Generasi Muslim, No Bucin-Bucin Club!

Spread the love

Oleh.Hana Annisa Afriliani,S.S
(Penulis Buku “Percikan Hikmah di Jalan Hijrah”)

Muslimahtimes– “Hari gini nggak punya pacar?! Duh…ketinggalan zaman banget”. Begitulah kira-kira kata anak-anak remaja zaman now. Katanya lagi nih, nggak pacaran nggak asik, nggak gaul. Eits tunggu dulu!! Jangan-jangan kamu terjebak dalam bucin club nih alias Budak Cinta… Nah loh…

Wajib tau nih Dear, bahwa yang namanya rasa suka sama lawan jenis itu fitrah. Nggak bisa dihilangkan. karena emang sudah dari sananya, Allah menciptakan manusia dengan seperangkat naluri dalam dirinya, diantaranya ada naluri beragama (gharizah nau), naluri mempertahankan diri (gharizah baqa), dan naluri melestarikan keturunan (gharizah nau’). Nah, yang terakhir ini nih salah satu penampakannya adalah suka sama lawan jenis. Naksir-naksiran gitu deh. Boleh kok, itu fitrah. Daripada suka sama sesama jenis, nggak sesuai fitrah alias penyimpangan namanya. Hiyy Ngeri!

Tapi menyalurkan penampakan gharizah nau’ tuh ada aturannya ya Dear, nggak boleh sembarangan. Boro-boro bahagia, yang ada hanyalah dosa. Yup, ketika kita suka dengan lawan jenis, nggak boleh tuh bikin kita jadi bucin. Kemana-kemana terbayang wajahnya, sekolah atau kuliah semata-mata karena mau ketemu dirinya, rajin update status berkonten dakwah demi mendapat pujian darinya, dan rajin stalking-stalking IGnya demi memuaskan mata menatap fotonya dan update terus tentang kesehariannya. Naudzubillahi min dzalik…

Tahukah Dear, bahwa semestinya generasi Muslim itu no bucin-bucin club, sebab hal tersebut hanya akan mengotori hati. Betul, jatuh cinta itu fitrah, tapi akan diarahkan kemana cintamu itulah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Bukankah, rasa cinta nggak perlu diikuti kalau justru hal tersebut akan membuat kamu jadi terjebak dalam kemaksiatan? Yup, kemaksiatan berupa zina hati, zina mata, zina telinga, dll

Rasulullah SAW bersabda, “Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata adalah dengan melihat (yang diharamkan), zina hati adalah dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara, kemaluan membenarkan atau mendustakan itu semua.” (HR Ahmad)

Ingatlah Dear, bahwa dalam Islam, tidak halal loh seorang Muslim mengumbar rasa cinta sebelum menikah. So, kalau rasa itu datang, sementara untuk menikah belum mampu, mendekatlah kepada Allah Swt, banyak istigfar, dan sibukkan diri dengan aktivitas kebaikan agar pikiran kita tak melulu teringat tentangnya. Percaya deh, bahwa bucin itu akan pelan-pelan merasuki kita kalau kita terus-terusan ngasih stimulusnya, misalnya dengan terus stalking tentang dia. Nah, bahaya tuh kalau udah gitu..!

Budak cinta hanyalah layak bagi mereka yang jiwanya telah terkontaminasi oleh pemikiran sekuler bin liberal. Menganggap cinta adalah segalanya, maka ia akan dikejar meski tahu itu tak halal. Beneran deh, generasi Muslim itu harusnya mampu menahan diri dari segala sesuatu yang justru akan menjerumuskan ke dalam kemaksiatan. Ingat Allah, ingat dosa. Kuatkan iman kita, niscaya itu akan menjadi rem kita dalam berbuat.

Daripada bucin, lebih baik mendedikasikan waktu-waktu kita untuk hal-hal yang produktif nan bermanfaat. Misalnya mikirin umat dan bergerak untuk perubahan. Sebab kalau kita sedikit aja peka dengan kondisi umat saat ini, kita akan menyadari bahwa umat saat ini sedang berada di ambang krisis. Yup, krisis multidimensi. Umat Islam dihadapkan pada ketidakadilan penguasa, himpitan ekonomi, diskriminasi, dll. Sungguh permasalahan umat kian gawat, nggak layak rasanya kita justru sibuk galau dan tenggelam hanya soal urusan hati.

Banyak fakta membuktikan bahwa gara-gara bucin, para remaja jadi nggak peka dengan sekitar. Padahal Allah Swt memerintahkan setiap Muslim untuk peduli terhadap kondisi umat. Minimal ‘ngeh’ dengan apa yang terjadi. Lebih bagus lagi jika aktif menjadi bagian dari penyeru kebenaran, lantang menyuarakan yang haq dan menentang yang batil.

Dari Anas ra. dari Nabi saw. yang bersabda:

Tidak sempurna keimanan seorang dari kalian, hingga ia mencintai untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih)

Generasi Muslim selayaknya mencontoh para pemuda di zaman Rasulullah Saw dan para sahabat. Mereka tidak disibukkan oleh perkara dunia, melainkan sibuk bergerak demi perbaikan umat. Mengumpulkan bekal akhirat. Bahkan mereka rela meninggalkan kesenangan dunia, demi mendekat kepada Allah. Contohnya Mush’ab bin Umar. Kehidupan mewah berani dia tinggalkan demi ikut berjuang di jalan Islam bersama Rasulullah Saw.

Lantas, tidakkah kita malu menjadi budak cinta yang menghamba pada syahwat sementara para pemuda yang kelak akan bersama Rasulullah Saw di surgaNya adalah mereka yang hidupnya didedikasikan untuk Allah dan RasulNya saja? Saatnya move on Dear, raih produktivitas selagi nyawa masih melekat di jasad. Usia muda tak selayaknya berlalu sia-sia, justru saatnya di usia ini kita menorehkan banyak kebaikan.

Rasulullah Saw bersabda:

Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).”(HR.Tirmidzi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *