Antara AS dan Timur Tengah

Spread the love

Oleh. Ummu Nazry Najmi Nafiz
(Pemerhati Kebijakan publik)

Muslimahtimes.com– Selepas runtuhnya negara adidaya Daulah Utsmaniyah, lahirlah negara bangsa yang sangat banyak dari tanah bekas kekuasaannya. Hampir lebih dari 50 negara dan bangsa yang tersekat batas nasionalisme dan kesukuan sebagai ghanimah dan menjadi hidangan lezat negara pemenang perang dunia II, AS dan sekutunya. Dan menjadi rebutan negara-negara Barat untuk bisa menguasai tanah kaya, pecahan dari negara adidaya Daulah Utsmaniyah yang berhasil diruntuhkan oleh seorang agen Inggris keturunan Yahudi, Musthofa Kemal At-Taturk.

Karenanya, AS sebagai pemenang perang dunia II, yang telah menjelma menjadi negara adidaya yang menempati posisi nomor satu dunia, memiliki kekuasaan penuh untuk mengatur negara lain demi kepentingannya. AS membentuk politik kawasan untuk memudahkannya dalam memonitor setiap perkembangan politik di negara-negara jajahannya, utamanya di negara bekas Daulah Utsmaniyah yang notabene memiliki mayoritas penduduk beragama Islam dan pernah merasakan kehidupan dalam sistem Islam.

Karenanya, AS senantiasa waspada akan kebangkitan kembali Islam politik di tengah-tengah masyarakat muslim di negeri-negeri kaum muslimin. Sebab itu, AS getol sekali menjauhkan masyarakat muslim dari ajaran agama Islam dengan berbagai propaganda yang menyesatkan yang ditanamkan di tengah-tengah masyarakat muslim di negeri-negeri kaum muslimin, terutama di Timur tengah.

AS memperlakukan masyarakat muslim di kawasan Timur tengah berbeda dengan negeri lainnya. Sebab posisi dan potensi yang dimiliki Timur tengah sangat menggiurkan, yakni tak lepas dari posisinya sebagai sentral atau pusat transportasi dunia yang menghubungkan tiga benua, yaitu Asia, Afrika dan Eropa, yang menjadi jalur perdagangan terpenting dan tersibuk dunia. Selain sumber daya alam berupa minyak mentah yang melimpah ruah, yang menjadikannya harus ditundukan dan dikuasai terlebih dahulu untuk disedot kekayaanannya agar bisa dinikmati sendiri oleh AS dan sekutunya.

Sebab itu, AS menjadikan Islam dan kebangkitannya menjadi topik utama yang patut diwaspadai kemungkinan kebangkitannya kembali di wilayah timur tengah, sebab bisa menjadi faktor utama penghalang AS dan sekutunya dalam menikmati lezatnya negeri-negeri kaum muslimin di Timur tengah.

Karena itu, upaya pertama yang AS lakukan di Timur tengah adalah bagaimana menjadikan wilayah timur tengah menjadi negeri-negeri sekuler seperti AS. Caranya dengan menanamkan para agennya dikursi pemerintahan dan kekuasaan di negeri-negeri kaum muslimin di Timur tengah, yang bisa menjalankan misi sekularisasi negeri-negeri muslim dengan imbalan jabatan dan kekuasaan semu.

Kemudian AS melakukan upaya menancapkan kebijakan-kebijakan yang memaksa negeri-negeri kaum muslimin di Timur tengah untuk menjauh dari aspek militer dari kekuasaan kaum muslimin dan melemahkannya, termasuk memandulkan setiap upaya negeri-negeri kaum muslimin untuk memiliki dan mengembangkan senjata nuklir. Sehingga seluruh aktivitas militer dan pengembangan persenjataan di negeri-negeri kaum muslimin harus tunduk pada aturan dan ijin dari AS. Juga AS menumbuhkan dan memelihara konflik-konflik di Timur tengah, yang akan terus bergejolak dan memeras energi kaum muslimin akibat konflik bersaudara yang diciptakan AS dan sekutunya. Konflik Iran-Irak, konflik Irak-Kuwait, konflik Arab-Israel, konflik Israel-Pelestina dan sejenisnya, yang meletuskan Perang Teluk, Perang Israel Palestina dan yang sejenisnya, yang hingga hari ini tak pernah menemukan titik terang kecuali kerugian di pihak kaum muslimin. Sehingga konflik yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin berhasil menjadikan dunia internasional (AS dan sekutunya dengan lembaga-lembaga internasional buatan mereka), masuk mengintervensi sambil menjajakan senjata dan perlengkapan militer atas nama batuan militer yang pada faktanya harus dibeli oleh kaum muslimin dan digunakan untuk membunuhi saudaranya sendiri sesama kaum muslimin. Alhasil, kekayaan Timur Tengah terkuras habis dan nyawa kaum muslimin pun banyak yang melayang tanpa hak. Akhirnya, jadilah seluruh wilayah Timur Tengah terus bergejolak hingga hari ini. Timur tengah menjadi kawasan konflik yang ada di bawah kendali dunia internasional di bawah pimpinan AS.

