Gagal Penuhi Kebutuhan, Tindak Kriminal Jadi Pilihan

Spread the love

Oleh. Tari Ummu Hamzah

MuslimahTimes.com – Menurut Ketua Bidang Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), M. Isnur, mengatakan bahwa selama pandemi nasional terjadi peningkatan kasus kriminal. Sebab jika ditinjau dari sisi faktor ekonomi saja sudah cukup menjadi alasan seseorang untuk berbuat kriminal. Ditambah lagi pemerintah gagal mememenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama pandemi. Akibatnya terjadilah bencana ekonomi nasional. (tempo.com, 21/4/2020)

Memang benar bahwa faktor ekonomi bisa menjadi penyebab tindakan kriminal. Sebab tidak terpenuhinya kebutuhan dasar seseorang menjadikannya stres. Bahkan banyak yang terpaksa melakukan tindak kriminal.

Fakta tindak kriminalitas baru-baru ini terjadi di wilayah Tangerang dan sekitarnya, yakni masyarakat diresahkan oleh kehadiran para gangster yang nekat melakukan aksi kriminal di tempat umum. Ada beberapa tempat yang diberitakan menjadi tempat kejadian perkara aksi kekerasan gangster, yaitu Taman Cibodas, Kosambi, Cipondoh, Perumnas, Desa Rawa Kidang.

Mirisnya, para pelaku dan korban rata-rata adalah kalangan remaja. Dilansir dari liputan6.com, menurut penuturan tiga remaja yang ditangkap polisi di desa Daon Rajeg 30 November lalu, mereka melakukan tindak pencurian motor dan telepon genggam sebanyak 45 kali.

Tak hanya laporan tindak pencurian, tindak kekerasan menggunakan senjata tajam (sajam) juga terjadi. Peristiwa itu terjadi di Taman Cibodas. Pelaku tiba-tiba menyerang korban, yakni seorang gadis berusia 14 tahun yang berjalan sendirian hendak mencari makan. (tangerangnews.com)

Sungguh aksi ini meresahkan warga Tangerang. Keberadaan gangster seolah momok bagi masyarakat. Masyarakat harus meningkatkan kewaspadaannya saat berjalan sendirian di malam hari. Jelas ini menjadi tanda tanya banyak orang, mengapa mereka melakukan tindakan kriminal dengan cara yang kejam? Apa penyebab timbulnya perilaku kriminal yang nekat membawa-bawa senjata tajam ke mana-mana?

Yang pertama, jelas karena kondisi ekonomi yang mengimpit. Seperti yang dijelaskan di awal, bahwa pemerintah gagal memenuhi tuntutan dasar rakyat selama pandemi. Belum lagi ditambah dengan hebohnya kasus korupsi bansos di kalangan elite pejabat. Hak rakyat menjadi rebutan para pejabat yang haus akan harta. Padahal banyak rakyat menjerit kelaparan.

Belum lagi aktivitas perekonomian dibatasi, harga pangan tetap naik, kelangkaan barang pangan terjadi dimana-mana, masyarakat harus tetap berlomba bertahan hidup di tengah wabah. Ini bisa memicu stres tingkat tinggi di tengah masyarakat. Pada akhirnya beberapa orang yang memiliki penyimpangan perilaku akan mudah melakukan hal-hal yang nekat. Sebab lapisan masalah yang mereka hadapi belum mendapatkan solusi dan uluran tangan pemerintah, masyarakat harus tetap bertahan hidup dan terhindar dari wabah.

Jelas ini menyengsarakan rakyat.

Terlihat jelas bahwa kestabilan ekonomi juga akan memengaruhi kondisi keamanan. Sebab jika ekonomi stabil, kebutuhan pokok rakyat terpenuhi, maka tidak akan ada aksi kriminalitas yang disebabkan karena aksi kelaparan masal. Rakyat yang lapar terkadang harus mendobrak sisi kemanusiaan untuk mendapatkan sesuap nasi.

Selain faktor ekonomi, faktor pendidikan juga memengaruhi kondisi mental seseorang. Seseorang jika dibekali pendidikan berupa pengembangan dan keterampilan, maka akan mempunyai jalan keluar untuk masalah ekonominya. Sebab dia mampu untuk bersaing di dunia kerja, atau menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Akan tetapi pendidikan di negeri kita sungguh tidak merata. Pendidikan murah dan berkualitas sederhanalah yang mampu ditempuh masyarakat kecil. Sedangkan pendidikan yang setara perguruan tinggi dan berkualitas tinggi, hanya mampu diraih oleh orang-orang kelas menegaskan ke atas.

Inilah potret kehidupan di dalam sistem kapitalisme. Kebutuhan mendasar masyarakat sulit untuk terpenuhi. Ditambah lagi sistem ini juga menganut sekularisme, yaitu bentuk kehidupan yang memisahkan kehidupan dengan agama. Sehingga menciptakan masyarakat yang tidak memiliki standar halal dan haram secara hakiki dalam kehidupan mereka. Akibatnya terbentuk pola sikap masyarakat yang hidup “semau gue” atau liberal. Sehingga saat masyarakat melakukan tindak kriminal merupakan buah dari kehidupan yang ditopang dari kehidupan sekuler dan liberal.

Sungguh hidup dalam sistem kapitalis hanya membawa kesengsaraan, serta menjerumuskan masyarakat ke dalam kesesatan berpikir dan bersikap. Sudah saatnya kita menyudahi sistem ini. Karena masyarakat sudah dibuat menderita dengan era kapitalis. Lain halnya dengan sistem Islam. Sistem Islam dengan aturan paripurnanya akan menerapkan aturan Islam yang berpihak kepada umat. Karena Islam sendiri memiliki aturan dalam hal perekonomian dan pangan, yaitu ketersediaannya bahan pangan yang terjangkau, dan distribusi bahan pokok yang merata. Sehingga tidak akan ada ketimpangan ekonomi.

Selain itu, sistem Islam juga akan menciptakan suasana keimanan, sehingga menciptakan suasana keimanan. Jika suasana keimanan kepada Allah menjadi atmosfer utama dalam suatu peradaban, maka ke depannya akan menghasilkan masyarakat yang memiliki pola sikap islami dan memiliki pola pikir Islam.