Childfree Menguat di Tengah Sistem Rusak

Spread the love

Oleh. Riska Kencana

Muslimahtimes.com–Beberapa hari ini wacana childfree kembali ramai diperbincangkan setelah seorang influencer mengumumkan dirinya memilih untuk childfree. Childfree sendiri berasal dari Barat, muncul di akhir abad ke-20. Childfree merupakan sebuah keputusan atau pilihan hidup untuk tidak memiliki anak, baik anak kandung maupun anak hasil adopsi. Mereka memilih hidup tanpa anak meskipun organ reproduksi mereka berfungsi dengan baik.

Alasan Childfree

Dalam perjalanannya, ide childfree mulai muncul di Indonesia. Awalnya diusung oleh aktivis feminisme yang kemudian diikuti oleh banyak influencer. Ketika sebuah ide sudah dibawa oleh influencer dan dinarasikan sedemikian rupa, maka lambat laun ide-ide tersebut tersebar luas bak lumut di musim hujan.

Para pengusung childfree memberikan alasan atas keputusannya karena faktor finansial. Mereka menghitung berapa banyak anggaran yang harus mereka keluarkan untuk membiayai sekolah anak mereka, urusan makanan, pakaian hingga rekreasi. Mereka juga memikiki anggapan bahwa memiliki anak berarti ikut andil dalam menambah beban populasi bumi yang sudah sangat tua. Mereka melihat bahwa bumi sudah overloaded. Banyak kerusakan, banyak pengangguran, banyak kriminalitas.

Bahkan ada pula yang secara terang-terangan bahwa alasan childfree karena tidak suka anak-anak. Tidak mau direpotkan dengan urusan anak-anak dan tetek bengeknya.

Childfree Wujud Kurang Iman

Melansir dari sebuah situs online, ada seorang penganut childfree, ia mengatakan bahwa kalimat banyak anak banyak rezeki itu adalah kebohongan. Ia tidak percaya dengan yang seperti itu. Padahal, dalam Islam sendiri, Allah sudah menjami secara penuh rizki hamba-Nya. Mulai dari zigot hingga ke liang lahat. Menghitung-hitung rizki itu bukan ranah manusia. Itu mutlak Allah yang menentukan. Kita tidak pernah tau bagaimana caranya, yang kita tau hanyalah bagaimana berusaha untuk menjemput rizki dengan yang halal.

Penganut childfree bisa dibilang kurang iman, ada yang salah dengan proses keimanannya. Mereka takut dengan rizki padahal sudah Allah jamin. Mereka takut dengan ketidakmapuan mereka mendidik anak, padahal Allah sudah berikan akal untuk berpikir dan ilmu untuk dipelajari. Ada juga Rasulullah, sahabat, tabi’in untuk diteladani.

Mereka merasa sudah berjasa dengan memilih childfree, mereka merasa sudah menyelamatkan bumi, padahal siapa mereka? Hanya manusia yang lemah, tidak berdaya, sombong lagi zalim.

Sistem Sekuler Menyuburkan Paham Childfree

Berbicara sistem memang sedikit banyak akan memberikan pengaruh kepada sebuah ide. Apakah ide tersebut akan tumbuh subur atau langsung terkubur. Sistem sekuler saat ini memang memberi banyak ruang kepada ide-ide yang tidak sejalan dengan agama. Berlandaskan pemisahan agama dan kehidupan membuat banyak orang enggan untuk membawa-bawa agama,dengan dalih itu adalah ranah privat, tidak pantas untuk diperbincangkan.

Wajar saja jika di sistem sekuler ide semacam childfree tumbuh subur. Mereka melihat sebatas fakta yang terpampang di depan mata tanpa membawa keimanan dalam diri mereka. Jelas ini malah akan membawa banyak kemudharatan dalam kehidupan. Dalam sistem sekuler, negara pun tak berhak untuk mengatur keputusan pribadi warganya. Ini dianggap melanggar HAM. Padahal bila kita melihat dengan seksama, childfree ini akan berdampak kepada demografi suatu negara.

Semakin banyak pasangan yang memutuskan childfree, semakin sedikit generasi yang akan lahir. Jika demikian, maka kita akan melihat adanya stagnansi pertumbuhan ekonomi dan kualitas sumber daya manusia seperti yang terjadi di Jepang.

Islam Datang dengan Solusi

Islam sebagai agama yang sempurna pasti memiliki jawaban atas segala problematika yang dihadapi oleh manusia. Dalam Islam, menikah bertujuan untuk melestarikan keturunan. Ini artinya tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk memilih childfree. Jika gaung childfree semakin besar dengan alasan ketakutan finansial, ketidaksiapan mental, hingga penyakit keturunan, maka solusinya bukan pada childfree tapi dicari akar masalahnya.

Kemiskinan, mahalnya biaya pendidikan yang layak, mahalnya biaya pemenuhan gizi, dan sebagainya, ini bisa diatasi dengan turut campurnya negara dalam mengurusi urusan rakyatnya. Dengan adanya peran negara dalam pengelolaan sumber daya alam, privatisasi aset negara, hingga urusan pendistribusian bahan pangan dan lainnya menjadikan akses terhadap pendidikan, kesehatan dan lainnya bisa didapatkan dengan mudah. Kenapa? Karena pemimpin itu adalah pelayan umat, mereka mengatur urusan rakyat hingga dengan mudah melaksanakan syariat.

Syariat Islam dengan tegas melarang adanya tabatul (membujang) dan menganjurkan umatnya untuk memperbanyak keturunan. Islam memerintahkan umatnya untuk tidak meninggalkan generasi setelahnya dalam keadaan lemah (akal dan finansial).

Maka, negara dalam pandangan syariat wajib untuk memberikan fasilitas yang mempermudah syariat tersebut terlaksana. Contohnya memberikan edukasi kepada calon orangtua tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam pengasuhan, memberi layanan kesehatan yang terjangkau hingga bisa mempersiapkan kelahiran anak dengan terencana, memberikan akses tunjangan gizi bagi ibu hamil dan bayi, memberikan akses lapangan kerja untuk para ayah agar mampu menafkahi keluarganya.Termasuk juga memberikan pendidikan yang murah bahkan gratis untuk rakyat.

Inilah potret negara yang ideal bagi rakyat. Dan tentu saja, negara bisa menjadi ideal apabila menerapkan aturan Allah. Aturan yang dibuat untuk manusia agar bisa tercipta rahmatal lil ‘alamiin.

Wallahu’ alam