Faktanya, AS tidak sendiri dalam menikmati kekayaan Timur Tengah, bersamanya ada 7 negara besar lainnya, yang tergabung dalam negara G-8, yang turut serta menikmati kekayaan negeri-negeri kaum muslimin di Timur tengah. Sedangkan penduduk negeri-negeri kaum muslimin di Timur tengah dibiarkan hidup menderita dalam pusaran konflik bersaudara yang tidak pernah berkesudahan. Sesama kaum muslimin saling membunuh, sedangkan AS dan sekutunya tertawa terbahak-bahak menyaksikan keterpurukan yang dialami seluruh kaum muslimin di negeri-negeri kaum muslimin sambil menyantap hidangan lezat kekayaan negeri-negeri kaum muslimin yang seolah tidak pernah habis, tanpa rasa belas kasihan sedikit pun.

Demikianlah, hubungan antara AS dengan Timur Tengah faktanya adalah hubungan antara penjajah dan yang terjajah. Sebab AS pada faktanya berhasil melakukan penjajahan di Timur Tengah dengan dikte dan doktrin yang meliputi seluruh wilayah Timur Tengah yang jika tidak dipenuhi maka AS tak segan untuk mengirimkan kekuatan militernya untuk mengintervensi. Juga AS menciptakan konflik dan keterbelakangan masyarakat muslim di negeri-negeri kaum muslimin terutama di Timur Tengah tanpa henti. Dan di saat yang sama AS berhasil memboyong seluruh kekayaan kaum muslimin untuk dinikmati secara rakus oleh AS dan negara-negara sekutunya.

Dan keadaan ini akan senantiasa berlangsung demikian terus-menerus, yaitu keterjajahan kawasan Timur Tengah oleh AS, selama kaum muslimin belum menyadari akan kekeliruannya yaitu menjadikan AS sebagai role model kebijakan publik dalam mengatur masyarakatnya. Atau selama kaum muslimin utamanya di Timur Tengah menjadikan sekuler menjadi bagian falsafah dalam kehidupannya. Kaum muslimin akan terus berada dalam keterperosokannya, akibat mengikuti doktrin AS dan memilih AS sebagai pemimpinnya.

Padahal AS dan sekutunya jelas-jelas menjadikan Islam sebagai musuh utama mereka. Maka, selayaknya kaum muslimin pun seharusnya menjadikan sekuler sebagai musuh utama mereka, bukan malah mengikuti bahkan menerapkannya dengan sukarela di negeri-negerinya, yang notabene adalah negeri-negeri kaum muslimin yang dulu pernah menerapkan Islam sebagai sistem hidupnya dan mampu menaungi dunia dalam kebaikan selama lebih dari 14 abad lamanya.

Karenanya, antara AS dan Timur Tengah senantiasa ada dalam hubungan yang tidak akan pernah bisa harmonis, sebab banyaknya gejolak yang ditimbulkan oleh AS, akibat keterpurukan sebagai sebab diterapkannya sistem sekuler dalam masyarakat Islam, yang memantik timbulnya banyak masalah di Timur tengah, dan berusaha untuk diredam oleh AS, namun dengan cara yang sangat tidak manusiawi, yang akan menjadi bom waktu dan berpotensi meledak sewaktu-waktu. Hal. Itu tentu akan sangat merugikan AS. Utamanya di wilayah Timur tengah yang notabene merupakan tempat lahirnya Islam sehingga menjadi pusat kekuatan Islam dan pusat penyebarannya.

Wallahualam.