Capit Boneka

Spread the love

Oleh: Choirin Fitri

Muslimahtimes.com — Aqila bergegas. Gamis Levis dan khimar warna navy melekat di tubuhnya. Tas selempang warna senada melingkar di pundaknya. Kunci motor dengan gantungan boneka imut Hello Kitty digenggam di tangan kanan.

“Farah, kamu jadi ikut aku nggak?”

Gadis yang sedang sibuk memakai kaos kaki warna kulit melongok ke ruang tengah rumah kos.

“Sorry, nggak jadi. Mendadak aku harus mengedit beberapa tulisan untuk media kampus.”

“Ya, udah. Aku berangkat sendiri aja deh! Assalamualaikum”

Sepatu ket warna putih dikenakan. Ia berucap dia keluar rumah lalu melenggang mengendarai motornya.

Seperempat jalan menuju tujuan, dua anak kecil usia TK hampir menjadi mangsa moncong motornya. Untung saja ia bisa melakukan rem mendadak ketika dua anak itu menyebrang dengan berlari. Ia segera turun motor dan memastikan dua anak kecil itu tak apa-apa.

“Ya Allah, Dek! Kalian tidak apa-apa?”

Kedua anak itu menggeleng.

“Kakak minta maaf ya! Kalian mau ke mana?”

Keduanya menunjuk lapangan.

“Lain kali hati-hati ya! Kalau mau menyebrang minta tolong orang dewasa atau pelan-pelan saja, jangan lari seperti tadi ya!”

Keduanya mengangguk. Aqila sampai berpikir dua anak itu bisu. Ternyata, ketika ia menyodorkan uang berwarna coklat untuk tiap anak, mereka girang.

“Terima kasih ya Kak. Ayo, kita main capit boneka!”

“Iya ayo. Aku mau capit boneka katak. Kalau kamu?”

“Aku kelinci saja.”

Suara dua anak itu terdengar riang. Aqila masih ingin bertanya permainan capit boneka itu seperti apa, sayang keduanya sudah berlari ke tengah lapangan dan terus berlalu menuju sisi lapangan lainnya. Ia pun memutuskan melanjutkan perjalanan.

Sebuah rumah di tengah perumahan bercat hijau menjadi tujuan Aqila. Ia memarkirkan motor bebeknya di parkiran samping rumah. Seorang anak perempuan berwajah imut menyambut kedatangannya. Boneka beruang berada dalam gendongannya.

“Asyik, Tante Aqila sudah datang.”

Gadis cilik itu menghambur dalam pelukan Aqila. Ia mengambil setas putih kue pemberian tantenya dan berlari masuk ke dalam rumah.

“Bunda, Bunda, Tante Aqila sudah datang. Bawa kue yang banyak buat aku.”

“Iya. Sudah bilang terima kasih?”

Ibu muda yang masih sibuk dengan cucian perabot dapur menoleh pada putrinya.

“Eh, lupa,” ucap gadis cilik itu cengengesan.

“Ya, ayo bilang terima kasih dulu dan ajak Tante Aqila masuk. Masak dibiarkan di luar begitu.”

“Oke Bunda.”

Aqila diajak masuk. Ia ditarik mengikuti ponakannya ke ruang tengah. TV layar datar menempel di tembok. Di sampingnya ada sebuah etalase cukup besar berisi boneka berbagai ukuran, bentuk, dan warna.

“Ayo Tante kita main boneka!”

Rahmi membuka etalase. Ia mengeluarkan boneka berukuran lengan orang dewasa. Bentuknya macam-macam.

“Main sama Rahmi dulu ya, Qil. Nanggung nih nyucinya tinggal dikit.”

Suara kakak sepupu Aqila terdengar menggema dari dari dapur.

Aqila menyahut, “Siap Mbak.”

Rahmi dengan sigap menata boneka-bonekanya di karpet. Ia mengajak Aqila bermain peran sebagai pedagang boneka.

“Bonekanya banyak sekali Rahmi. Dibelikan ayah bunda ya?”

“Rahmi pintar main capit boneka, Tante. Makannya bonekaku tambah banyak.”

