Biden Menang, Kaum Muslim Senang?

Spread the love

Oleh: Eka Nurjanah, S.Pd

#MuslimahTimes — Amerika telah membuat rekor baru dengan terpilihnya Joe Biden sebagai presiden dan Kamala Haris sebagai wakil presidennya. Joe Biden menjadi Presiden tertua dalam sejarah pemimpin amerika yaitu berusia 77 tahun dan saat dilantik nantinya berusia 78 tahun. Bukan hanya itu Kamala Haris sebagai wakil presiden perempuan pertama yang berketurunan asia khususnya india dan afrika yang lahir di amerika.

Kemenangan Biden, pada sabtu (7/11) di Pennsylvania menempatkannya diatas ambang 270 suara Electoral College yang ia butuhkan untuk meraih kursi kepresidenan. Ucapan selamat pun mengalir dari berbagai negara seperti Inggris, Kanada, dan Israel (www.antaranews.com)

Nampaknya kemenangan Biden-Haris diharapkan membawa angin segar pada masyarakat amerika khususnya yang beragama islam. Sebab, dalam pidato kampanyenya Biden mampu menghipnotis masyarakat dengan berjanji kepada umat muslim akan memperlakukan agama Islam sebagaimana mestinya. Joe Biden mengungkapkan pernyataan itu, melalui kanal YouTubenya. “Saya berjanji kepada Anda sebagai presiden, Islam akan diperlakukan sebagaimana mestinya, seperti keyakinan agama besar lainnya. Saya bersungguh-sungguh,” kata Joe Biden. secara mengejutkan dalam video tersebut Biden juga mengutip hadist Nabi Muhammad SAW tentang melawan kemungkaran (jakbarnews.pikiran-rakyat.com).

Biden-Haris Harapan Baru Bagi Amerika dan Dunia?

Sebagaimana kita ketahui, bahwa konstelasi dunia saat ini bersifat unilateral (unipolar)  artinya konstelasi dunia sangat ditentukan oleh keberadaan negara adidaya. Dan hari ini, yang menjadi negara adidaya adalah amerika. Maka, penting untuk memperhatikan pula bagaimana perkembangan perpolitikan disana dan mengamati implikasinya terhadap segala aspek kehidupan termasuk di negeri-negeri kaum muslimin.

Tentu, kaum muslimin tak boleh lupa bahwa amerika adalah negara ideologis. Dalam pengaturan politik dalam negerinya mereka menjadikan Kapitalisme sebagai ideologi yang didasarkan pada paham sekuler dengan menerapkan demokrasi dalam pemerintahan dan ekonominya adalah ekonomi liberal. Sehingga, tak cukup sekedar mengenal siapa presiden amerika dengan karakternya namun juga mengetahui sistem yang berlaku didalamnya. Sebagai negara ideologis, amerika berambisi untuk menyebarkan konsepsi negaranya yaitu kapitalisme dengan jalan imperialisme.

Biden sebagai presiden terpilih, ingin menampilkan kembali wajah AS yang tenang dan stabil dan memberi harapan baru bagi nasib umat islam. Sebab, dalam kepemimpinan sebelum Biden yaitu Trump, tidak memihak kepada islam dan menunjukkan sikap lebih frontal. Lalu, apakah terpilihnya Biden mampu membawa angin segar bagi kaum muslim?

Satu konsep yang juga tidak boleh dilupakan oleh kaum muslimin adalah sebaik apapun kepimimpinan seorang pemimpin jika masih menerapkan hukum buatan manusia dan mengabaikan hukum Allah SWT tidak akan membawa perubahan hakiki dan tidak mampu memberi solusi tuntas bagi masalah negeri. Sebagaimana analogi sebuah kendaraan bermotor yang abnormal walaupun dikemudikan oleh pengemudi profesional namun kendaraan tersebut tidak akan bisa berjalan optimal. Maka, kita bisa menganalisis bahwa walaupun terpilih presiden baru namun, wajah amerika tetaplah sama yaitu wajah kolonialis yang tetap menjadi wajah permanen kebijakan mereka. Yang berbeda hanyalah gaya dan pendekatannya saja. Maka, negeri ibu pertiwi ini, ketika masih berkiblat pada negara amerika yang menerapkan kapitalisme dalam ideologi dan demokrasi sebagai sistem pemerintahan tidak akan mampu tumbuh menjadi negeri yang kokoh dan mandiri.

Salah satu hal yang juga perlu diperhatikan terkait dengan pidato saat kampanye, Biden akan memberikan perlakuan yang sama terhadap islam sebagaimana perlakuan dengan agama lainnya.  Kampanye Biden terkait sikap terhadap Islam dan muslim ini tidak bisa menjadi sandaran perubahan kebijakan. Karena ini hanyalah janji. Seperti halnya kita merasakan berapa banyak janji manis yang disampaikan oleh para calon ketika berkampanye. Namun, jarang atau bahkan tidak pernah ditepati. Hal ini wajar, sebab dalam demokrasi, kampanye hanya alat mengumpulkan suara. Kampanye bukan janji yang bisa dimintai pertanggung jawaban. Maka, saatnya untuk meninggalkan demokrasi yang menerapkan hukum buatan manusia dan telah terbukti membawa kesengsaraan dalam segala lini kehidupan serta tidak layak menjadi gantungan harapan yang membawa perubahan hakiki.

Apa Harapan Baru Bagi Umat Islam?

Sudah saatnya, kaum muslim berhijrah secara total dengan bersandar pada hukum buatan Sang Pencipta yaitu Allah SWT yang telah tertuang secara lengkap didalam Al-Qur’an dan Assunah, dan menerapkannya secara kaffah (menyeluruh) dalam bingkai khilafah.

Khilafahlah yang akan menjadi harapan baru bagi kaum muslim. Hanya Khilafah yang mampu menandingi kekuatan Amerika sebagai negara adidaya. Hanya Khilafah pula yang akan mempersatukan kekuatan kaum muslim dunia. Di bawah naungan Khilafah, umat Islam mampu berdiri tegak dan tampil sebagai negara adidaya yang mandiri tanpa harus menghamba pengharapan dan belas kasih dari Barat. Hal ini sudah pernah terjadi saat Islam berkuasa selama 13 abad di pentas dunia dan mampu menangungi 2/3 dunia sebagai negara adidaya. Dan inilah yang ditakutkan Barat termasuk Amerika yaitu ketakutan mereka terhadap ideologi Islam yang akan mengancam hegemoni ideologi kapitalisme. Wallahua’lam

(Visited 13 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *