Cinta dan Toleransi diantara Kita

Spread the love

Oleh: Fatimah Azzahra, S. Pd

Muslimahtimes.com — “Aku untuk kamu,
Kamu untuk aku,
Namun semua apa mungkin,
Iman kita yang berbeda,
Tuhan memang satu,
Kita yang tak sama,
Haruskah aku lantas pergi
Meski cinta takkan bisa pergi”
– Peri cinta

Kata orang cinta itu buta, maka ia tak lagi bisa melihat dengan mata. Tak bisa membuat orang mendengar dengan telinga. Seperti yang dinyanyikan oleh Marcel, cinta bahkan bisa membuat galau manusia yang berbeda iman. Haruskah pergi atau perjuangkan?

Seperti kisah pernikahan di Semarang yang sukses membuat publik geger. Bukan karena mewah atau tampilannya. Tapi karena pernikahan ini terjadi antara dua manusia yang berbeda iman.

Dilansir dari laman kumparan, duo sejoli, yang perempuan muslim lengkap dengan hijabnya, yang laki-laki Katolik, berhasil melangsungkan pernikahan sabtu lalu, 5 Maret 2022, di Gereja St. Ignatius Krapyak Semarang. Achmad Nurcholis menjadi konselor juga merupakan aktivis Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Pagi hari pasangan ini melakukan pemberkatan di gereja, siangnya melangsungkan akad secara islam. (7/3/2022)

Publik kemudian ada yang menyatakan bahwa persatuan duo sejoli ini adalah bukti kekuatan cinta.

Atas nama Toleransi dan Moderasi

Nurcholis mengungkapkan fenomena pernikahan beda agama bukan hal yang baru. Memang ada perbedaan pendapat, ada yang membolehkan ada juga yang melarang. Bagi yang mengambil pendapat membolehkan, bisa melangsungkan pernikahan tersebut. Nurcholis sendiri mengaku sudah menjembatani sekitar 30 pasangan menikah yang berbeda agama.

Inilah bentuk dari toleransi yang kini sedang kembali digembar-gemborkan. Setiap umat beragama dituntut untuk menyelaraskan keyakinannya dengan keyakinan agama lain. Perbedaan-perbedaan konsep yang ada wajib diredam atau bahkan dihilangkan.

Moderasi dalam agama yang kini sedang diiklankan. Katanya agar dunia lebih damai. Benarkah demikian?

Toleransi dalam Islam

Sebelum program toleransi dan moderasi muncul ke permukaan, Islam sudah memiliki aturan yang jelas tentang toleransi. Termaktub dalam qur’an surat Al kafirun. Lakum diinukum waliyadin.

Bagi kalian agama kalian, bagi kami agama kami. Inilah toleransi. Tak ada pemaksaan untuk masuk ke dalam islam. Toleransi bukan berarti harus ikut tatacara ibadah agama lain.

Dipersilakan tiap-tiap penganut agama menjalankan keyakinannya dengan tidak memaksakan apa yang diyakini harus sama dengan ajaran agama lain. Kalau harus sama, itu namanya memaksakan kehendak!

Saat Kekhalifahan Islam tegak, di wilayah Spanyol waktu itu bahkan hidup berdampingan tiga agama. Di bawah sistem pemerintahan Islam, tiga agama ini hidup aman dan tenteram. Uniknya, meski syariat Islam berlaku untuk seluruh warga, yakni muslim maupun nonmuslim, semuanya merasa terlindungi di bawah kekuasaan Islam. Jadi, tidak terbukti jika ada yang mengatakan bahwa Islam menindas nonmuslim.

Bolehkah menikah beda agama?

Sebagai manusia yang berakal kita dibekali oleh Allah kemampuan berpikir. Tak hanya itu, ada kewajiban bagi kita yang sudah baligh untuk terikat pada hukum syara’. Hukum yang bersumber dari Allah, Sang Pembuat Hukum. Jadi bukan hukum semau saya. Karena surga dan pahala bukan saya yang memberikan tapi hak Allah semata. Maka, wajar jika hukum pun harus tunduk pada aturan Allah saja.

Allah berfirman dalam qur’an surat Mumtahanah ayat 10 yang artinya, ” Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami) mereka mahar yang telah mereka berikan. Dan tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu bayarkan kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta kembali mahar yang telah kamu berikan; dan (jika suaminya tetap kafir) biarkan mereka meminta kembali mahar yang telah mereka bayarkan (kepada mantan istrinya yang telah beriman). Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”

Ayat ini menjadi dalil keharaman bagi muslimah menikah dengan lelaki kafir. Maka, cukuplah bagi kita ketentuan ini. Tak usah lagi mencari pembenaran atas nama cinta. Karena cinta pada makhluk tak kan abadi. Yang abadi hadir setelah penghisaban nanti.

Siapkah kita bertanggungjawab jika nekat menabrak aturan ilahi di dunia ini?

Semoga Allah lindungi kita selalu, jaga kita selalu agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan.

Wallahu’alam bish shawab.