Arus Gender Di Balik Peringatan Hari Keluarga

Spread the love

Oleh : Sayyida Marfuah

(Praktisi Pendidikan dan Member Akademi Menulif Kreatif)

Harta yang paling berharga adalah keluarga

Istana yang paling indah adalah keluarga

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga

Mutiara tiada tara adalah keluarga

Penggalan lirik lagu “Harta Berharga” legendaris sarat makna di atas pernah tenar di era 1990an dan menjadi soundtrack sinetron Keluarga Cemara, diciptakan oleh Arswendo Atmowiloto dan pertama kali dibawakan oleh penyanyi kondang Novia Kolopaking. Sebuah sinetron yang menggambarkan bahwa keluarga adalah harta yang paling berharga.

Begitu pentingnya keberadaan keluarga, sampai-sampai Majelis Umum PBB pun pada tahun 1993 memproklamasikan Hari Keluarga Internasional pada 15 Mei lewat resolusi A/RES/47/237 (Sripoku.com).

Tak terkecuali di negeri kita tercinta Indonesia, Hari Keluarga Nasional diperingati tiap tanggal 29 Juni. Peringatan Harganas didasarkan pada perjuangan menuju kemerdekaan yang mengharuskan mayoritas kepala keluarga zaman dulu meninggalkan keluarganya menuju medan perang. Berdasarkan penelusuran sejarah, Belanda secara de facto baru menyerahkan kedaulatan bangsa Indonesia sepenuhnya pada 22 Juni 1949. Seminggu kemudian, tepatnya 29 Juni 1949, para pejuang baru kembali ke keluarganya masing-masing. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi landasan bagi peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas), yakni hari kembali ke keluarga (DetikHealth.com).

Gempita menyambut peringatan Hari Keluarga Nasional begitu luar biasa. Pemerintah melalui Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menetapkan puncak seremoni peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang jatuh pada 6 Juli 2019 akan dipusatkan di Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dengan tagline ‘Hari Keluarga, Hari Kita Semua’ dan slogan ‘Cinta Keluarga, Cinta Terencana’. Bahkan Gubernur Kalimantan Selatan H. Sahbirin Noor mengajak seluruh masyarakat Kalsel untuk bergerak dalam menyukseskan perhelatan Harganas 2019 mendatang.

Berbagai kegiatan akan digelar dalam mewarnai peringatan Harganas, baik pra puncak peringatan maupun pasca acara. Di antaranya Festival  Penggalang Ceria, GenRe Edu Camp, One Stop Service pelayanan untuk anak anak, One Day for Children untuk anak-anak terlantar. Dan beberapa kegiatan seminar di antaranya tentang kependudukan dan perkawinan anak yang mencapai 30 persen di Kalimantan Selatan hingga lomba pencegahan perkawinan anak. Selain itu, untuk meningkatkan kesertaan peserta KB jangka panjang, diadakan pelayanan KB gratis untuk pasangan usia subur. Gelanggang dagang juga ikut digelar, dengan menghadirkan kelompok UPPKS dan UMKM, dengan diikuti ratusan unit Usaha Kecil Menengah (UKM) (Fajar.co.id).

Tujuan dari peringatan Harganas ini adalah untuk meningkatkan kesadaran dan peran serta masyarakat terhadap pentingnya keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera dalam kerangka ketahanan keluarga, dan meningkatkan pemahaman masyarakat dalam penerapan 8 fungsi keluarga yang terdiri dari agama, cinta kasih, perlindungan, ekonomi, pendidikan, reproduksi, sosial dan budaya, serta lingkungan. Kemudian dapat mewujudkan penerapan 4 pendekatan ketahanan keluarga, yakni keluarga berkumpul, keluarga berinteraksi, keluarga berdaya, serta keluarga peduli dan berbagi.

Momentum Untuk Menderaskan Paham Gender

Jika kita cermati dari berbagai kegiatan yang akan digelar di acara tersebut, serta memperhatikan tujuan pelaksanaannya, sebenarnya peringatan Harganas_baik nasional maupun internasional_menjadi momentum untuk menderaskan paham gender. Ide kesetaraan gender, termasuk pemberdayaan perempuan jelas merusak bangunan keluarga muslim.

