Bencana dan Dosa Manusia

Spread the love

Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S

(Aktivis Dakwah dan Penulis Buku)

MuslimahTimes.com – Baru saja berganti tahun, negeri ini sudah dirundung nestapa. Bumi Sulawesi Barat berguncang, mengakibatkan banyak bangunan roboh dan rata dengan tanah. Beberapa orang juga tewas tertimpa reruntuhan bangunan. Tak hanya itu, Kalimantan Selatan diselimuti banjir akibat intensitas hujan yang lebat dan terus-menerus. Akhirnya ribuan orang terpaksa mengungsi. Belum berhenti sampai di situ, wilayah Puncak, Bogor, diterjang banjir bandang dan Ciamis mengalami pergeseran tanah sehingga beberapa rumah roboh dan jalanan terbelah.

Sungguh rentetan peristiwa tersebut menorehkan duka di hati kita semua. Betapa tidak, di tengah kepungan wabah Covid-19 yang tak kunjung usai, bencana datang bertubi-tubi. Jelas hal tersebut menambah derita yang kian menjadi-jadi.

Oleh karena itu, saatnya kita bermuhasabah atas segala bencana yang ada. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang mampu memetik hikmah dari setiap peristiwa yang menimpa. Patutlah kita merenung, adakah hubungannya antara bencana dan dosa manusia?

Ya, ternyata keduanya berkorelasi secara pasti. Allah Swt sendiri yang menjawabnya lewat firmannya dalam surat Ar-Rum ayat 41:

 “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Oleh karena itu, tak layak seorang Muslim melepaskan diri dari muhasabah ketika terjadi bencana, melainkan hanya menganggap bahwa bencana merupakan fenomena alam belaka. Justru adanya muhasabah akan menjadikan kita menjadi lebih baik dan lebih peka menangkap maksud di balik segala peristiwa. Dengan itulah kelak kita berbenah diri menjadi insan yang lebih baik di mata Allah Sang Pencipta manusia dan alam semesta, serta mewujudkan kehidupan yang Allah ridai.

Maka, sikap kita semestinya tak hanya memperbaiki diri sendiri, tapi juga berkontribusi dalam mengubah sistem kehidupan yang ada menjadi sistem ideal yang sesuai koridor syariat. Sebab sejatinya, teguran Allah lewat bencana tak cukup hanya disikapi dengan perbaikan individu. tetapi juga perbaikan sistemik. Mengapa? sebab kerusakan yang saat ini terjadi pun tak lepas dari penerapan sistem kehidupan yang ada, yakni sistem yang memfasilitasi keserakahan manusia untuk menguasai sumber daya alam yang ada.

Lihat saja, eksploitasi sumber daya alam besar-besaran yang dilakukan oleh swasta dan asing di negeri ini, telah menghilangkan keberadaan hutan di Kalimantan perlahan tapi pasti. Padahal hutan merupakan daerah resapan air yang efektif. Begitu juga dengan wilayah puncak, keserakahan para pemilik modal demi meraup pundi-pundi rupiah dengan menjadikannya tempat wisata, telah menghilangkan fungsi resapan air di wilayah pegunungan tersebut. Akibatnya banjir melanda.

Sistem kapitalis yang diterapkan di negeri ini telah memberangus kepedulian manusia terhadap dampak lingkungan yang akan terjadi ketika mengeksploitasi alam, sebaliknya hanya profitlah yang menjadi tujuan utama. Begitulah karakter khas kapitalisme, mengedepankan kepentingan di atas segalanya.

Padahal dalam pandangan Islam, sumber daya alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak haram hukumnya di privatisasi. Negaralah yang wajib mengelolanya dan mengembalikan hasilnya untuk kemaslahatan rakyat. Tak hanya itu, pembangunan apapun harus mempertimbangkan lingkungan. Jangan sampai merusaknya apalagi menimbulkan dharar (bahaya) bagi masyarakat di kemudian hari.

Sayangnya aturan Islam tersebut hanyalah konsep belaka yang tidak terimplementasi dalam sistem kehidupan hari ini. Maka alangkan wajar jika kerusakan demi kerusakan terus terjadi, bencana demi bencana datang silih berganti. Ya, sebab dosa manusia terus ditorehkan di atas bumi pertiwi. Oleh sebab itu, tangkaplah hikmah di balik bencana, bahwa Allah sedang menegur kita. Kembalilah pada fitrah, yakni mengatur negeri ini berdasarkan syariatNya agar tercipta baldatun toyyibatun wa robbun ghofur. Bukankah Islam adalah rahmat bagi semesta alam? lantas mengapa masih enggan menerapkan seluruh aturan Islam dalam kehidupan?

Allah Swt berfirman:
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (TQS.Al-A’raf:96)