Berlutut Tapi Malah Semrawut

Spread the love

Oleh. Fathiya Puti Khaira

(Siswi SMA Durrotul Ummah Tangerang)

MuslimahTimes.com–Pandemi Covid-19 yang terus saja berkesinambungan membuat banyak orang mengalami kerugian bahkan kehilangan penghasilan. Tak jarang, banyak di antara para pekerja jalanan atau pedagang asongan bertekad baja yang siap menerobos rambu-rambu peraturan dari pemerintah demi sesuap nasi untuk keluarga tercinta. Di sisi lain, konon katanya para pembesar tanah air tengah menggempur habis-habisan tenaga dan waktunya demi memenuhi kebutuhan rakyat, salah satunya dengan pemberian bansos alias bantuan sosial.
Ada banyak jenis bansos yang diberikan oleh pemerintah, di antaranya Bantuan Sosial Tunai (BST) yakni bantuan berupa uang yang diperuntukkan kepada keluarga miskin, tidak mampu, dan rentan terkena dampak wabah Covid-19, Program Keluarga Harapan (PKH) untuk memenuhi kebutuhan dasar ibu hamil dan anak usia 0-6 tahun, Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), bantuan untuk para penyandang disabilitas, dan masih banyak lainnya. Bantuan untuk disabilitas, tampaknya kini agak sulit dideteksi oleh masyarakat.

Namun pada faktanya, bantuan untuk para disabilitas ini benar-benar ada, bahkan sudah terjadi penyunatan anggaran di dalamnya. Dikutip dari Bantennews (2/8/2021), “Bantuan sosial yang diberikan untuk penyandang disabilitas, diduga disunat oleh oknum pendamping di Kota Serang. Pasalnya, dari besaran bantuan sebesar Rp3,6 juta, penerima manfaat hanya menerima sebagian atau tidak sama sekali.”
Pencairan dana sudah sampai pada tahap ke empat, namun banyak penyandang disabilitas yang baru mengetahui hal ini di tahap ke dua, ke tiga atau ke empat.

Bansos layaknya sebuah permata yang harus disembunyikan dari banyak pasang mata lelah rakyat Indonesia. Harus ditutupi, dijaga, dan disimpan rapi agar tak diincar keberadaannya. Namun jika kita telaah kembali, bansos adalah uang rakyat yang dipungut oleh pemerintah, agar diolah dan disalurkan kembali untuk rakyat dengan tujuan mampu menyejahterakan rakyatnya. Tapi ternyata, bergepok-gepok uang telah menggelapkan mata penguasa, menulikan telinganya, dan menebalkan mukanya akan kepayahan rakyat di sekitarnya.

Dalam berita tersebut juga dituliskan, “Yudha (kakak dari penyandang disabilitas) mengatakan bahwa petugas Dinsos Provinsi Banten yang memberitahukan hal tersebut tidak terlalu kaget. Pasalnya, petugas mengaku hal tersebut juga terjadi ke beberapa penerima manfaat lainnya.”

Ini membuktikan, bahwa penyalahgunaan anggaran bansos kerap terjadi di Banten, apalagi Indonesia. Dapat kita saksikan koruptor-koruptor tenar yang wajahnya sering melalang buana di media. Mereka kaya, tapi mereka maruk harta. Lalu, apa kabar orang-orang kecil di pinggiran kota dan kabupaten? Mereka susah, payah, lelah, hingga berakhir pasrah. Mereka yang pegawai swasta, jadi pengangguran karena pengurangan pegawai. Mereka yang buruh, di PHK. Mereka yang pedagang, tak ada penghasilan sebab dirazia Satpol PP. Mereka yang usaha, bisnisnya bangkrut. Mereka yang supir angkutan umum, tak ada penumpang maka tak ada penghidupan. Mereka yang bekerja di tempat wisata, kelaparan karena tak ada wisatawan.

Lalu, di kala ada hak bansos, justru diambil diam-diam oleh oknum pemerintah tanpa tahu malu. Bagaimana nasib rakyat negeri ini, Bung?
Masih dari laman berita yang sama, “Kepala Dinsos Kota Serang, Moch Poppy Nopriadi membantah bahwa pihaknya menyalurkan bantuan untuk penyandang disabilitas. Bahkan ia mengaku bahwa di Kota Serang sendiri, tidak ada anggaran bantuan untuk penyandang disabilitas.” Terbukti sudah di mana kesemrawutan dan keambiguan menjadi teman makan sehari-hari rakyat kecil yang tak tahu apa-apa. Cekcok, fitnah, tuduhan, dugaan, dakwaan, bantahan, pencitraan, dan an-an lainnya saling berkompetisi merebut bangku kosong agar selamat dari jeruji penjara dan cercaan netizen yang beredar di mana-mana.

Kita semrawut, kala berlutut pada penguasa yang berasaskan kapitalisme. Life is money menjadi motto hidup sistem saat ini. Penguasa tak peduli kala mereka tertawa, banyak orang di bawah sana yang menangis bercucuran air mata. Banyak yang berdarah, berteriak, bahkan menghujat, tapi bagi penguasa itu hanyalah angin lalu saja. Semrawut, bising, tak beraturan, berantakan dan hampir mendekati kehancuran, inilah hasil produksi demokrasi yang sungguh miris untuk dijadikan momen penting dalam sejarah kehdupan. Agaknya, sanubari hati telah menjerit agar semua menjadi lebih baik.

“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada sesama manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapatkan siksa yang pedih” (QS asy-Syura: 42)

Al-Qur’an telah menyatakan dengan gamblang azab bagi orang-orang zalim. Neraka yang panas dan siksanya yang amat pedih telah menanti di ujung jalan bagi manusia yang tak mau patuh pada-Nya, rakus pada dunia, dan tak mampu menerapkan amal saleh dalam hidupnya. Korupsi salah satu bentuk kezaliman, penghianatan, kemunafikan dan kemungkaran. Maka, menjadi keharusan bagi kita umat muslim untuk menumpas habis para koruptor agar tak ada lagi kesemrawutan layaknya saat ini.

Problem solving terbaik adalah Islam, rujukan terbaik adalah Al-Qur’an, dan teladan terbaik adalah Rasulullah Muhammad Saw. Jika kita mengambil semua opsi terbaik, maka kelak atas izin Allah tak ada lagi kesemrawutan dan kesimpangsiuran membahana yang menggelayuti hidup kita. Sudah waktunya bagi kita untuk menyudahi ini semua, lalu menundukkan nafsu demi menjemput rida Allah Yang Satu.