Bahasa dan Kata di Kandang

Spread the love

Judul Buku: Aviarium

Penulis: Hasan Aspahani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Fiksi, Literasi dan Puisi
Ukuran: 13,5x20cm
Tebal: 92 halaman (46 Judul Puisi)
Harga: Rp50.000
ISBN: 978-602-062-384-9
Resentator: Aqila Ghania Syaakirah

Muslimahtimes.com – Puisi adalah salah satu karya sastra yang paling digemari banyak orang, selain dari bahasa, diksi atau cara menyampaikannya yang indah, dalam, penuh perasaan dan tenaga, tetapi juga memiliki hikmah di balik setiap untaian kata yang disajikan. Setiap orang mempunyai ciri khas berbahasa yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kita perlu membaca banyak puisi sebagai contoh untuk dijadikan referensi, agar kita juga bisa menciptakan ciri bahasa khusus serta istimewa dalam setiap tulisan kita.

Membuat karya puisi tidaklah mudah, membuatnya itu menguras tenaga dan pikiran, apalagi untuk pemula. Buku ini sangatlah cocok bagi mereka yang sedang mempelajari gaya bahasa dalam menulis puisi, yaitu antologi puisi berjudul “Aviarium” yang ditulis oleh Hasan Aspahani.
Hasan Aspahani adalah salah satu penyair di Indonesia yang berasal dari Kalimantan Timur. Karyanya berupa sejumlah puisi, esai, dan buku tentang menulis puisi. Buku “Aviarium” ini adalah salah satu antologi puisi dari banyaknya buku kumpulan puisi Hasan Aspahani.

Judul buku ini sangatlah tidak biasa seperti judul buku kumpulan puisi yang lainnya, “Aviarium” mempunyai makna yang berarti tempat dimana burung disimpan atau bisa dibilang aviarium adalah kandang burung yang diambil dari bahasa latin.

Buku ini memiliki ketebalan yang sangat tipis, sehingga menjadi buku yang fleksibel, tidak berat, dan mudah dibawa kemana-mana. Tentu saja, walaupun buku ini tipis, sampul bukunya tetap tebal sehingga tidak mudah rusak ataupun terlipat. Sedangkan untuk tulisan di dalamnya ditulis dengan font yang enak dan mudah dibaca, namun ukurannya lumayan kecil. Sehingga bagi mereka yang mempunyai masalah penglihatan akan sedikit sulit tanpa adanya bantuan penglihatan, seperti kacamata, soflents, dll.

Sampul buku ini terdapat gambar kandang burung sesuai judulnya “Aviarium”. Di dalam kandang tersebut berisikan sebuah lemari persegi panjang dan sebuah tangan manusia yang memegang kandang tersebut. Jujur, setelah beberapa waktu saya berpikir, saya tetap tidak bisa menebak filosofi di balik desain tersebut. Mengapa ada lemari di dalam kandang tersebut? Saya tidak tahu. Mungkin saja, ini hanyalah sebuah desain. Tapi ada kemungkinan ini tidaklah sekadar desain, melainkan ada sebuah kisah sehingga terbentuknya ilustrasi seperti ini.

Dalam buku ini, terdapat 46 judul puisi di dalamnya. Puisi-puisi ini mengajarkan kepada kita banyak pelajaran dalam untaian kata, kalimat dan paragraf. Buku seharga Rp50.000 dengan 46 judul puisi di dalamnya sangatlah cukup, bahkan lebih dari cukup untuk memberi kita banyak inspirasi dalam mengkreatifkan struktur bahasa dalam menulis puisi.
Di buku ini, tidak hanya berisikan tentang kumpulan puisi saja, tetapi juga ada sesi “Pertanyaan untuk Teka-Teki Silang yang Tak Pernah Kau Temukan di Koran Akhir Pekan Itu” (halaman 38). Di bagian ini, teka-teki tersebut dipenuhi dengan majas dan kombinasi kata-kata ganda yang unik, sehingga bukannya menjadi sebuah soal yang harus dipecahkan di koran akhir pekan. Justru, teka-teki ini menjadi kalimat-kalimat sastra yang indah untuk dibaca dan membuat otak kita berpikir untuk beberapa saat atau sampai terbawa tidur pun tetap terbayang-bayang teka-teki tak terpecahkan itu.

Kelebihan dari puisi-puisi Hasan Aspahani adalah puisi-puisinya selalu mempunyai struktur bahasa yang langka, bisa dibilang tidak sering dijumpai di media mana pun. Selain itu, puisinya selalu ditulis dengan makna yang dalam dan sering menggunakan objek dan tempat yang digunakan atau didatangi oleh manusia sehari-hari. Isi dari puisi-puisi Hasan Aspahani di buku ini luar biasa, contohnya salah satu bagian dari puisi yang berjudul “Yang Menjebakmu dengan Tanggal Kedaluwarsa” (halaman 52).

PERGILAH, pergilah dari hidupmu yang terlalu
mudah seperti toserba yang tak berhenti menawarkan
potongan harga. Pergilah dari hidupmu

yang terlalu bising, seperti toserba dengan
pramuniaga yang mengoceh tentang hadiah yang membuat
kau membeli apa yang tidak kau perlukan. Pergilah

dari hidupmu yang semakin buru-buru. Lihat, apa
yang kau tumpuk di keranjang belanjamu itu? Makanan
siap saji yang menjebakmu dengan tanggal kadaluwarsa

Puisi ini sangat berhubungan dengan banyak orang. Khususnya saya sendiri, ia menjelaskan tentang bagaimana hidup itu mudah, bising, dan terburu-buru. Maka, perlu ditanamkan dalam hati kita bahwasanya hidup itu sulit, ia membutuhkan waktu dan perjalanan yang dihiasi dengan kejadian kreatif yang memusingkan. Di puisi ini, diibaratkan seperti seseorang yang sering kali tergoda oleh makanan siap saji yang ditawarkan oleh kasir di minimarket dengan harga yang memanjakan dompet, padahal aslinya setelah dibeli, dicek lagi. Ternyata makanan tersebut sudah kadaluwarsa.

Selain itu, masih banyak puisi-puisi Hasan Aspahani yang menjelaskan tentang berbagi, mimpi, masa kecil, perjuangan, bahasa, bahkan ada yang menjelaskan tentang politik, pahlawan, dan peristiwa buruk yang pernah terjadi.

Dari 46 judul puisi dalam antologi “Aviarium” Hasan Aspahani ingin memfokuskan kepada kejadian dan perasaan yang ia rangkai tentang Jakarta. Tentang kompilasi atas beberapa fenomena yang terjadi di Jakarta. Baik itu, Jakarta dulu atau Jakarta sekarang. Lebihnya lagi, buku ini mengajarkan ada banyak sekali cara menulis puisi secara tidak langsung. Bagaimana kita menulis puisi tidak harus dengan satu pandangan.