Efek Gas Rumah Kaca, Emisi Karbon Penyebabnya?

Spread the love

 

Oleh. Sherly Agustina, M.Ag

(Penulis dan pemerhati kebijakan publik)

MuslimahTimes.com – Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Ahzab (surat ke-33) ayat 72, “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.

Perubahan iklim yang terjadi di Indonesia, tak terkecuali di dunia internasional tengah menjadi sorotan. Studi baru menunjukkan Indonesia sebagai penyumbang utama perubahan iklim, hal ini membuat Indonesia berada di peringkat ketiga setelah AS dan Cina. Penyebabnya adalah perusakan hutan, degradasi lahan gambut dan kebakaran hutan (ditjenppi.menlhk.go.id).

Dalam Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP26) di Glasgow, Skotlandia, 1 November 2021, Presiden RI, Joko Widodo, hadir sebagai anggota. Conference of the Parties (COP) 26 United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) adalah konferensi yang dihadiri oleh para pemimpin negara di dunia, membahas tentang perubahan iklim yang terjadi akhir-akhir ini. Dilansir dari tempo.com (23/11/21), dalam pidatonya Jokowi mengatakan Indonesia terus berkontribusi dalam penanganan iklim. Pemerintah berhasil menekan kebakaran hutan dan deforestasi, di tahun 2020 deforestasi turun menjadi 115 ribu hektare, terendah dalam 20 tahun terakhir.

Namun, isi pidato Jokowi menimbulkan pertanyaan dari aktivis lingkungan Indonesia yang ikut dalam perhelatan di Glasgow. Di antaranya Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Greenpeace Indonesia, dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Mereka menggelar konferensi pers, dengan tema “Tanggapan atas Pidato Presiden Jokowi pada COP26”, Rabu, 3 November lalu.

Aktivis lingkungan mempertanyakan klaim penurunan angka deforestasi, karena data yang ada di lembaga lingkungan internasional deforetasi di Indonesia secara rata-rata justru meningkat. Setidaknya deforestasi sebesar 2,45 juta hektare terjadi pada tahun 2003-2011. Apabila dibandingkan dengan periode 2011-2019 jumlahnya mencapai 4,8 juta hektare. Padahal, Indonesia sudah memiliki komitmen menekan laju deforestasi.

Emisi Karbon Tinggi, Kapitalisme Biang Keladi 

Memang, ada penurunan data deforestasi pada tahun 2019-2020. Keterangan dari Greenpeace penurunan tersebut tidak lepas dari pandemi covid-19 yang melanda Indonesia, pandemi membuat aktivitas pembukaan lahan terhambat. Masih menurut Greenpeace, selama hutan alam tersisa masih dibiarkan ada dalam area konsesi, deforestasi di masa depan akan tetap tinggi (tempo.com, 13/11/21).

Perubahan iklim yang terjadi adalah fakta, pandemi memiliki hikmah tersendiri salah satunya mengurangi emisi karbon sehingga membuat alam bisa istirahat sejenak dan memiliki udara yang bersih. Namun, mengapa terjadi perubahan iklim dan efek gas rumah kaca pasti ada andil manusia. Karena manusia yang selama ini mengelola dan memakai kekekayaan alam yang ada di muka bumi. Lalu, benarkah penyebabnya ialah emisi karbon yang tinggi baik dari deforestasi atau pun yang lainnya?

Dikutip dari ditjenppi.menlhk.go.id, emisi tahunan Indonesia dari sektor kehutanan dan perubahan peruntukan tanah diperkirakan setara dengan 2.563 megaton karbon dioksida (MtCO2e), jauh di atas jumlah emisi tahunan dari sektor energi, pertanian dan limbah yang besarnya 451 MtCO2e. Untuk perbandingan, total emisi Cina sebesar 5.017 dan AS sebesar 6.005 MtCO2e, sedangkan total emisi Indonesia adalah 3.014 MtCO2e. Maka terlihat jelas, Indonesia peringkat ketiga di dunia dalam menyumbang emisi karbon.

Analisis terbaru dari The Nature Conservancy, WRI (World Resources Institute) dikatakan hutan merupakan kunci bagi 6 dari 20 solusi iklim alami yang diidentifikasi dan dapat mengurangi 11,3 miliar metrik ton emisi gas rumah kaca per tahun. Jumlah itu setara dengan pemberhentian konsumsi minyak dunia. Bahkan, mencapai satu per tiga target untuk menekan pemanasan global hingga 2°C di atas tingkat pra industrial, ambang batas untuk menghindari dampak perubahan iklim yang merusak di tahun 2030.

