Gelombang 2 Covid Meruntuhkan Sistem Kesehatan Kapitalis

Spread the love

Oleh: Mia Agustiani

(Pegiat Literasi dan Member Revowriter Majalengka)

 

MuslimahTimes.Com-Prediksi gelombang 2 Covid-19 yang menakutkan terjadi juga. Angka terinfeksi virus melonjak, bahkan dikhawatirkan akan membuat sektor kesehatan kolaps. Jika sistem kesehatan kolaps, maka aspek lainnya pun akan ikut kolaps dan ekonomi akan tumbang.

Dewan Pakar Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra, mendorong pemerintah untuk menerapkan kebijakan yang radikal agar keluar dari lonjakan pandemi Covid-19 saat ini. Hermawan mengatakan pemerintah memiliki dua opsi yang bisa diambil saat ini, yakni PSBB ketat atau lockdown regional. Menurutnya, pilihan yang paling radikal adalah lockdown. (cnnindonesia – 20/06/2021)

Situasi wabah yang sudah menginjak dua tahun semakin tidak terkendali. Adanya kebijakan satu dengan yang lain tidak juga menyurutkan penyebaran virus. Ini menunjukan bahwa sistem kesehatan yang diterapkan oleh kapitalistik saat ini sudah kolaps.

Rumah sakit di setiap daerah sudah penuh dan tidak mampu menampung pasien, hingga banyak pasien yang ditolak. Kenapa hal ini bisa terjadi? Bukankah sudah banyak kebijakan yang diambil untuk menahan laju penyebaran virus. Dimulai PSBB hingga PPKM Mikro dan darurat saling tambal sulam.

Faktanya kebijakan tersebut sudah gagal. Pemerintah tidak merujuk pada saran para ahli untuk mengunci daerah terinfeksi. Alhasil kini virus malah menyebar ke seluruh pelosok negeri. Pemerintah masih mempertimbangkan ekonomi daripada mengutamakan kesehatan rakyat. Ekonomi pun tidak kunjung membaik di tengah taruhan nyawa rakyat.

Sebaliknya rakyat selalu disalahkan karena ketidakpatuhan terhadap prokes. Pemerintah menyuruh diam di rumah, namun kebutuhan rakyat selama di rumah tidak terpenuhi. Itu cukup menjadi bukti bahwa kebijakan selama ini hanya lip service semata.

Kebijakan lockdown yang disarankan banyak ahli pun terdengar seperti embusan angin. Padahal konsep tersebut telah terbukti dapat menekan angka penyebaran Covid-19. Pemerintah bingung dan tidak kompeten dalam menerjemahkan solusi lockdown pada sistem kapitalisme. Kepentingan korporasi masih menjadi idola untuk didahulukan.

Sayang bukan kepalang, hari ini kebijakan yang dilaksanakan setengah hati. Menunjukan ketidakmampuan negara dalam meri’ayah rakyat. Hilang sudah wibawa kepemimpinan mereka di mata rakyat. Negara memang sudah salah langkah sejak awal penanganan pandemi.

Seandainya di 14 hari pertama dilakukan penguncian, maka penyebaran virus akan dapat dikendalikan. Virus tidak akan menyebar luas, nyawa rakyat terselamatkan dan sektor kesehatan tidak akan kewalahan. Gelombang Covid-19 kedua tidak akan pernah dirasakan negeri ini. Sektor kesehatan akan mampu survive dan ekonomi pun aman.

Kini, rakyat menyadari bahwa sistem kapitalisme yang digaungkan telah membuat sistem kesehatan tumbang pada gelombang kedua. Rakyat sudah bertaruh nyawa tanpa dihargai dan diurusi meski keadaan sudah gawat darurat. Sungguh zalim.

Kegagalan pandemi Covid-19 saat ini bukan sekadar kesalahan pada aspek kesehatan saja. Hal ini terjadi secara sistematis, maka penyelesaiaannya pun membutuhkan sistem secara menyeluruh, yakni wajib menyentuh segala bidang. Tiada lain perubahan sistem pengelolaan negara dari kapitalisme menuju solusi pasti, yakni ideologi Islam.

Menangani situasi tidak terkendali ini butuh solusi praktis yang tidak hanya dijalankan oleh masyarakat, tetapi umat butuh sistem yang mampu melakukan perubahan secara mendasar. Maka kesadaran umat di sini sangat diperlukan. Keinginan perubahan dari umat akan memunculkan perubahan secara sistemik. Perubahan mendasar tentang keinginan bangkit dari keterpurukan sistem kapitalisme. Karena tidak akan pernah ada dalam kamus kapitalis untuk mendahulukan kepentingan rakyat. Sudah menjadi prinsip kapitalisme bahwa yang kuat yang pasti menang. Rakyat harus mencari selamat sendiri, meski ini sudah gawat pandemi. Negara tetap melenggang pada kepentingan korporasi. Lebih melek investasi daripada mengurusi kesejahteraan umat.

Solusi Syari’at

Kenyataan yang sudah membelalakan mata pun belum sanggup membangkitkan umat dari keterpurukan. Umat yang banyak namun tak beriak tanda tidak punya kekuatan. Nyawa seolah tidak berharga di bawah kepemimpinan sistem kapitalisme.

Apalah arti mengejar ekonomi, apabila nyawa banyak hilang dan sistem kesehatan hampir kolaps. Sebaliknya dengan menghargai satu nyawa saja, maka sistem kesehatan akan terjamin. Selanjutnya keterpurukan ekonomi dapat dengan mudah diperbaharui jika rakyatnya selamat.

Urgensi dakwah Islam ideologis sangat diperlukan dalam rangka mengedukasi rakyat untuk mengokohkan keimanan dan pemahaman akan kesempurnaan sistem Islam. Islam memiliki cara yang sudah terbukti mampu mengatasi pandemi.

Salah satu hadis Rasul pun sangat bijak dalam menyikapi wabah, “Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi suatu wabah dan kalian sedang berada di tempat itu, maka janganlah kalian keluar darinya.” (HR. Muslim).

Cara jitu pertama, adalah dengan lockdown. Merujuk pada hadis di atas, yaitu adanya penguncian pada daerah yang terkena wabah. Pada kurun waktu tertentu rakyat dilarang untuk saling berkunjung pada daerah yang terkena wabah, begitupun sebaliknya.

Solusi lockdown harus total, menyuruh rakyat untuk tinggal di rumah tentu dengan memenuhi kebutuhannya selama berada diam di rumah. Pusatkan perhatian rakyat untuk memutus rantai penyebaran virus. Kebutuhan pangan, kesehatan dan pendidikan dipenuhi oleh negara. Rakyat pasti patuh pada kebijakan lockdown yang diambil negara. Kebijakan tersebut sebagai bukti sistem Islam mampu meri’ayah rakyat meski saat pandemi. Menghentikan aktivitas masyarakat sementara waktu dapat dilakukan, mengingat nyawa rakyat lebih berharga daripada ekonomi.

Kedua, isolasi orang yang sakit. Pisahkan tempat tinggal antara orang sakit dan yang sehat. Membangun rumah sakit khusus terinfeksi Covid-19. Dengan begitu orang sakit akan cepat sembuh dan orang sehat tidak akan terinfeksi karena tempat yang berbeda.

Dengan pemisahan antara yang sehat dan yang sakit, maka penanganan pandemi tidak akan berlarut-larut. Nyawa rakyat tidak akan hilang sia-sia. Islam sangat menghargai nyawa seseorang. Bagi Allah, hilangnya nyawa seorang muslim lebih besar perkaranya dari hilangnya dunia.

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Tirmidzi 1455, dan disahihkan Al- Albani)

Hal ini harusnya menjadi peringatan agar negara lebih bertanggung jawab mengatasi pandemi demi terselamatkannya nyawa rakyat.

Ketiga, negara mampu mengobati pasien dengan totalitas dengan memberikan pelayanan terbaik, gratis dan mudah. Selama perawatan pasien tidak dibebani masalah biaya, melainkan memberikan pelayanan yang terbaik. Selain itu, memperhatikan keperluan sehari-hari keluarga di rumah yang ditinggalkan. Membebaskan pasien dari segala bentuk tagihan dan beban biaya apa pun selama perawatan.

Ketiga hal tersebut hanya dapat diwujudkan dengan sistem yang selalu totalitas dalam meri’ayah rakyat. Rakyat tidak akan mampu menekan laju penyebaran virus tanpa dukungan penuh dari negara. Kepemimpinan pengauasa dalam sistem. Islam akan mampu menghilangkan pandemi dengan baik sebagai wujud pemimpin yang bertanggung jawab.
Wallahua’lam bishawwab.