Buta Tuli, Siapa Mau?

Spread the love

Oleh. Choirin Fitri

Muslimahtimes— Sob, manusia dicipta Allah punya mata. Letaknya tepat di muka. Bukan di samping seperti ikan. Atau di atas kepala. Namun, meski punya mata, kadang ada yang nggak bisa melihat. Tuna netra atau buta sebutannya.

Allah pun mencipta telinga di samping kanan kiri kepala. Nggak di atas seperti kelinci. Atau selebar gajah. Ukurannya pas untuk kita manusia. Sayangnya, meski punya telinga ada yang nggak sempurna. Tuna rungu atau tuli kita mengenalnya.

Kira-kira, jika ada yang tanya, “Buta tuli, siapa mau?” Bisa dipastikan semua orang nggak ada yang mau. Termasuk yang saat ini sedang diuji ketidaksempurnaan, buta dan tuli.

Memang menjadi orang buta dan tuli sungguh tak enak. Kita nggak bakal bisa menikmati indahnya dunia. Nggak bisa pula mendengar suara dari segalanya. Bisa jadi dunia terasa sepi sendiri dan gelap gulita.

Nggak heran jika tak satu pun manusia yang ingin punya mata buta dan telinga tuli. Sayangnya, saat ini banyak yang secara fisik sempurna, namun hakikatnya mereka disebut Allah buta dan tuli. Kok bisa?

Ada satu firman Allah yang menyebutkan hal ini. Tepatnya dalam Al-Qur’an, surat Hud ayat 24 yang berbunyi:
مَثَلُ الْفَرِيْقَيْنِ كَالْاَعْمٰى وَالْاَصَمِّ وَالْبَصِيْرِ وَالسَّمِيْعِۗ هَلْ يَسْتَوِيٰنِ مَثَلًا ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

“Perumpamaan kedua golongan (orang kafir dan mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Samakah kedua golongan itu? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?”

Sungguh, pertanyaan Allah di akhir ayat adalah pertanyaan retoris. Harusnya kita bisa menjawab dengan jawaban 100% benar. Orang buta tuli dengan orang yang dapat melihat dan mendengar adalah berbeda, nggak sama.

Namun, meski mampu menjawab dengan jawaban tepat, nyatanya tak semua orang memilih menjadi mukmin. Masih sangat banyak yang memilih jalan kekafiran sebagai jalan hidupnya. Padahal, Allah telah memberikan petunjuk dengan sejelas-jelasnya bahwa keimana pada Allah dan rasul-Nyalah yang akan membuat matanya dapat melihat kebenaran sejati.

Ada pula fenomena yang aneh bin ajaib di kalangan remaja. KTP dalam identitas agamanya Islam, tetapi perilakunya jauh dari akhlak seorang muslim. Ia lebih condong pada perilaku orang-orang yang nggak mau menjadikan Islam sebagai standar kehidupan. Inilah efek sekularisme dalam agama. Islam hanya dianggap mengatur salat, puasa, zakat, dan haji saja. Selebihnya, tidak.

Padahal, usut punya usut Islam adalah agama yang sempurna. Membuat kita mampu melihat kebenaran dengan terang benderang. Membuat kita pun mendengar kebenaran tanpa cela.

Ditambah lagi Islam adalah agama sempurna. Mulai bangun tidur sampai bangun negara ada aturannya. Mulai hal yang remeh sampai yang berkelas juga diatur. So, nggak ada ruang buat yang bilang Islam adalah agama kolot dan nggak up to date. Itu berarti dia aja yang nggak mau ngenal agamanya dengan sebenar-benarnya.

Nah, ini berarti jika kita ingin Allah golongkan dalam jajaran orang beriman, maka kita musti mengkaji Islam dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita ketinggalan info terhit tentang agama kita. Apalagi sampai kita buta informasi terkait apa-apa yang perlu disikapi dengan pandangan keimanan.

Cara inilah cara paling ampuh jika kita tak mau disebut Allah buta dan tuli. Asli rugi pakai banget jika sampai sebutan mengerikan ini menjadi sebutan kita. Saatnya kita bergerak cepat untuk membuang ide sesat sekularisme! Segera ambil Islam kafah sebagai jalan hidup agar kita jauh dari status buta tuli. Oke?!

Batu, 30 Agustus 2022