Generasi dalam Ancaman Sekularisasi

Spread the love

Oleh. Sherly Agustina, M.Ag
(Penulis dan pemerhati kebijakan publik)

MuslimahTimes.com–Umat Islam adalah umat terbaik, Allah langsung yang memberi label ini. Hal tersebut dinyatakan dalam firman-Nya surat Ali Imran ayat 110, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”

Namun sayang, predikat tersebut saat ini tercoreng karena maraknya kebebasan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh umat Islam. Seperti yang dilansir dari CNNIndonesia (9/12/21), menurut Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Pribudiarta N. Sitepu, kasus kekerasan perempuan dan anak meningkat dalam kurun waktu 2019-2021. Kasus kekerasan pada perempuan baik fisik, psikis dan seksual sebanyak 8.800 pada tahun 2019, turun 8.600 tahun 2020, naik kembali 8.800 per November 2021.

Masih segar dalam ingatan kasus yang sempat viral tentang seorang gadis yang meninggal bunuh diri di samping makam ayahnya. Diduga telah terjadi kekerasan seksual oleh kekasihnya. Selain itu, kasus seorang guru di salah satu pesantren di Bandung pun viral. Mencengangkan, guru tersebut diberitakan melakukan penyelewengan seksual pada beberapa muridnya bahkan sampai hamil dan melahirkan.

Sekularisasi Merusak Generasi

Fakta tersebut membuat miris, karena pelakunya adalah muslim. Lalu, mengapa kekerasan dan kebebasan seksual kian hari kian menggila? Apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan umat Islam saat ini? Apabila diamati, semua yang terjadi tak lepas dari aturan main yang digunakan negeri ini.

Sistem sekularisme yang diterapkan telah membentuk pribadi manusia yang hanya berpikir agama di ranah privat. Hanya memahami bahwa agama di masjid saja, urusan publik seperti pendidikan dan pergaulan misalnya tak usah bawa-bawa agama. Di dunia pendidikan, output yang dihasilkan pribadi yang materialistik dan individualistik, yang paling utama hanya nilai angka dan IQ yang tinggi. Karena untuk menilai tolok ukur pribadi salih dan takwa sulit parameternya.

Dalam pembelajaran, materi agama hanya sekadar dan ala kadarnya saja. Bukan sebagai pondasi yang porsinya lebih besar dari materi yang lain. Maka wajar, jika banyak tingkah laku yang kurang baik karena tidak memiliki pondasi agama yang kuat. Apalagi sistem sekuler telah mengkondisikan bahwa agama hanya hubungan vertikal ibadah saja. Umat Islam terjebak dengan aturan buruk ini, pasrah menerima tak ada penolakan.

Ditambah, jika ada seorang muslim yang ingin benar-benar menjadi hamba yang taat dan salih diberi label radikal dan ekstremis. Muslim selalu diposisikan inferior, sehingga untuk menjadi hamba yang taat dan istikamah sulit. Umat terbawa opini dan provokasi labeling radikal. Akhirnya, umat mencari aman dengan berpikir dan berperilaku moderat.

Bisa dipahami, mengapa predikat umat terbaik sampai saat ini belum benar-benar melekat pada umat Islam seperti yang Allah jelaskan dalam firman-Nya. Karena umat Islam terjebak pada wadah yang salah dan buruk. Allah memerintahkan untuk taat, namun sistem yang ada mengondisikan untuk maksiat. Dengan demikian, banyak kemaksiatan terjadi baik sengaja ataupun tidak sengaja.

Kondisi ini tak bisa terus dibiarkan, karena aturan yang ada sangat merusak. Sekularisasi telah mengobrak-abrik pemikiran dan perbuatan umat Islam. Menjauhkan umat dari ajaran Islam, membuat umat takut untuk menjadi pribadi yang taat, salih dan istikamah. Di dunia pendidikan pun tak lepas dari sekularisasi, yang memberi andil rusaknya generasi.

Islam Satu-satunya Solusi

Islam telah diciptakan oleh Allah untuk mengatur alam semesta dan isinya, sepaket ketika Allah ciptakan manusia dan lainnya. Ketika alam semesta, manusia dan kehidupan rusak berarti ada yang tidak sesuai dengan apa yang Allah ciptakan dan perintahkan. Maka, tak ada pilihan lain selain segera kembali pada aturan Allah saja. Karena Allah Maha Pencipta dan pengatur, pasti tahu apa yang terbaik untuk ciptaan-Nya.

Allah sudah menjelaskan mana yang haram dan halal, yang boleh dan tidak. Semua hanya untuk kebaikan ciptaan-Nya. Di dunia pendidikan, Islam memiliki konsep yang jelas. Akidah menjadi pondasi dalam pendidikan, semua materi pembelajaran tak boleh keluar dari konsep akidah. Islam sangat menjaga akidah umat baik di lembaga formal ataupun nonformal, karena pendidikan bagai satu kesatuan antara rumah, masyarakat dan sekolah.

Tujuan pendidikan di dalam Islam yaitu mencetak output memiliki kepribadian Islam, tsaqafah Islam, dan skill di dunia sains dan kehidupan. Berpikir dan berperilaku sesuai Islam menjadi ciri khas output pendidikan dalam Islam. Sehingga memiliki rem atau self control dalam kehidupan. Selain itu, masyarakat memiliki kepedulian amar makruf nahi mungkar sebagai wujud kasih sayang. Ditambah sistem Islam yang mendorong dan mengkondisikan rakyatnya untuk menjadi hamba yang taat dan salih.

Maka, tipis kemungkinan terjadi penyelewengan seksual karena suasana yang dibangun adalah keimanan. Para istri fokus melayani suami sebaik mungkin karena suami fokus menafkahi istri lahir dan batin. Suami dan istri sibuk melaksanakan hak dan kewajiban masing-masing karena dorongan takwa, semata ingin mendapat pahala. Anak-anak pun mendapat pendidikan yang benar sesuai Islam. Negara memfasilitasi segala kesulitan yang dihadapi rakyat, baik ekonomi, pendidikan, dan lainnya.

Di ranah publik, interaksi antarlawan jenis dijaga dengan memisahkan laki-laki dan perempuan kecuali di dunia pendidikan, kesehatan dan muamalah yang dibolehkan oleh syariah. Umat memahami aturan interaksi dengan baik, sehingga jika terjadi pelanggaran akan saling mengingatkan karena Allah. Siapa yang tidak ingin memiliki aturan yang baik dan sempurna seperti Islam?

Maha Benar Allah dengan firman-Nya di dalam Al Qur’an surat Al Maidah ayat 50, “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?”

Allahu A’lam bi ash Shawab.