Fenomena Citayam, Akidah Remaja Makin Runyam

Spread the love

Oleh: Yuke Octavianty
(Forum Literasi Muslimah Bogor)

 

Muslimahtimes-Citayam Fashion Week semakin menyedot perhatian publik. Komunitas remaja SCBD semakin membuncah dan beraksi di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat.

SCBD awalnya dikenal sebagai Sudirman Central Business District. Namun, kini SCBD dikenal sebagai Sudirman Citayam Bojong Depok, tempat asal para remaja tersebut. Ramainya kawasan ini pun akhirnya viral di media sosial. (detiknews.com, 21/7/2022)

Kawasan tersebut menjadi lokasi para remaja berlenggak lenggok bak model, ada juga yang sekadar nongkrong-nongkrong atau hanya bersenda gurau. Yang penting eksis dengan model pakaian serba unik dan nyentrik.

Para pejabat pun mengapresiasi para remaja ini. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mendukung penuh kreativitas tersebut. Alasannya kegiatan ini adalah suatu inovasi yang dapat meminimalkan kegiatan membahayakan diri sendiri, seperti tawuran dan lainnya. (CNNINdonesia.com, 21/7/2022)

Tak hanya dukungan penuh, Ridwan Kamil pun ikut beraksi unjuk gaya fashion show bersama para drivers ojol yang tengah menanti orderan di kawasan Taman Dukuh Atas. Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta pun menegaskan bahwa Citayam Fashion Week masih bisa terus berlangsung selama tidak ada regulasi yang melarang. Berikut disampaikan Anies Baswedan menanggapi larangan yang sempat dikeluarkan Pemerintah Kota Jakarta Pusat.
(pikiran-rakyat.com, 22/7/2022)

Tak hanya itu, duta nongkrong pun disematkan kepada salah satu di antara mereka. (tribunnews.com, 20/7/2022). Seolah sebagai aktivitas yang harus didukung dan difasilitasi.

Rizqi Awal, Praktisi Media, menyebutkan bahwa, fenomena ini sebagai salah satu bentuk latah remaja muslim yang terbuai konten-konten sampah (mediaumat.id, 12/1//2022). Terutama melalui aplikasi TikTok. Dan situs inilah yang digandrungi sebagian remaja SCBD yang kini tengah jadi trendsetter. Untuk mengekspresikan eksistensi diri. Demi kepopuleran sesaat.

Aktivitas para remaja yang hanya sekedar nongkrong, kongkow, ngobrol, atau jenis aktivitas lain sejenis, tanpa memperhatikan aturan-aturan kehidupan, menunjukkan bahwa mereka minim tujuan hidup. Tak mengetahui, visi misi kehidupan yang seutuhnya. Gaya hidup bebas (liberalis)
dengan tujuan materialistis menjadi simbol yang sangat tampak dari komunitas ini. Tentu saja, yang dihasilkan hanya kemudharatan dan kemaksiatan. Disinyalir, kegiatan ini sebagai bentuk kreativitas remaja untuk menuangkan ide dan segala perasaan yang mereka rasakan. Namun,
faktanya, kegiatan ini adalah kegiatan nirmanfaat.

Inilah produk sistem sekuler liberalis, yang bersifat kapitalistik. Pemisahan aturan agama (baca: Islam) dari kehidupan membuahkan segala kerusakan dalam kehidupan. Ditambah gaya hidup hedonis yang meniru barat. Pastinya berujung pada pencapaian materi sebesar-besarnya tanpa peduli halal haram. Mereka pikir hal ini adalah suatu kemajuan. Padahal pemikiran ini adalah pemikiran keliru yang membuat kita lemah dan tak bisa bangkit dari kondisi yang semakin memburuk dari hari ke hari.

Pertanyaan besarnya, betulkah semua bentuk kenakalan remaja seperti tawuran, seks bebas, kekerasan pergaulan, narkoba atau kenalan remaja lainnya dapat dibendung dengan aktivitas serupa demikian?

Jawabannya tidak. Aktivitas unfaedah ini justru hanya berujung pada pergaulan bebas dan berbagai kemaksiatan lainnya. Hingga akhirnya meruntuhkan akidah generasi muda. Mereka pun lupa hakikat inti kehidupan.

Seharusnya energi besar yang dimiliki generasi muda diaruskan untuk kebangkitan generasi. Memperbaiki keterpurukan negeri. Dengan pembinaan berbasis syariat Islam yang menyeluruh. Agar potensi yang dimiliki sepenuhnya tercurah hanya untuk ridho Allah Swt, bukannya malah difasilitasi atau diapresiasi.

Dan tentu saja, hal ini adalah tanggung jawab negara sebagai institusi penjaga umat. Tanggung jawab negara untuk membina dan mendidik generasi agar cemerlang dunia akhirat. Bukan hanya memikirkan kesenangan dunia yang berujung pada laknat Allah Azza wa Jalla.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat: Ayat 56)

Kini, saatnya menyadarkan generasi muda. Generasi emas pemegang ujung tombak peradaban.Menyadarkan tentang tujuan utama kehidupan yang Allah Swt ciptakan, yaitu hanya untuk beribadah kepada-Nya. Sungguh, generasi muda adalah salah satu pemegang ruh kebangkitan yang sesungguhnya.

Wallahu a’lam bisshowwab.