Gangguan dan kekacauan yang melanda ribuan unit keluarga dari Barat hingga Timur (disrupsi keluarga) saat ini_termasuk Indonesia_menjadi bencana kemanusiaan akibat arus kapitalisasi bertopeng pemberdayaan perempuan. Di era disrupsi ini wajah asli kapitalisme semakin terlihat. Keserakahannya telah menjadikan kaum ibu tereksploitasi secara massal. Ide kesetaraan gender penuh racun yang bersenyawa dengan keserakahan kapitalisme selalu abai terhadap dampak sosial pada kehidupan anak, keluarga dan masyarakat secara keseluruhan (Muslimahnews.com).

Mainstream kesetaraan gender yang telah dilakukan secara sistemik pada akhirnya telah merusak tatanan rumah tangga tidak hanya di negeri Muslim yang dijadikan target penghancuran. Data statistik menunjukkan liberalisme dan individualisme yang membidani ide gender telah merapuhkan kehidupan keluarga. Gagasan kesetaraan gender bak pil pahit bersalut gula. Setelah gulanya habis tinggal pahitnya saja tentunya. Sekilas kelihatan manis, tetapi sebenarnya berbahaya, karena merugikan perempuan, keluarga dan generasi.

Sebagai misal, atas nama pemberdayaan ekonomi perempuan, kesehatan reproduksi perempuan, peningkatan partisipasi politik perempuan dan program-program ’manis’ lainnya, para aktifis gender menyuntikkan pemikiran-pemikiran beracun untuk membius kaum perempuan hingga lupa pada jatidirinya sebagai muslimah, serta lupa pada komitmennya terhadap keluarga dan tugas mempersiapkan generasi.

Upaya mereka untuk mencapai keberhasilan pemberdayaan ekonomi perempuan harus disertai dengan keberhasilan menanamkan pemikiran-pemikiran tentang kesetaraan gender yang dipandang akan membuat perempuan menyadari keberadaan dan eksistensi dirinya. Inilah sebabnya mengapa paket program pemberdayaan ekonomi perempuan tidak akan pernah terlepas dari program pemberdayaan perempuan lainnya sebagai bagian dari pengarusutamaan gender.

Sebagaimana kita ketahui, disamping bertentangan dengan aqidah Islam, konsep kesetaraan gender tidak akan pernah memajukan kaum perempuan/ibu atau menambah kesejahteraan keluarga, alih-alih mewujudkan ketahanan keluarga, yang terjadi justru menjerumuskan kaum perempuan dan keluarga ke dalam perangkap liberalisme yang sarat dengan kerusakan.

Islam Satu-satunya Solusi bagi Ketahanan Keluarga

Ide-ide kesetaraan gender secara empiris telah merapuhkan bahkan bisa meruntuhkan bangunan keluarga, juga merusak perempuan dan generasi. Gelombang disrupsi hebat yang mengguncang bangunan keluarga di negara-negara industri sekular juga semakin dirasakan gejalanya oleh negeri-negeri Muslim. Oleh karena itu, merupakan sebuah keniscayaan bagi umat Islam untuk kembali pada ajaran agamanya dan terus mengkampanyekan visi politik Islam dalam melestarikan keturunan manusia dan memelihara keluhuran peradaban Islam. Dari sinilah Islam melalui perisainya_Khilafah_akan mampu membangun ketahanan keluarga di era badai disrupsi dan tuntutan materialistik yang kian melanda keluarga-keluarga Muslim.

Pemberdayaan utama perempuan, dalam pandangan Islam, adalah optimasi perannya sebagai penjaga peradaban dan pendidik generasi masa depan. Dalam Muqaddimah Dustuur bab Nizhaam al-Ijtima’i dinyatakan: “Hukum asal seorang wanita dalam Islam adalah ibu bagi anak-anak dan pengelola rumah suaminya. Ia adalah kehormatan yang wajib dijaga”

Paradigma Islam sangat berkebalikan dengan Kapitalisme. Islam justru memelihara hubungan kemanusiaan yang luhur antara peran perempuan dan kualitas generasi. Islam menjamin fitrah peran keibuan tetap efektif di masyarakat dan memastikan keberlanjutan lahirnya generasi umat terbaik dengan dukungan sistem pendidikan, sosial dan ekonomi dari peradaban Islam. Hukum-hukum Islam inilah yang memastikan bangunan keluarga tetap kokoh demi terwujudnya ketahanan keluarga dalam ridho Allah.

Wallaahu A’lam bi ash-Shawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *