Generasi Mi-cin

Spread the love

Oleh. Keni Rahayu
(Penulis Sebab Perasaan bukan Tuhan)

 

Muslimahtimes.com–Bestie, gaswat! Mi instan mau naik harganya loh. Gak tanggung-tanggung, kata Pak Menteri bisa sampai tiga kali lipat (Suara, 10/8/22). Gimana nih gimana? Syedih gak? Gak bisa dimungikiri, Gaes, kita emang secandu itu sama mi instan. Apalagi yang rasa orisinal dengan tagline “seleraku” itu. Ini masih ngomongin mi rakyat ya, kalau mi yang mahal kayak punya oppa-oppa, pasti lebih mahal lagi. Sebelumnya aja udah mahal. Gimana nanti, ya lebih mahal lagi.

Kenapa naik?
Kamu tahu gak mi itu terbuat dari apa? Iya, tepung. Tepung yang dari apa? Gandum. Betul sekali. Sayangnya, gandum ini kita gak produksi sendiri, Bestie. Gandumnya impor. Faktanya, harga gandum itu tidak baik-baik saja semenjak 2021, bukan waktu perang Ukraina-Rusia. Jadi, gandum sudah naik sebesar 68% di tahun 2021. Penyebabnya bahwa ada kegagalan panen karena perubahan iklim, yang gagal terbesar ada di Amerika dan Kanada. Mereka gagal panen dan produksinya turun 40%. (CNBC Indonesia 12/8/22).

Eh ditambah lagi ada perang Rusia-Ukraina. Mereka simpan sendiri stok gandum untuk kebutuhan pangan dalam negeri. Eh, sono gak ngirim ekspor, kita yang gelagepan. Kan ajaib ya? Ya, gini ini kalau berharap sama manusia, eaaa…. Maksudnya, kalau negara kita gak independen punya kaki sendiri perihal pangan, pasti deh kalau ada masalah di negara eksportir solusinya ya naikin harga. Gak ada gitu kepikiran mau mandiri, cari jalan sendiri, perbaiki kuantitas produksi kebutuhan pangan dalam negeri. Iya, swasembada. Kayaknya dulu ada tuh bapak pejabat yang bilang Indonesia mau swasembada pangan. Kini, mana janji manismu?

Kalau dipikir-pikir, kenapa ya kita gak mampu swasembada pangan. Padahal, Indonesia punya lahan sawah luas. Petaninya banyak. Air melimpah, kan negara maritim yak. Masalahnya di mana ya? Oh, ternyata pengaturan negara kita pakai ideologi Kapitalisme. Apa itu? Pandangan hidup yang fokusnya cari untung melulu. Bahkan pemerintah ke rakyat, itung-itungan juga. Kalau untung dikejar, kalau buntung ya ambyar. Jadi mindset penguasa ke rakyat lebih ke untung rugi daripada pelayanan. Maka, wajar kalau kebijakan yang diambil itu yang minum resiko, hasil cepat. Impor pangan mahal, naikin harga.

“Emang harusnya gimana lagi kalau gak gitu? Ah, bisanya julid aja nih netizen Indonesia” . Lho, sabar dulu. Kubisikkan dulu gimana pengaturan Islam bisa realistis gak pesimis kayak pemerintahan hari ini. Sini, ikut aku sini.

Dalam Islam, mindset dasar pengaturan kehidupan itu rakyat dan negara melakukan aktivitas politik. Politiknya definisi syar’i ya gaes, riayatul suunil ummah (mengatur urusan umat). Ya negara, ya rakyat bersinergi mengatur urusan umat. Tapi beda posisi beda cara. Rakyat sebatas muhasabah. Kalau penguasa, beliau-beliau inilah yang punya peran secara langsung dalam meriayah warga negara. Baik berupa pengambilan kebijakan, pengaturan sistem ekonomi, pangan, dan sebagainya. Mindset inilah yang dimiliki penguasa dalam sistem Islam, negara adalah pelayan umat.

Dikutip dari Muslimah Media Center (18/8/22) di akun Youtube-nya, Rasul dan para Khalifah terdahulu pernah menjalankan pengaturan Islam di bidang pertanian. Banyak sekali yang bisa kita jadikan teladan: lahan sawah yang sudah ada dimaksimalkan pemanfaatannya. Negara membantu para petani dalam mengelola lahan pertanian. Airnya gratis. Pupuk dan alat berat disubsidi. Berbagai kebutuhan lain disokong negara. Negara tidak boleh ekspor pangan sebelum kebutuhan per kepala rakyatnya benar-benar terpenuhi.

Selain itu, negara berupaya menambah lahan pertanian. Sebagaimana kita tahu, lahan pertanian erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan pangan. Jangan sampai negara (dan rakyat) tergiur menjual lahan-lahan demi industrialisasi. Negara memotivasi rakyat untuk menghidupkan tanah mati agar dikelola dan dibantu kebutuhan-kebutuhannya. Semua ini dilakukan demi menciptakan ketahanan pangan yang kuat di dalam negeri.

Sayangnya, mindset kapitalisme telah bercokol mencengkeram kuat di benak para penguasa sekuler hari ini. Padahal, hanya Islam yang mampu memanusiakan manusia, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pangan. Oh mi, haruskah aku patah hati merelakanmu dibanderol harga tinggi. Haruskah kita berpisah sebab bagiku kau tak terjangkau lagi.

Dariku, generasi mi-cin.