Antre Mati

Spread the love

Oleh: Choirin Fitri

Muslimahtimes.com — Warga kampung Bukit Mawar geger. Mbah Urip, marbot Masjid Al-Ikhlas meninggal saat membersihkan tower masjid. Bapak-bapak sibuk memikirkan cara yang tepat untuk mengangkat jenazah dari tempat yang sempit. Ibu-ibu sibuk memperbincangkan kebaikan-kebaikan jenazah. Anak-anak pun ikut menonton. Mereka tak mau ketinggalan informasi kakek tua yang pandai bercerita itu. Suasana betul-betul riuh oleh isak tangis maupun koordinasi warga.

“Pak RT kalau pakai tandu jelas tidak bisa. Tower masjid itu sempit. Hanya satu orang yang bisa lewat.”

Seorang laki-laki berbadan kerempeng menghadap Pak RT.

“Iya, kamu benar. Lalu, bagaimana?”

Pak RT mondar-mandir. Ia sendiri bingung menentukan langkah. Mau mengangkat badan jenazah yang cukup berbobot bukan pilihan mudah.

“Harus ada satu orang yang mengangkat jenazah Mbak Urip, Pak atau kita bergantian,” ucap laki-laki bertubuh tambun.

“Kalau sampeyan jelas tidak bisa naik. Tubuh sampeyan itu lho.”

Pak RT melihat tubuh Si Bapak dari atas ke bawah. Jelas membuat yang punya tubuh garuk-garuk kepala sembari tertawa cengengesan.

“Estafet sepertinya juga tidak memungkinkan. Jalan ke menara masjid hanya setapak. Hanya satu orang yang bisa melakukannya. Siapa?”

Pak RT mengedarkan pandangannya pada warga yang hadir. Tak satu pun bersedia. Alasan takut, tidak kuat, dan lainnya saling diajukan.

“Insyaallah saya siap naik ke atas dan membawa jenazah Mbah Urip turun Pak RT.”

Hamzah, seorang pemuda dengan badan tinggi besar atletis menghadap pemimpin kampung itu. Wajah Pak RT langsung sumringah. Ia meminta semua orang yang ada di sekitar tower minggir.

Pelan tapi pasti anak tangga kecil-kecil didaki Hamzah hingga sampai bagian paling atas. Dilihatnya tubuh Mbah Urip yang masih kelihatan segar terduduk di pagar pembatas. Alat pembersih tergeletak tegak di sampingnya.

“Assalamualaikum,” ucap Hamzah. Ia tetap berucap salam meski tahu takkan ada jawaban karena jelas yang ada di hadapannya adalah jenazah.  Ia hanya melihat sebuah sunggingan senyum tampak berseri di wajah tua marbot masjid yang tak bernyawa.

“Bismillah,” ucap Hamzah lirih. Hatinya merapal doa agar Allah mudahkan proses evakuasi jenazah salah satu orang tua yang ia kagumi perjuangan dan akhlaknya.

Hamzah mengatur posisi. Ia berhadapan dengan jenazah dan mengangkatnya, namun susah. Jalan yang dilaluinya terlalu sempit. Ia memutuskan balik badan dan menggendongnya turun. Beruntung badan Mbah Urip tidak lebih besar dari badannya, sehingga memudahkannya.

Sepuluh menit berlalu. Jenazah Mbah Urip disambut warga di pelataran masjid. Hamzah meletakkan jenazah orang yang dikasihinya di tandu. Lalu, ia merobohkan badannya karena lelah yang mendera.

Warga membawa jenazah ke rumah duka yang hanya berjarak tujuh rumah dari masjid. Isak tangis Mbok Siti dan para tetangga terdengar memilukan. Sepasang kekasih yang tak dikaruniai anak cucu, kini harus dipisahkan kematian.

Aqila tak mau ketinggalan. Ia mengikuti ibunya melayat. Matanya pedih dan isak tangisnya tak terbendung melihat Mbok Siti. Dua orang kakek nenek itu sejak kecil telah mengajarkannya banyak hal.

Ingatan Aqila melanglang buana menuju tiga hari lalu. Ia sedang libur kuliah dan mampir ke rumah Mbok Siti dan Mbah Urip sambil membawakan sekotak martabak manis kesukaan keduanya. Wajah tua mereka menampilkan senyum menawan dan sambutan hangat padanya.

Mbok Siti menuangkan segelas jamu beras kencur buatannya sendiri, “ayo diminum biar doyan makan. Lihat itu badanmu kurus!”

“Ini namanya langsing Mbok, bukan kurus,” sahut Aqila sembari meneguk jamunya hingga tandas.

“Bagaimana kuliahmu, Nduk?”

Mbah Urip bertanya sambil membersihkan kaca mata bacanya dengan tissue.

“Alhamdulillah Mbah baik. Ini juga berkat doa Mbak Urip dan Mbok Surti,” ucap Aqila memeluk wanita yang berwajah keriput.

Mbok Surti batuk-batuk. Aqila segera ke dapur dan mengambilkan segelas air hangat. Wanita tua itu meminumnya perlahan hingga suara batuknya berkurang.

“Mbok sakit?”

“Ya, beberapa hari ini kurang enak badan. Mungkin karena sudah tua ya Mbah, kita nggak seperti saat muda dulu.”

Mbah Urip mengangguk, “Lha iya. Ndak mungkin to kita ingin muda terus. Wong kita ini sedang antri mati. Kalau masih diberi hidup meski ada sedikit sakit, syukuri saja. Toh, sakit itu penggugur dosa.”

“Iya, Mbah. Kalau nanti Allah berkehendak mencabut nyawa kita, Mbok ingin bisa bersama.”

“Keinginanmu itu ya aneh Mbok, wong mati itu Gusti Allah yang nentukan. Kita cuma manut. Hanya mengikuti apa yang dimau-Nya.”

“Ya, Mbok akan berdoa agar Allah mematikan kita dalam waktu yang bersamaan. Terus, kita bisa sehidup sesurga itu lho Mbah seperti kata para Ustaz di TV itu.”

Aqila kini baru mengerti dan menyadari bahwa perbincangan yang ia saksikan lalu adalah perbincangan terakhirnya. Doa Mbok Surti benar-benar Allah kabulkan. Netra Aqila yang masih basah karena kehilangan sosok Mbah Urip, kini harus melihat Mbok Surti dipapah ibunya. Wanita tua itu memegang dadanya dan berucap kalimat tahlil lirih. Ruhnya telah dicabut oleh malaikat pencabut nyawa yang mencabut ruh siapa saja yang antri mati.

Batu, 16 Maret 2022