Hasil dari COP26, negara-negara yang masuk menjadi anggota harus berkomitmen menjaga alam di antaranya dengan mengurangi deforestasi bahkan hingga titik nol. Walau Indonesia berkelit, tidak mungkin meghentikan deforestasi yang ada adalah mengurangi saja. Dengan alasan, adanya deforestasi untuk pembangunan misal membuat jalan di suatu tempat yang sangat dibutuhkan karena terhalang hutan.

Namun faktanya, benarkah pembangunan tersebut membuat jalan atau sarana yang memang urgen dibutuhkan rakyat? Masih hangat dalam ingatan di tahun sebelumnya, terjadi pembakaran lahan hutan di pulau Sumatera dan Kalimantan. Kabut asap menyelimuti penduduk berbulan-bulan, sampai ada yang terganggu pernafasannya. Ketika dilihat lahan pembakaran tersebut, sudah ditanami benih sawit.

Sistem yang digunakan saat ini dikuasai oleh para korporat, Kapitalisme telah mengajarkan manusia menjadi orang yang rakus terhadap dunia. Tak peduli meski harus banyak mengorbankan orang lain agar tujuan materi bisa diraih. Ya, Kapitalisme biang keladinya yang membuat manusia silau akan dunia yang sebenarnya fana (rusak). Emisi karbon tinggi yang terjadi, bagian dari efek liarnya manusia mengeksploitasi bumi tanpa aturan yang shahih.

Islam Sistem Paripurna Menjamin Kelestarian Alam dan Kesejahteraan Rakyat

Kemudian, muncul wacana untuk mengatasi agar emisi karbon berkurang. Salah satunya dengan pengalihan bahan bakar transportasi menggunakan listrik. Kalaupun ini bisa menjadi salah satu solusi, jika Kapitalisme yang masih digunakan maka kemungkinan akan menjadi lahan basah bisnis para korporat. Rakyat, hanya bisa gigit jari melihat para pejabat saling berkelindan mesra dengan korporat.

Berbeda jika Islam yang digunakan sebagai aturan, maka akan dioptimalkan untuk kepentingan rakyat. Tak ada kepentingan apapun selain menunaikan amanah sesuai syariah, bahwa kekayaan alam hanya untuk kemakmuran rakyat. Islam memiliki konsep unik dalam pengelolaan harta kepemilikan.

Umat tentu tak bisa hanya diam melihat semua kerusakan ini, harus ada pergerakan dan perubahan yang dimulai dari penyadaran pada umat. Bahwa ada yang tidak beres dengan aturan main kehidupan di dunia saat ini. Jika dibiarkan, bumi akan semakin rusak tak terkendali. Sebagai muslim, tentu akan ditanya oleh Allah, “Apa saja yang sudah dilakukam di dunia, digunakan untuk apa segala potensi dan kesempatan yang Allah beri?

Dakwah menjadi satu-satunya yang harus segera dilakukan untuk menyelamatkan umat dan alam semesta. Bahwa hanya dengan Islam, alam akan tentram dan terjaga kelestariannya. Hutan yang menjadi salah satu harta kepemilikan umum dalam negara Islam, akan dikelola oleh negara hanya untuk kemakmuran rakyat. Sebagaimana sabda Baginda Nabi saw.: “Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api. ” (HR. Abu Dawud).

Tidak ada aktivitas eksploitasi kekayaan alam, yang ada bagaimana mengelola kekayaan alam yang ada di darat, laut, dan udara dengan sebaik-baiknya sesuai syariah. Di darat misalnya, ada lahan yang difokuskan untuk pertanian, perhutanan dan perkebunan yang tidak bisa diotak-atik. Ada lahan khusus penduduk yang dimudahkan sarana transportasinya. Orientasi sistem Islam adalah bagaimana rakyat sejahtera dalam naungan syariah, doronganya akidah dan ingat bahwa suatu saat pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti.

Siapa pun yang beriman pada Allah, yakin bahwa hanya aturan Allah yang membawa kebaikan. Kebaikan pada manusia, alam dan seluruh ciptaan-Nya. Lalu, masihkah berharap pada aturan selain Allah bagi yang berpikir dan beriman? Allah Swt. telah berpesan dalam firman-Nya, “Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi“. (QS. Al Baqarah [2]: 11).

Allahu A’lam bi ash Shawab.