta kebutuhan lain seperti pendidikan. Karena negara tak menjamin sepenuhnya pemenuhan pendidikan, maka biaya pendidikan dalam Kapitalisme sangat mahal. Rakyat bisa bertahan atau tidak, bukan urusan negara.

Oleh karena itu, umat tentu merindukan kondisi kenyamanan dan ketenangan dalam kehidupan. Dimana kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi, begitu juga kebutuhan lainnya, baik pendidikan dan kesehatan. Agar umat bisa lebih fokus taqarrub kepada Allah karena jaminan yang diberikan oleh negara. Kondisi ini hanya bisa diraih dan dirasakan jika Islam yang mengatur seluruh kehidupan.

Islam yang diturunkan oleh Sang Maha Pencipta dan Pengatur alam semesta, tentu yang terbaik untuk ciptaan-Nya. Maka, perjuangan agar Islam bisa mengatur seluruh aspek kehidupan menjadi sebuah kewajiban dan kebutuhan. Bahkan, sebuah keniscayaan karena adanya Islam untuk menebar rahmat ke seluruh alam (QS. Al Anbiya: 107).

Allahu A’lam bi ash Shawab.