Berbagi Suami

Spread the love

“Mas pulang jam berapa hari ini?”
“InsyaAllah nanti pulang agak sore.”
“Beneran ya. Jangan pulang mepet maghrib ya. Aku masak istimewa hari ini. Insyaallah mau bikin pesmol ikan bumbu kuning.”
“Iya sayang, insyaallah mas usahakan.”
Seperti biasa, kucium tangan suamiku sebelum berangkat ke kantor. Dia pun
berangkat dengan motor bebeknya. Suamiku, yang telah kupilih menjadi imam dalam rumah tanggaku. Qowam bagi anak-anakku. Lancarkanlah semua urusannya hari ini ya Allah.

Sesiang ini aku pun sibuk dengan anak-anak. Bermain dengan mereka adalah hal langka yang bisa kulakukan sebelum ini. Ya, sebelum akhirnya aku resign dari
pekerjaan fulltime di sebuah kantor swasta di kota Jakarta dengan gaji sudah diatas empat juta, posisi HRD. Sebuah pilihan yang tak semudah dibayangkan orang. Dan bermain dengan anak-anak adalah –sekali lagi- hal istimewa buatku.
Anak-anak sudah selesai mandi dan makan. Jam dinding sudah menunjuk pukul lima sore. Mas Galih kemana ya kok belum pulang. Tiba-tiba ponselku berteriak.
“Sayang, maaf ya. Ini barusan ada beberapa mahasiswa yang datang konsultasi. Tanggung. Mereka mau sidang. Ada satu diantaranya kalau tidak segera sidang minggu depan bakal kena drop out. Kamu nggak marah kan aku pulang telat?”
“Hmm, iya deh. Gapapa. Tapi besok tolong luangkan waktu pulang lebih awal
ya.”
“Iya insyaAllah.” Meski agak dongkol, tapi ya sudah lah.

Keesokan harinya.

Harapan itu selalu ada. Aku ingin sekali suamiku bisa menemani anak-anak
bermain di rumah setiap sore. Melihat mereka bisa riang bermain itu sungguh membuat hati ini tentram. Senang, karena suamiku akan bisa menyediakan waktu khusus untuk anak-anak, bukan dengan waktu sisa, tenaga sisa.
Teleponku kembali berdering. Di sore yang mirip dengan kemarin.
“Hallo assalamu’alaikum. Sayang, maaf banget ya. Ini masih ngeprint laporan
pertanggungjawaban proyek yang sama Pak Ade itu. Besok diminta sama Kepala
Departemen. Mungkin nanti pulang malam. Maaf ya. Jadi nggak enak. Sudah terlanjur janji pulang awal ternyata malah lebih malam.”
“Katanya pulang cepet. Ugghh!” rasanya ada batu yang ditimpakan ke dada.
“Maaf..” kata suamiku dari seberang.
Semoga ada keluasan hati untuk sekadar memaafkan. Sudah, bukankah suamimu
ada urusan lain yang juga penting sekaligus mendesak? Kata hatiku yang lain.

Senja kala itu semakin berjelaga. Memerah. Waktu sholat maghrib sebentar lagi habis. Suamiku belum juga pulang. Ditelepon berkali-kali juga tidak diangkat. Ya Allah, suamiku ada di mana? Aku menunggui suamiku di kursi tamu. Sambil kurebahkan tubuhku. Rasa penat seharian berkejaran dengan waktu dan berjibaku dengan pekerjaan
rumah yang seperti tak ada habisnya membuatku tanpa sadar terlelap.
“Sayang…sayang…bangun. Kok tidur di sini.”
“Oh mas, baru pulang jam segini. Kemana aja?” ku ucek mataku yang masih
terasa berat untuk dibuka. Jam dinding menunjuk pukul sembilan.
“Maaf sayang,” suamiku terduduk di lantai, di samping sofa, mendekat ke
tubuhku.
“Tadi kutelepon gak diangkat? Lalu kutelepon lagi sudah gak aktif. Aku
nungguin dari tadi sore.” Aku sebal.

“Tadi ada rapat untuk persiapan akreditasi. Maaf, mas gak bawa charger. HP mati sejak sore. Mau nelpon kamu gak bisa.”
Aku tidak berkata apa-apa kepada suamiku. Makan malam di meja makan pun tanpa sepatah kata pun dariku.
“Kamu marah?”
“Mas, aku kecewa. Kenapa sih mas nggak bisa meluangkan waktu buat anak-
anak? Sehari saja mas tinggalkan pekerjaan tepat jam kerja selesai. Kan jam kerja mas cuma sampai jam empat sore?”Suamiku diam. Lalu menyeruput air putih.
“Maaf.”
“Tiap hari cuma maaf terus. Ga ada kata lain apa? Sebel deh.”
“Ya trus gimana? Mas kan kerja.”
“Kerja, kerja, kerja terus! Kapan ada waktu buat kami? Sepulang kerja pun mas sudah kecapekan dan selepas adzan isya’ sudah tertidur. Kapan bisa main sama anak-anak?”
“Kan Sabtu-Minggu bisa?”
“Bukan seperti ini yang kuinginkan, mas. Kasihan anak-anak! Mereka hanya
mendapat waktu sisa dari mas. Aku ingin setiap hari anak-anak bisa bermain dengan mas meskipun cuma sebentar, terutama saat sore hari ketika mereka masih fresh untuk belajar dan bermain. Mereka masih balita. Saat mas buru-buru berangkat kerja jam enam di pagi hari, anak-anak masih tidur. Dan, ini nggak seperti yang kubayangkan.
Aku resign dari pekerjaan berharap bisa banyak berkumpul denganmu dan anak kita, banyak waktu luang, bisa cerita banyak hal tentang apa yang udah terjadi seharian.
Kamu terlalu sibuk. Nggak ada waktu untuk kami.”
“Kan mas kerja untuk keperluan kita juga, Sayang.”

“Ah, untuk kita atau untuk kepentingan mas sendiri? Sehari saja dulu tolong
luangkan waktu pulang kerja lebih awal. Bisa nggak?”
“Iya deh. Maafkan aku. Insyaallah besok aku pulang lebih awal.”

Senyap. Dingin menyeruak di luaran. Langit pun tanpa ditemani bintang-
gemintang. Yang ada, hanya suara angin yang sesekali mendayu. Menemani hati yang merindui sepatah kata saja. Janji.

“Hallo, oh mbak Anis. Gimana kabar keluarga? Sehat-sehat kan?” suamiku
nampak sedang menerima telepon. “Apa? Oh butuh berapa? Memangnya sudah sekolah? Dimana? Oh iya. Ada insyaallah. Hari ini? Oh iya gak papa kok. Bisa hari ini ditransfer. Iya wa’alaikumsalam.”
Tut..tut..
“Telepon dari siapa mas?”
“Ini mbak Anis di Papua.”
“Sepertinya tadi ada ngomongin soal transfer. Apa? Ada yang sedang butuh
uang ya?”
“Ehm, iya dek.”
“Berapa?”
“Lima ratus.”
“Oh…” aku pun diam. Suamiku, dia selama ini selalu menjadi tempat mengadu saudara-saudaranya jika butuh uang. Dia pun tak pernah menolaknya, tak bisa menolak, meski bagaimana pun kondisi keuangan kami saat itu. Tapi kenapa ya, terkadang hal itu terasa agak berat, terutama ketika kondisi keuangan kami pas-pasan. Belanja harian kami pun masih harus memilih menu yang sederhana. Daging sapi masih menjadi menu tahunan bagi kami. Namun, arghhh…bukankah aku harus terus bersyukur dengan semua nikmat rizki ini. Dan juga bersyukur suamiku menjadi tempat saudara-saudaranya meminjam uang karena memang dianggap lebih mampu. Ah, sudahlah!

“Dek, Mas mau cerita satu hal. Ini berkaitan dengan ibu di kampung.”
“Kenapa mas?”
“Ini ada hubungannya dengan keluarga mbak Anis juga.”
Mbak Anis lagi? Batinku. “Oh iya mas ada apa dengan ibu dan mbak Anis?”
“Sudah lebih dari sepuluh tahun ibu dan mbak Anis tak pernah bertemu. Mbak
Anis anak tertua di keluarga mas, ikut merasakan kondisi sulit ibu dan bapak,
khususnya sewaktu dulu bapak kerja serabutan, belum punya sawah sendiri. Sejak mbak Anis lulus SMP dia diangkat anak oleh seseorang kemudian disekolahkan lebih lanjut dan diajak ke Papua sampai sekarang. Hingga mbak Anis menikah pun ibu dan bapak
tidak mampu hadir kesana karena kendala ekonomi. Sekarang, dengan kondisi punya enam anak serasa tambah berat mbak Anis untuk sekadar bertemu ibu, untuk birrul walidain. Sedih, mendengar ibu mengeluh ingin sekali menengok keluarga mbak Anis
meskipun cuma sebentar. Kamu nggak keberatan kan kalau mas membantu ibu?”
“Memangnya mas punya uang? Kan bekal untuk kesana butuh uang tak sedikit.”
“Oh, kapan hari itu sebenarnya mas dapat rezeki dari kantor. Dapat bonus dari salah satu proyek.”
“Kok mas nggak cerita soal bonus itu?”
“Ya Mas memang belum cerita ke kamu. Mas dapat bonus sepuluh juta.
Insyaallah cukup untuk membantu ibu.”
“Semuanya untuk ibu?” tanyaku. Tiba-tiba suaraku terdengar serak.
“Sayang, rejeki kita ada sendiri nanti, insyaallah!”
“Oh…,” lantai marmer menjadi lawanku beradu pandang. Uang segitu cukup
untuk beli perabotan rumah dan dapur kita, lengkap.