“Permainan seperti apa itu?”

Rahmi menjelaskan cara bermainnya. Uang pemberian bunda atau ayahnya akan ditukar koin berwarna perak. Satu koin harganya hanya seribu rupiah. Ia akan memasukkan koin itu ke lubang mesin capit boneka. Setelah itu mesin bisa dijalankan dengan dua tangannya. Boneka dicapit dan dimasukkan ke lubang. Jika beruntung, maka boneka akan meluncur ke luar dan bisa dibawa pulang. Namun, jika tidak cekatan, boneka tidak bisa dibawa pulang.

“Seru deh pokoknya,” ujar Rahmi mengakhiri ceritanya.

Aqila menyimak dengan seksama. Ia berpikir cepat. Sepertinya ada yang salah dengan permainan ini. Ia pamit pada Rahmi untuk bertemu bundanya di dapur. Gadis cilik yang telah asyik dengan boneka-bonekanya itu mengangguk.

Seorang perempuan berusia tiga puluhan tahun membawa nampan berisi tiga cangkir teh dan sepiring roti pisang kukus. Ia hendak melangkah menuju ruang tengah ketika berpapasan dengan Aqila.

“Duduk sini aja deh!”

Eva putar balik. Ia mengajak Aqila duduk di kursi ruang makan.

“Ayo diincipi. Enak, masih hangat.”

Aqila mencium bau pisang yang sedap. Tangannya mencomot satu potong dan menikmati kue kegemarannya. Setelah itu membau uap air teh yang wangi melati. Ia meneguk setengah cangkir.

“Mbak, capit boneka itu bukannya judi ya?”

“Kamu ada-ada aja. Itu cuma permainan anak-anak, Qil. Nggak pakai taruhan.”

“Tadi Rahmi cerita harus beli koin dulu untuk bisa main. Nah, taruhannya ada di koin itu. Kadangkala dapat, kadang tidak. Itu judi kan Mbak?”

“Bukannya hanya permainan ya?”

Eva menyangkal. Setahunya judi itu permainan kartu yang mempertaruhkan uang di meja judi. Capit boneka permainan kegemaran putrinya tidak termasuk.

Aqila mengambil gawai dari tas selempangnya. Ia mengusap layar dan menyentuh mikropon. Lisannya mengucapkan hukum permainan capit boneka. Dalam hitungan detik, proses pencarian selesai dan menampilkan beberapa situs yang memberkan apa yang ingin diketahuinya.

“Coba baca ini Mbak!”

Aqila menyodorkan gawainya. Eva menerima dan membaca dengan seksama.

[Usaha mesin capit boneka adalah terlarang dan tidak boleh digunakan. Di dalamnya terkandung unsur perjudian. Unsur yang dimaksud adalah uang atau koin yang mewakili uang dimasukkan dalam mesin capit boneka. Kemudian bertaruh untuk mendapatkan boneka dengan cara mencapitnya, sehingga belum bisa dipastikan apakah si pemain dapat boneka atau tidak.]

Eva mengingat-ingat cara putrinya bermain. Memang benar putrinya sering pulang dengan tangan kosong dan uang berwarna coklat melayang sia-sia. Ia kemudian melanjutkan membaca.

[Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata (yang artinya):

“Qimar (judi) adalah setiap yang bertaruh atau yang berlomba memasang taruhan, nanti ada yang beruntung dan nanti ada yang merasakan rugi.” (Lihat Al Mughni, 13/408).]

“Berarti haram ya Qil?”

“Iya Mbak. Jadi, mending uang yang digunakan beli koin ditabung saja. Nanti, kalau sudah cukup bisa langsung dibelikan boneka.”

“Kalau Rahmi merengek bagaimana? Di sini hampir semua anak-anak senang bermain seperti itu. Ada di toko dekat sini.”

“Itu tugasnya Mbak memahamkan Rahmi. Insyaallah, kalau Mbak menjelaskan dengan baik, anak kecil itu bisa mengerti kok. Semangat!”

Batu, 9 Maret 2022