Chlidfree, Gagasan Melawan Kodrat Ilahi

Spread the love

Oleh. Kholda NajiyahF (Founder Salehah Institute)

Muslimahtimes.com–Mau enaknya tak mau anaknya. Kita sering mendengar ungkapan ini, untuk menggambarkan aktivitas hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan yang tidak mengharapkan kehamilan dan kelahiran anak. Biasanya melanda pasangan yang berzina. Sayangnya, gagasan itu kini juga mulai menular di kalangan pasangan yang menikah dengan istilah seolah keren, childfree atau childless.

Menurut Wikipedia, childfree adalah sebuah keputusan atau pilihan hidup untuk tidak memiliki anak. Baik itu anak kandung, anak tiri, ataupun anak angkat. Baik dianut oleh seorang lajang yang memang memutuskan tidak menikah, maupun pasangan menikah yang hanya ingin menikmati hubungan berdua tanpa kehadiran anak.

Istilah ini muncul di akhir abad 20. Tentu saja menimbulkan kontroversi, karena bertentangan dengan konsensus umat manusia sejagat, bahwa menikah dan memiliki anak adalah kodrat alam. Sebuah kesepakatan sosial turun temurun sepanjang eksistensi umat manusia sejak zaman Nabi Adam. Meskipun manusia dengan kecerdasannya mampu menciptakan berbagai jenis alat kontrasepsi yang mencegah angka kelahiran, namun antianak adalah pilihan yang dinilai negatif. Tentu saja.

MENYESATKAN PEREMPUAN

Pandangan childfree ternyata banyak dianut perempuan yang belum menikah (82,5%, sumber Wikipedia). Pantas saja mereka tak mau punya anak, karena belum merasakan nikmatnya memiliki anak. Perempuan ini menyerukan dan mendukung sesuatu yang mereka saja belum pernah mengalami. Jadi, gagasan ini jelas absurd. Tak layak diikuti oleh para perempuan, terlebih lagi perempuan yang sudah menikah.

Perempuan yang memilih tidak memiliki anak ini mayoritas adalah kelompok perempuan yang tidak mau terikat pada pernikahan. Mereka telah teracuni gagasan kesetaraan gender yang akhirnya mengutamakan karier dan kemandirian ekonomi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menyebutkan bahwa penganut childfree kebanyakan adalah perempuan berpendidikan tinggi, yaitu lulusan S2/S3 sebanyak 27,6% dan S1 sebanyak 18,2% dan pendidikan tinggi tanpa gelar 24,7% (sumber Wikipedia).

Kebanyakan mereka yang mengenyam pendidikan sekolah tinggi ini lantas mengejar karier. Dan setelah berkarier, tidak sempat menikah dan kesulitan menemukan pasangan yang cocok. Karena, tak banyak laki-laki yang percaya diri menikahi perempuan yang pendidikannya lebih tinggi. Akhirnya tidak menikah dan tentu saja tidak ada keinginan lagi untuk memiliki anak. Begitu ada istilah chlildfree, seolah terwadahilah jiwa mereka.

Mereka akhirnya memilih fokus pada kenikmatan hidup, yaitu eksis berkarier tanpa terganggu oleh beban pengasuhan dan pendidikan anak. Termasuk jika menikah pun, akhirnya enggan punya anak. Wajar jika muncul tudingan bahwa kaum chlidfree itu egois, karena hanya berorientasi kekayaan materi yang bisa mereka nikmati untuk bersenang-senang. Kerja tanpa gangguan anak, jabatan naik, gaji besar, dan bisa menikmatinya tanpa harus berbagi dengan anak-anak yang sungguh membutuhkan biaya besar.

Ya, salah satu alasan lain penganut childfree adalah kecemasan finansial. Di dunia modern ini, betapa tingginya biaya hidup. Pengeluaran untuk pribadi saja sudah sangat mencekik, apalagi jika ditambah beban anak-anak. Khawatir tidak mampu memberikan gizi yang baik pada anak-anaknya. Khawatir tidak sabar dan tanggungjawab mendidik mereka. Khawatir tidak mampu menyekolahkan anak di tempat terbaik. Khawatir anak-anak menderita, miskin dan tidak bahagia. Sungguh kecemasan-kecemasan yang hanya pantas dimiliki oleh mereka yang tidak punya Allah Swt.

Sebagai orang beriman, tak pantas kita mencemaskan masa depan. Allah ketika menciptakan manusia dan bumi ini, sudah pasti mencukupkan dan mengatur kebutuhannya dengan baik. Setiap jiwa bahkan setiap makhluk sudah dijamin rezekinya oleh Allah Swt. Manusia hanya harus berinovasi dan berkreasi dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Tak layak membangun kecemasan duniawi.