“Kamu kenapa?”
“Ah nggak kok. Nggak papa,” batinku berkecamuk. Entah apa yan terjadi di
dalam sana. Namun rasanya semakin berat.

Pada kesempatan lain, di teras rumah. Mbak Wanti, orang yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri datang ke rumah sekadar silah ukhuwah. Dia guru ngajiku.
“Kenapa ya Mbak, suamiku itu sepertinya selalu mendahulukan kepentingan orang lain dan saudaranya, sedangkan aku dan anak-anak dinomorduakan.”
“Oh,” mbak Wanti tersenyum, kemudian tertawa kecil. “Kita menikah itu
memang sepaket.”
“Sepaket? Maksud Mbak?”
“Ya sepaket. Paket lengkap malah. Sepaket dengan kesibukannya. Sepaket
dengan keluarganya. Menikah itu berbagi, bukan sekadar memiliki.”
Kekata mbak Wanti benar-benar menusuk ulu hati. Makjleb!
“Bukan berarti kalau suami sibuk bekerja kemudian dikatakan tidak peduli
kepada keluarga kan?”
“Iya Mbak. Cuma, mencari waktu untuk ngobrol saja masih susah.” Aku
nyengir.
“Ya dicoba dulu lah. Bicarakan lagi dengan suami bagaimana solusi terbaiknya. Sehingga kalian berdua punya waktu terbaik untuk anak-anak. Kalau tentang keluarga besar suamimu, justru Mbak berpikir lain. Harusnya kamu bersyukur mendapat seorang
suami berhati mulia. Jarang-jarang lho ada orang yang pemurah seperti suamimu. Dia orang yang ringan hatinya dalam membantu orang, dan tidak takut jatah rezekinya diambil orang lain.”
“Betulkah demikian Mbak Wanti? Tapi terkadang aku merasa dongkol Mbak.
Selalu saja kepentingan orang lain yang didahulukan.”

“Ya mungkin masih dimaklumi kamu berpikir begitu. Tapi coba deh, berpikir
dari sudut pandang yang berbeda. Kamu diberikan nikmat lebih dari Allah, rezeki yang lancar dan dimudahkan. Kebutuhan cukup bahkan berlebih. Jadi ya harusnya bersyukur.
Dan kepada suamimu, bersyukur banget kamu punya suami sholih dan pemurah. Karena di zaman sekarang yang serba mahal dan serba butuh uang, tak banyak orang seperti itu.
Dia berusaha memenuhi semua kebutuhan keluarga kecilmu dengan tetap memuliakan ibunya. Bukankah itu sebuah anugerah dari Allah.”
“Begitu ya Mbak?”
“Yakin! Insyaallah tak ada niat buruk dari suamimu.”
Aku masih diam.
“Kok malah bengong? Nawal… Nawal. Kamu cemburu ya?”
“Cemburu? Apa iya?”
“Sudah. Sana pulang, temui suamimu. Dia sudah menunggu calon bidadari
surganya.”
Apa iya aku cemburu? Mungkin memang benar, aku cemburu. Cemburu kepada
kebaikan akhlaq suamiku. Cemburu kepada kebaikan hatinya. Dia yang tetap berusaha memuliakanku tanpa melupakan ibunya, kami perempuan yang disayanginya.
[]
Biodata Singkat Penulis :
Emma Lucya Fitrianty. Ibu dua anak, Naira Asfa Kamila (3 tahun) dan Abdullah
Muhammad Arsyad (2 tahun) saat ini berdomisili di Bogor. Beberapa tulisannya yang dibukukan:
 “Lelaki Hermaprodit” (kumpulan Cerpen Islami terbitan Al Azhar Fresh Zone
Publishing),

 Chickensoup “Masih Ada Jalan” (dalam antologi kisah dakwah bertajuk Nyala-
Nyali Dakwah di Penjuru Negeri terbitan Al Azhar Press),
 Storycake “20 Hari Dikejar Cinta” (dalam buku #NikahAtauPutusinDia bersama
@LukyRouf & Friends terbitan Al Azhar Press),
 Cerpen “Ketika Mas Gigih Datang Lagi” (dalam buku “White” Inspired From
True Events bersama Nafiisah FB & Rerencangan terbitan HatiMedia),
 Buku Puzzle Dakwah bareng mbak Nurisma Fira dkk terbitan Irtikaz,
 Buku nonfiksi “Remaja 24 Karat” terbitan Al Azhar Press juga.
Cerpen ‘Aku Lesbi??!’ pernah menjadi nominator Lomba Cerpen dan Essai se
Malang Raya oleh Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang. Selain itu ada tulisan indie berupa cerpen “Cermin Retak” (dalam antologi cerpen Islami bertajuk Cinta Bernilai Dakwah terbitan Forum Aktif Menulis (FAM)) dan novel duet
“Dua Panji”.
Untuk menambah ukhuwah, sharing informasi dll, silahkan berkunjung di FB :
Emma Lucya Fitrianty atau blog www.emmakaze.wordpress.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *