Dunia Kesehatan Dalam Daulah Islam

Spread the love

Oleh Rifka Fauziah Arman,A.Md.Farm

(Tenaga Kefarmasian dan Pendidik)

#MuslimahTimes — “The Bad Year” menjadi sebutan untuk tahun 2020 yang telah berakhir dengan berbagai problematika yang disertai dengan pandemi yang masih merajalela hingga saat ini. Banyak sekali hal yang terjadi di penutupan tahun 2020 ini seperti kabinet baru, korupsi bantuan sosial selama pandemi dan masih menjadi fokus hingga saat ini tentu saja pandemi covid-19.

 

Meningkatnya pasien yang terkonfirmasi positif covid-19 hingga saat ini pada tanggal 05 Januari 2020 sudah 779.548 dengan pasien sembuh 645.746. Pasien yang terus bertambah bahkan dibulan Desember ini mencapai 8.000 lebih per harinya. Jumlah pasien sembuh dan yang terkonfirmasi positif masih terus kejar-kejaran, tidak pernah menurun secara signifikan malah terkesan naik secara perlahan.

 

PSBB yang masih terus berlanjut di berbagai daerah zona hitam, merah, kuning maupun orange tidak bisa menurunkan angka pasien yang terkonfirmasi positif apalagi menekan banyaknya korban kematian akibat pandemi ini.

 

Dan yang menjadi fokus terbaru selain pasien adalah para tenaga kesehatan yang semakin menipis akibat banyaknya tenaga kesehatan yang menjadi korban meninggalnya akibat pandemi ini karena setiap hari harus melayani pasien yang positif covid-19 maupun pasien lainnya. Nakes (Tenaga Kesehatan) yang mulai kewalahan dan kelelahan hingga banyak sekali rumah sakit yang sudah penuh dengan pasien yang dirawat dan tak mampu menampung pasien yang positif dari berbagai daerah.

 

Tercatat sudah sejak Maret hingga Desember 2020 sudah 504 Nakes yang meninggal akibat covid-19. Yang terdiri dari 237 dokter, 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker dan 10 tenaga laboratorium medis. Data ini telah terdaftar dan dikonfirmasi oleh berbagai komunitas nakes seperti IDI (Ikatan Dokter Indonesia), PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia), IBI (Ikatan Bidan Indonesia) dan masih banyak lagi. (nasional.kompas.com 02/01/2021)

 

Sampai pada bulan Desember ini menjadi pemecah rekor untuk nakes yang wafat akibat covid-19 sebanyak 52 orang dan Indonesia menjadi negara  5 besar dengan kematian nakes terbanyak di seluruh dunia dan paling tinggi di Asia. Ini merupakan tamparan besar bagi pemerintah karena dengan bertambahnya nakes yang wafat semakin berkurang nakes di Indonesia untuk melayani pasien. (Kompas.com 02/01/2021, Tempo.co 03/01/2021)

 

Seperti diberitakan Kompas.com, 31 Agustus 2020, epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan berdasarkan data Bank Dunia, jumlah dokter di Indonesia terendah kedua di Asia Tenggara, yaitu sebesar 0,4 dokter per 1.000 penduduk. “Artinya, Indonesia hanya memiliki 4 dokter yang melayani 10.000 penduduknya. Sehingga, kehilangan 100 dokter sama dengan 250.000 penduduk tidak punya dokter,” kata Dicky. (Kompas.com 29/12/2020)

 

Banyak peningkatan yang terjadi di akhir tahun dan menjelang awal tahun disebabkan beberapa faktor seperti libur sekolah, libur akhir tahun dan kebijakan pemerintah yang tidak tegas dan menangani pandemi ini. Pemerintah yang kurang cekatan dan tidak bisa mengambil keputusan yang pasti menjadi permasalahan terbesar dalam kondisi seperti ini. Sudah jelas dengan fakta kasus yang semakin bertambah tetapi yang dilakukan hanya memperpanjang aturan PSBB yang sudah jelas tidak membuahkan hasil sama sekali. Hal ini juga menjadi penyebab banyaknya rakyat yang mengabaikan protokol kesehatan dan mementingkan liburan yang sempat tertunda pada libur panjang idul fitri lalu. Berbondong-bondong rakyat Jakarta pulang ke kampung halaman bahkan sekarang semakin mudah untuk pergi ke luar kota. Semakin banyaknya korban, maka akan semakin banyak nakes yang dibutuhkan.

 

Ini juga menjadi masalah karena kekurangan SDM yang tidak sebanding dengan pasien yang datang ke rumah sakit. Rumah sakit juga sekarang yang menjadi lahan bisnis bagi para kapitalis untuk memberikan keuntungan sebanyak-banyaknya melalui pelayanan tes covid-19 maupun menampung pasien covid-19 agar mendapat bantuan dana dari pemerintah.

