Berulang, Solusi Tepat Untuk Selamat?

Spread the love

Oleh. Hana Rahmawati (Member Kelas Menulis Revowriter Tangerang)

Muslimahtimes – Belum juga mereda kasus covid-19 di negeri kita, grafiknya justru semakin hari semakin memperlihatkan kekhawatiran. Data terbaru jumlah kasus covid-19 hingga 14 september 2020 di Indonesia sudah mencapai 221.523 kasus dengan penambahan 3.141 kasus baru. Hal ini membuat pemerintah segera mengambil kebijakan untuk menekan lonjakan kasusnya. PSBB tahap 2 segera diberlakukan. Tentu saja pro kontra akan terjadi menyambut kebijakan ini. Mereka yang pro disebabkan karena menginginkan wabah ini segera berakhir. Sedangkan mereka yang kontra mengkhawatirkan jalannya roda perekonomian yang kian hari kian melemah.

Pemprov DKI segera menerapkan kembali pembatasan sosial bersakala besar (PSBB) jilid dua selama dua pekan ke depan. Terhitung mulai 14 September hingga 27 September 2020. Ini artinya, berbagai kegiatan baik sektor ekonomi maupun pendidikan akan kembali dilakukan dari rumah. Sebelumnya PSBB jilid pertama telah dilonggarkan pada 5 Juni hingga 2 Juli 20020.

Berbagai hal telah dilakukan oleh pemerintah dan pihak terkait untuk mengatasi laju covid-19 yang kian mencemaskan. Mulai dari PSBB jilid pertama, rapid test para warga, hingga PSBB jilid kedua yang kembali di jalankan. Namun, korona atau covid19 ini belum juga berkurang, grafiknya justru menambah keresahan. Terang saja 3.000 orang perhari menambah kalkulasi perhitungan kasus positif di Indonesia. Belum lagi masalah ekonomi di kalangan masyarakat yang kian hari kian merosot.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau kepala Bappenas Suharso Monoarfa memaparkan jumlah pengangguran di Indonesia meningkat sebanyak 3,7 juta jiwa. Ini adalah salahsatu imbas dari terhentinya kegiatan ekonomi selama pemberlakuan pembatasan sosial guna menekan jumlah persebaran virus. Hal senada juga diungkapkan oleh ekonom IKS, Eric Sugandi. Ia memprediksikan di Indonesia jumlah pengangguran mengalami peningkatan hingga 8-10 persen pada tahun ini jika dibandingkan tahun lalu yang hanya 5,3 persen. (kompas.com, 13 September 2020).

Keadaan seperti ini bagaikan kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Sudahlah dikepung pandemi, ekonomi juga terancam terhenti. Lalu apa yang harus dilakukan agar keadaan kembali pulih serta ekonomi masyarakat terselamatkan?. Inilah PR terbesar pemerintah. Menyelesaikan persoalan yang membuat rakyat resah. Sebab, pemimpin memiliki tanggung jawab besar kepada seluruh aspek yang dipimpinnya dalam keadaan sulit sekalipun.

//Penanganan Lambat Covid-19//

Kasus covid pertama kali ditemukan di Indonesia pada senin 2 Maret lalu. Saat itu presiden mengumumkan dua orang warga Indonesia yang positif terjangkit virus. Sejak itu jumlah kasus terus bertambah hingga hari ini. Sebelumnya, ada statement salahsatu pejabat yang menyatakan bahwa Indonesia ‘kebal’ korona. Pernyataan ini pun terbantahkan sejak ditemukannya kasus covid-19 pertama kali tersebut. Namun, diprediksi bahwa kasus tersebut bukanlah kasus pertama. Menurut Tim Pakar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), virus ini telah memasuki Indonesia sejak minggu ke-3 Januari 2020.

Pernyataan FKM UI tersebut didasarkan pada laporan kasus orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP). Laporan ODP inilah yang kemudian dinilai sebagai kasus pertama sebaran virus secara lokal. Meski saat itu kasus positif di Indonesia telah ditemukan dan sudah ada 50 negara yang melaporkan ke WHO mengenai wabah virus ini di negara-negara tersebut, namun Indonesia tidak segera mengambil kebijakan karantina total atau lockdown. Pemerintah berdalih pertumbuhan ekonomi bisa tersendat apabila Indonesia menerapkan kebijakan lockdown. Meski sejumlah pihak menyayangkan hal ini. (detiknews.com,26 April 2020).

Dengan tidak adanya peraturan karantina total, Indonesia yang saat itu masih menerima kedatangan warga asing, akhirnya harus bersiap menghadapi wabah yang korbannya kian bertambah. Dari 50 kasus perhari, hingga kini menjadi 3000 kasus dalam sehari.

//Islam Menangani Pandemi//

Islam sangat memperhatikan permasalahan kesehatan serta keamanan. Bahkan kesehatan dan keamanan di sejajarkan dengan kebutuhan pangan. Artinya status keduanya adalah sama sebagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Pada masa pandemi, Islam juga akan senantiasa memberikan edukasi preventif dan promotif kepada umat. Islam memerintahkan kepada semua orang untuk bergaya hidup sehat serta bersih, pola makan sehat dan berimbang serra memperhatikan perilaku dan etika saat makan (QS. Al Imran:3).

Dalam Islam, negara diarahkan untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan kondusif. Maka khilafah akan memperhatikan tata kota serta perencanaan ruang yang akan dilaksanakan dengan selalu memperhatikan kebersihan, kesehatan, sanitasi, drainase, keasrian dan sebagainya. Sebagaimana tercermin dalam sabda Rasulullah, ““Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, Maha Bersih dan mencintai kebersihan. Maha Mulia dan mencintai kemuliaan. Karena itu bersihkanlah rumah dan halaman kalian dan janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi” (HR. At Tirmidzi dan Abu Ya’la).

Dalam hal sarana dan prasaran kesehatan, Islam menekankan seorang khalifah untuk amat sangat memperhatikan permasalahan ini. Sebab, pelayanan dan kesehatan berkualitas tidak akan terwujud jika tidak didukung oleh sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. Negara pun menjamin pemenuhan semua kebutuhan peralatan medis serta obat-obatan, menyediakan SDM kesehatan yang kompeten serta menjamin pelayanan kesehatan gratis bagi rakyatnya tanpa diskriminasi. Dan ini semua merupakan tanggung jawab dan kewajiban negara.

Adanya baitul mal berupa pos harta milik negara ataupun umum, memudahkan negara menyediakan kebutuhan saat pandemi melanda. Mereka yang sakit akan ditempatkan di rumah sakit atau tempat karantina darurat yang telah dibangun oleh negara. Mengkarantina total wilayah pandemi menjadi kebijakan khalifah agar virus tidak menyebar keluar wilayah pandemi.

Para ilmuwan akan difasilitasi serta didorong agar segera meneliti vaksin untuk mengatasi pandemi. Serta negara akan segera mengambil langkah bijaksana dalam menyelamatkan laju perekonomian rakyat dengan memanfaatkan sumber daya alam dan pos-pos harta negara dan umum untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat yang tengah mengalami kesulitan akibat pandemi.

Maka sudah seharusnya pemerintah memperhatikan rakyatnya mulai dari masalah kesehatan selama masa pandemi serta ekonomi umat untuk terus bertahan hidup me harapan kebutuhannya. Dan hal ini tidak akan tercipta pada sistem demokrasi hari ini yang meniadakan rasa keimanan dalam hati seorang pemimpin. Hal ini hanya akan terwujud dalam Daulah Islam. Karena keimanan serta rasa takut seorang khalifah kepada Rabbnya yang akan mengarahkan ia mengambil kebijakan-kebijakan yang kelak ia pun bisa bertanggung jawab dihadapan Allah.
Wallahu A’lam.

(Visited 20 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *