Birul Walidain Yang Hakiki

Spread the love

Oleh. Rifka Fauziah Arman, A.Md.Farm.,

(Tenaga Teknis Kefarmasian)

 

MuslimahTimes.com–“Anak Durhaka” menjadi sebuah cap bagi anak-anak pada kasus viral seorang ibu berinisial “T” di Jawa Timur. Kisah ini berawal dari viralnya seorang lansia yang mengaku “dibuang” oleh ketiga anaknya di salah satu panti lansia di sana. Lalu tak lama kemudian, salah satu anaknya membuat video klarifikasi bahwa ibunya tidak “dibuang” tetapi dititipkan untuk dibimbing agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. (Jateng.suara.com)

 

Anaknya menjelaskan semuanya berawal dari sakit stroke yang diderita ibunya. Ia sudah merawat ibunya hingga sembuh, tetapi ibunya membuat sakit hati suaminya hingga suaminya mengancam jika ia membawa ibunya lagi maka suaminya akan pergi dari rumah bersama anak-anaknya. Kemudian saat ibunya meminta kerumah anaknya yang bungsu, terjadi hal sama dengan menantu dan anak-anaknya yang tidak suka dengan perbuatan ibu “T” sampai akhirnya dibawa kerumah anak lelaki dan kembali terjadi hal yang sama. Bahkan ia menjelaskan sudah pernah juga dibawa ke adik dari ibu “T” tapi disana lebih parah dan menyerah dengan perbuatan ibu “T”. (Jateng.suara.com)

 

Entah apa sebenarnya yang sampai membuat anak-anak serta menantu hingga adiknya sendiri menyerah dengan perbuatan ibu “T” dan mereka sudah tidak mau kehadiran beliau dirumahnya. Dan inilah yang menjadi alasan para anak dari ibu “T” menitipkan ibunya sendiri di panti lansia tersebut. Tapi terkadung viral, banyak yang menuai pro dan kontra karena dilihat dari perspektif agama dan moral dalam masyarakat.

 

Kasus ini tidak hanya terjadi pada ibu “T”, pada April tahun lalu di Aceh ada seorang kakek berumur 80 tahun yang mengaku dibuang oleh anak-anaknya dalam keadaan sakit, nafas terengah-engah dan tangan membengkak hingga saat Dinas Sosial ingin membawa kakek tersebut sudah meninggal dunia. (Aceh.tribunnews.com)

 

Bahkan di negeri jiran Malaysia pun terjadi hal serupa dimana seorang wanita meninggalkan seorang nenek di warung dengan menyuruhnya membeli makanan, lalu ia pergi. Ibu tersebut mengira bahwa hanya disuruh saja, tetapi ternyata anaknya pergi dan baru tersadar bahwa ia dibuang. (Style.tribunnews.com)

 

Jika kita melihat kasus-kasus di atas merupakan hal serupa hanya berbeda alasan dan cara mereka dalam memperlakukan orangtuanya sendiri. Dimana masalah ini berawal dari hilangnya moral dan nilai “birul walidain” yang seharusnya sudah tertanam pada pribadi masing-masing sebagai anak. Inilah yang seharusnya terbentuk sejak dini dan dibentuk oleh orang tua sendiri. Masalah ini juga keterkaitan dengan kondisi psikis para lansia yang semakin tua kembali menjadi seperti anak kecil. Fakta yang terjadi pada setiap orangtua manapun saat mulai memasuki usia senja, mereka meminta diperhatikan, dimanja, cerewet terhadap anaknya, serba salah sama layaknya ketika mengasuh bayi.

 

Kita akan bahas satu per satu, yakni pertama “birul walidain” yang seharusnya sudah tertanam dalam diri seorang muslim. “Rida Allah adalah ridanya orang tua” inilah yang harus kita tahu, entah dia orang tua kandung ataupun mertua yang sudah menjadi orang tua kita pun akan tetap memiliki hukum yang sama. Karena semua ini akan kembali pada anak-anak kita di masa depan dalam memperlakukan kita sebagai orang tua. Bagaimana seharusnya akhlakul karimah diajarkan oleh orang tua kepada anaknya dan terus akan menjadi contoh sampai keturunan berikutnya. Pernah ada kutipan dalam sebuah video di Instagram mengatakan “seorang ibu mampu mengurus 10 anaknya sendirian, tapi 10 orang anak belum tentu mampu mengurus ibunya seorang”. Ungkapan ini yang harus kita patahkan dengan membentuk kepribadian islam maka akan menjadi kuat dan kokoh. Jika terjadi perselisihan antar orang tua dengan menantu bisa dibicarakan baik-baik.

 

Kemudian yang kedua dari segi psikis memang mengalami penurunan dan butuh bantuan anak-anaknya bahkan kadang mereka meminta lebih dari itu. Layaknya mengasuh anak bayi sama dengan mengasuh lansia tapi di sinilah tempat pahala terbanyak kita dari orang tua sendiri. Mengurusnya sepenuh hati tanpa pamrih, menyayanginya walaupun terkadang perkataannya menyakiti hati kita.

 

Dan yang terakhir adalah tekanan dari sistem yang membuat para anak merasa terbebani dengan adanya orang tua di rumah mereka. Karena merasa harus membiayai melebihi keluarganya sendiri hingga masalah kesehatan para lansia yang harus terkontrol tapi ekonomi para anak tidak mendukung.

 

Dalam pengalaman saya sebagai seorang anak yang memiliki orang tua yang sudah lansia pun mengalami hal yang sama, tapi jika mengingat dulu saat kita membentaknya, tidak menegurnya bahkan menyalahkan kesalahan kecilnya orang tua akan tetap menyayangi kita, mengasihi kita bahkan tetap menerima keberadaan kita walaupun kita menyakitinya. Bahkan dalam rezeki dan tekanan yang ada dalam sistem saat ini harusnya tetap bisa melaksanakan birrul walidain karena Allah sudah menetapkan rezeki tiap manusia. Sedangkan tugas kita sebagai anak adalah berusaha dan ikhtiar dalam memahami dan mengasihi orang tua kita. Sebagaimana dalam doa kita setiap habis sholat yang berbunyi :

رَّبِّ اغْفِرْلِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً

Rabbighfir lii Waliwaalidayya Warahmah Kamaa Rabbayaanii Shagiiran

 

Artinya: “Tuhanku, Ampunilah dosa-dosaku dan kedua orang tuaku, serta kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku sewaktu kecil.”

Wallahu’alam bisshawwaab