Fenomena “Ngemis Online”, Eksploitasi Kemiskinan Berbasis Teknologi

  • admin
  • January 18, 2023
  • Comments Off on Fenomena “Ngemis Online”, Eksploitasi Kemiskinan Berbasis Teknologi
Spread the love

Oleh. Yuli Ummu Raihan
(Penggiat Literasi)

Muslimahtimes–Bagi masyarakat yang aktif di media sosial khususnya TikTok tentu pernah atau mungkin sering melihat siaran langsung seseorang sedang berendam dalam sebuah bak, kolam, sungai, bahkan mandi lumpur. Fenomena ini menjadi perhatian publik lantaran kerap seliweran di For Your Page (FYP) pengguna. Konten semacam ini kian hari kian banyak karena ternyata bisa mendatangkan cuan melalui gift alias hadiah dari penonton.

Para konten kreator ini melakukan aksi mulai dari mengguyur diri sendiri, berendam di kolam, bak, atau sungai, hingga mandi lumpur berjam-jam. Semakin lama dan semakin banyak yang menonton serta memberikan gift, maka semakin banyak cuan yang dihasilkan. Maka, tidak heran banyak orang melakukan hal yang sama.

Biasanya di TikTok ada semacam Sultan atau orang yang memang suka bagi-bagi uang apalagi kalau kontennya viral dan menarik. Koin atau gift tersebut diperoleh penonton dengan melakukan top-up alias membeli koin menggunakan uang mereka. Harga masing-masing gift bervariasi. Ada yang berupa mawar, topi, minuman, paus, singa hingga universe yang jika diuangkan nilainya bisa jutaan rupiah. Fenomena ini semakin meresahkan lantaran karena mengeksploitasi orang tua hingga lansia. Mereka duduk di sebuah kursi atau berendam di tengah bak menunggu penonton memberikan gift, kemudian akan berkata, “Terima kasih orang baik, lalu akan menguyur tubuhnya dengan segayung air, atau bak, atau melakukan hal lain sesuai ketentuan yang telah ditulis di layar.

Banyak yang menduga para orang tua dan lansia ini disuruh oleh orang lain. Mereka tentu memiliki keterbatasan untuk membuat akun, dan mempergunakannya. Tidak mungkin mereka punya inisiatif sendiri melakukan hal semacam ini.

Mengapa Fenomena “Ngemis Online” Semakin Marak?

Menurut Sosiolog dari Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, sebetulnya fenomena ini bukan hal baru. Fenomena ini mulai membesar sejak pandemi Covid-19. Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian. Hampir semua kegiatan beralih ke digital. Mulai dari belajar, bekerja, hingga mencari penghasilan dilakukan secara digital. Masyarakat mulai mencoba berbagai kreativitas untuk bisa menghasilkan uang. Menurut Devie, konten mengemis online ini dianggap menguntungkan karena mudah, murah, dan akan lebih luas jangkauannya. (BBCNewsIndonesia, 13/01/2023)

Alasan lainnya karena adanya tuntutan kebutuhan yang harus dipenuhi sehingga memilih jalan pintas dengan mengemis online. Sementara mereka yang menonton dan menyawer biasanya terbawa perasaan kasihan. Devie juga tak menampik kalau konten semacam ini diorganisir oleh sindikat kejahatan.

Dirjen Infomarsi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo, Usman Kansong, mengatakan pihaknya masih mendalami kategori konten jenis ini apakah termasuk konten negatif atau bukan. (CNNIndonesia.com)

Kepala Dinsos Sragen sekaligus Kepala Unit Pelayanan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan (UPTPK) Kabupaten Sragen, Finuril Hidayati, mengatakan bahwa pengemis online itu tidak mendidik karena menunjukkan mental miskin atau meminta-minta. Hal ini menjadi musuh terbesar dalam penanggulangan kemiskinan. (Solopos.com)

Sosiolog dari Universitas Airlangga, Tuti Budi rahayu, juga angkat suara terkait fenomena ini. Menurutnya, hal ini adalah model pengemasan baru dari eksploitasi kemiskinan. Tapi mungkin ada juga yang berderma karena menganggap konten ini sebagai model permainan layaknya game online. (Republika.co.id, 9/1/2023)

Menanggapi hal ini Menteri Sosial, Tri Rismaharini, mengingatkan larangan mengemis dalam aturan yang berlaku termasuk ngemis online. Ia akan segera mengirim surat ke pemerintahan daerah terkait fenomena ini.

Fenomena Ini Harus Segera Dihentikan

Mengemis online ini bisa jadi fenomena yang berkepanjangan jika pengguna TikTok terus menonton dan memberikan gift. Stop menonton live seperti ini. Rasa empati harusnya digunakan pada tempat dan orang yang tepat. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengatakan fenomena ini bahkan bisa menyebar ke platform lainnya sehingga menimbulkan masalah baru. Algoritma platform media sosial membuat pengguna yang pernah melihat, menyukai atau share konten sejenis akan disodorkan konten berkaitan.

Bhima berharap platform media sosial seharusnya memberikan aturan yang lebih ketat terhadap kontennya. Kalau dibiarkan maka platform tersebut akan dipenuhi oleh konten tidak bermutu seperti ini. Dalam sistem kapitalis, keuntungan materi adalah tujuan. Apa pun dimanfaatkan jika itu bisa mendatangkan materi. Kemiskinan dieksploitasi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Tidak peduli apakah hal tersebut merendahkan harkat dan martabat diri sendiri ataupun orang lain. Gaya hidup hedonis juga menjadi faktor pendorong masyarakat hari ini menghalalkan segala cara.

Fenomena ini menggambarkan kondisi masyarakat yang sakit akibat hidup dalam sistem yang rusak. Sistem yang terbukti tidak mampu menyejahterakan rakyatnya. Kemiskinan hari ini terjadi secara struktural. Maka, butuh solusi tuntas untuk menyelesaikannya.

Islam Menyelesaikan Problem Kemiskinan

Kemiskinan adalah fenomena yang begitu mudah kita indra hari ini. Jumlahnya kian hari semakin bertambah. Semua ini adalah imbas diterapkannya sistem kapitalisme. Berbeda halnya jika sistem Islam yang ditetapkan. Karena sistem Islam memiliki mekanisme untuk menyelesaikan masalah kemiskinan.

Islam memandang kemiskinan merupakan sebuah ancaman dari setan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 268 yang artinya: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan.”

Dalam Islam seseorang disebut miskin ketika kebutuhan pokoknya tidak terpenuhi secara baik. Pangan, sandang dan papan secara layak bukan ala kadarnya. Allah Swt menciptakan manusia sekaligus telah menyediakan berbagai sarana untuk memenuhi kebutuhannnya. Allah Swt telah menjamin rezki setiap hamba-Nya. Bahkan tidak ada satu binatang melata pun di bumi ini, melainkan Allah telah sediakan dan dijamin rezkinya.

Masalah kemiskinan hari ini terjadi karena ada masalah pada distribusi harta. Harta berkumpul hanya pada sebagian orang saja, sementara yang lain kesulitan bahkan tidak mendapatkannya. Kemiskinan ada yang terjadi secara natural, kultural dan struktural. Untuk mengatasinya Islam telah memiliki mekanisme tersendiri.

Islam menjamin pemenuhan semua kebutuhan primer bagi setiap individu. Islam membebani kewajiban memberi nafkah kepada laki-laki untuk diri, keluarga dan kerabatnya. Untuk itu negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan. Negara juga boleh memberikan harta atau modal agar seseorang bisa bekerja atau menghasilkan uang agar bisa menafkahi tanggungannya.

Kemiskinan kadang juga dipicu oleh rendahnya kualitas sumber daya manusia, baik dari sisi kepribadian, keahlian. Maka, negara Islam harus menyediakan sarana pendidikan yang memungkinkan terciptanya manusia yang memiliki kepribadian Islam yang kokoh, dan memiliki keterampilan atau keahlian dalam suatu bidang tertentu

Negara Islam akan menyediakan layanan pendidikan yang merata, mudah diakses dan murah, bahkan gratis. Meningkatnya kualitas manusia insya Allah akan meningkat pula kualitas hidupnya. Negara juga akan membuat kebijakan ekonomi yang baik. Mencegah segala hal yang mampu mengacaukan atau merusak iklim ekonomi seperti kecurangan, mafia, praktik riba, penipuan, dan kemaksiatan lainnya.

Negara juga akan memberikan sanksi tegas kepada semua pelaku maksiat dan kerusakan. Seperti fenomena ngemis online yang sengaja mengeksploitasi orang tua, maka akan ditindak tegas. Dengan demikian fenomena ngemis online ini akan bisa dihentikan, masyarakat akan hidup normal dan sehat karna hanya akan mencari rezki dengan cara yang halal. Ada pun tentang perkembangan teknologi, Islam tidak melarang selama hal itu tidak melanggar syariat. Justru kecanggihan teknologi akan dimanfaatkan untuk meri’ayah rakyat agar bisa sejahtera. Wallahua’lam bissawab.