Meskipun begitu, tentu saja mereka marah jika disebut egois. Sebab, berderet alasan mereka ajukan atas pilihan childfree. Alasan yang seolah manusiawi dan bahkan peduli bumi, padahal sebenarnya hanya khayali.

Corinne Maier, Penulis asal Paris dalam bukunya “No Kids: 40 Reasons For Not Having Children”, menyebutkan 40 alasan tidak punya anak. Di antaranya yang berkaitan dengan kecemasan akan nasib bumi. Salah satunya, kepedulian akan dampak negatif pada lingkungan yang bisa mengancam seperti overpopulation, pollution, dan kelangkaan sumber daya alam.

Menurut mereka, kondisi bumi terus memburuk. Mereka tak mau membawa seorang anak ke dalam situasi yang kian memburuk tersebut. Misal, efek global warming, ancaman perang dan kelaparan. Ia cemas anak hanya akan hidup dalam penderitaan hingga kematian. Mereka menolak dicap egois, karena tak mau punya anak ini justru untuk kebaikan bagi anak, agar mereka tidak menderita di bumi. Para orang tua yang melahirkan anak-anak itulah yang mereka cap egois, karena memaksa kelahiran anak-anak di bumi yang buruk, di mana anak-anak tak bisa memilih untuk dilahirkan.

Jelas alasan tersebut tidak masuk akal. Sebagai muslim yang beriman, kita harus meyakini bahwa Allah Swt memiliki mekanisme alam untuk mengatur keseimbangan populasi. Ada kematian, pandemi dan bencana alam. Kecemasan akan bumi yang kian buruk, polusi atau kelangkaan sumber daya alam, juga bisa ditepis dengan kemampuan manusia dalam menciptakan berbagai teknologi yang mendukung kualitas hidup umat manusia.

Kelahiran anak juga merupakan qodho Allah, tentu saja tidak ada pilihan bagi si anak ia akan lahir di bumi mana, orang tua kaya atau miskin, dan sebagainya. Namun, Allah pasti menjamin hidupnya. Bagi orang beriman, jika ia dilahirkan dalam kondisi kurang beruntung maka itu adalah ujian. Di situlah manusia diwajibkan ikhtiar dan menjadikannya ladang pahala. Jadi, tak perlu mencemaskan hal-hal yang belum nyata di depan mata.

BAHAYA ANTIANAK

Childfree lahir dari rahim ideologi sekuler kapitalis. Tak heran, karena sistem ini melahirkan kecemasan-kecemasan akan masa depan yang suram, merujuk pada kondisi saat ini, ketika dunia penuh kerusakan akibat penerapan sistem sekuler kapitalis. Kemiskinan, kerusakan bumi, kelaparan, bencana akibat ulah manusia dan peperangan adalah akibat kerakusan manusia sendiri.

Sistem sekuler juga telah menciptakan lingkaran setan berupa kerusakan sosial yang parah. Akibat tujuan hidup berupa kenikmatan materi, menyebabkan manusia berlomba meraih materi sebanyak-banyaknya. Mengeksploitasi dirinya dalam dunia ekonomi dan karier gila-gilaan. Tersibukkan bekerja tanpa banyak memiliki waktu untuk memikirkan aspek sosial kemanusiaan.

Angka pernikahan makin rendah, angka kelahiran terus merosot. Ironisnya, dari sedikit yang menikah, berakhir pula dengan perceraian. Keluarga-keluarga hancur. Anak-anak hancur. Di sisi lain, pergaulan bebas, zina dan prostitusi merebak. Hubungan seksual yang harusnya hanya dilakukan dalam wadah pernikahan, di alam sekuler terbuka lebar-lebar. Wajar jika mereka hanya mengejar kenikmatan seksual tanpa berpikir untuk melahirkan keturunan.

Akibatnya, angka natalitas rendah dan proporsi populasi menjadi timpang. Kaum lansia lebih banyak, sedangkan angkatan produktif berkurang. Jika kondisi ini terus dibiarkan, siapa yang akan menjalanka roda-roda pembangunan, melayani masyarakat dan bahkan melayani para lansia?

Tanggung jawab untuk mengatasi semua kerusakan itu, bukanlah individual atau pasangan laki-laki dan perempuan hingga harus menghentikan reproduksi. Justru, penting melahirkan generasi-generasi terbaik untuk menggantikan sistem sekuler yang rusak ini. Ganti dengan sistem Islam yang bersumber dari wahyu Allah Swt.

Jelaslah, gagasan childfree secara global membahayakan dunia. Mengancam kepunahan manusia. Gagasan yang tak hanya melawan kodrat individu, tapi juga kodrat alam. Melawan kodrat manusia dan melawan kodrat Ilahi. Sungguh sebuah gagasan yang tidak layak dipopulerkan, tapi ditenggelamkan.(*)