 

Belum lagi muncul vaksin yang sekarang sedang dibagikan secara gratis untuk nakes terlebih dahulu. Vaksin gratis yang masih diragukan keakuratan dan efektivitasnya bagi rakyat Indonesia dan nakes menjadi yang pertama untuk menggunakannya. Nakes juga yang kematiannya kurang dihargai dan di apresiasi oleh pemerintah. Nakes meninggalkan keluarganya seperti anak dan istri yang seharusnya tetap terjamin kehidupannya oleh pemerintah setelah perjuangan suami yang sudah berjuang dalam menangani pasien covid-19 hingga mempertaruhkan nyawa dan waktu mereka.

 

Semakin carut marutnya dunia kesehatan yang menjadi sangat penting dikala pandemi seperti ini.  Dengan kondisi baru saja menteri kesehatan yang diganti tetapi masih belum ada kebijakan apapun untuk menurunkan dan menekan pandemi ini. Semuanya ini berinti pada satu yaitu pemerintah dan kebijakannya. Dimana sistem yang digunakan bukan lagi sistem yang berasal dari sang pencipta. Sistem yang dianut dan diterapkan pada zaman daulah (negara) islam terdahulu yang melahirkan banyak ilmuwan dan terkenal dengan dunia kesehatan yang paling maju dan terbaik dimasanya.

 

Sejak zaman Rasulullah SAW sudah diajarkan bagaimana cara hidup sehat seperti meminum habbatussauda, bekam, memakan kurma dan masih banyak yang lainnya. Tidak hanya itu saja, Rasul juga mengajarkan bagaimana menjaga lingkungan yang sehat dan bersih sehingga untuk menciptakan kehidupan yang sehat tidak hanya pada pemerintah atau pemimpin saja tetapi menjadi tanggung jawab seluruh rakyat.

 

Pada zaman setelah Rasulullah SAW juga melahirkan banyak sekali ilmuwan-ilmuwan yang menciptakan ilmu baru dalam dunia kesehatan seperti Jabir Al-Hayan atau Geber (721-815 M)  yang terkenal dengan penemuan teknologi destilasi, pemurnian alkohol untuk desinfektan hingga mendirikan apotek pertama kali di dunia di Baghdad.

 

Pada abad ke-9 Ishaq bin Ali Rahawi yang menulis kitab tentang kode etik kedokteran. Al-Kindi yang menemukan alat ukur dalam dunia kedokteran. Kemudian ada Abu Qasim Az-Zahrawi yang dikenal dengan sebutan bapak ilmu bedah modern. Ibnu Sina yang menemukan thermometer, bahkan pada zaman kekhilafahan Turki sudah ditemukan vaksin walaupun inggris mengaku sudah menemukannya terlebih dahulu padahal mereka mengambil sampel dari Turki Utsmani.

 

Semua ini tentu saja bisa terjadi karena adanya Khilafah dalam sebuah negara. Negara menjamin negara dengan lingkungan yang sehat, menerapkan kehidupan yang sehat secara bersama-sama dan menyediakan tenaga kesehatan profesional yang bisa menjamin kesehatan seluruh rakyatnya.

 

Pada zaman saat khilafah diterapkan banyak sekali di dirikan rumah sakit dan rakyat dilayani secara gratis karena memang pemerintah dan negara sudah seharusnya menjamin ketersediaan tersebut. Bahkan sampai menjadi favorit para pelancong asing saat mengunjungi daulah islam saat itu karena bagusnya pelayanan dan gratis bagi siapapun yang datang ke rumah sakit.

 

Semua rumah sakit ini juga dilengkapi dengan nakes-nakes yang sudah terjamin dan terkompetensi dengan baik. Nakes yang dijamin juga kehidupannya oleh daulah beserta keluarganya dan dianggap sebagai pahlawan dalam dunia kedokteran. Rumah sakit yang juga dilengkapi dengan aturan kemurnian obat, kebersihan dan kesegaran setiap sudut rumah sakit sampai pemisahan pada pasien-pasien penyakit tertentu. Bukan rumah sakit yang dijadikan sumber bisnis bagi para kapitalis.

 

Semua ini tentu saja bisa didapat hanya dengan menerapkan khilafah di muka bumi ini. Sehingga pandemi ini pun bisa tertangani dengan baik karena bukan hanya rakyat saja yang diminta untuk isolasi tapi juga ketersediaan rumah sakit yang bersih dan memenuhi standar kelayakan hingga nakes yang memadai. Begitu juga pemerintah yang tentu harus memenuhi dan menjamin semua itu bisa terlaksana dan tertangani dengan baik. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *