Guru

Spread the love

Oleh: Aya Ummu Najwa

MuslimahTimes.com – Beberapa hari yang lalu, masyarakat Indonesia memperingati hari guru nasional, pada tanggal 25 Nopember 2020. Beramai orang menulis, memposting, mengucapkan, selamat hari guru dengan mengunggah foto para gurunya, mengucapkan terimakasih, atau mengenang jasa sang guru, dan sebagainya.

Guru bahasa Sanskerta adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru. (Wikipedia)

Guru dalam bahasa arab dikenal dengan sebutan ustaz bagi guru laki-laki dan ustazah bagi guru wanita. Islam sendiri memberikan tempat dan derajat yang tinggi bagi para guru sebagaimana hukum menuntut ilmu adalah wajib yang menjadikan pelakunya mendapat pahala jika mengerjakannya. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ

“Menuntut Ilmu diwajibkan atas orang Islam laki-laki dan perempuan.” (HR. Ibnu Abdil Barr)

Dalam Islam menuntut ilmu merupakan kewajiban sehingga dapat mengangkat derajat seseorang yang beriman lebih tinggi lagi di hadapan Allah. Maka sebab itulah guru termasuk ke dalam golongan orang-orang berilmu yang selalu mengamalkan ilmunya sebagai fungsi iman kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wata’ala:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS. Al-Mujadalah: 11).

Bahkan Rasulullah telah mengabarkan salah satu keutamaan orang yang mengajarkan ilmunya sehingga orang-orang memanfaatkan ilmu tersebut, maka pahalanya akan terus mengalir sampai orang itu telah meninggal dunia.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ : إِذَا مَاتَ اَلْإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالَحٍ يَدْعُو لَهُ – رَوَاهُ مُسْل

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu. Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Apabila seorang manusia telah meninggal maka terputuslah amalannya kecuali 3 hal yaitu: Shodaqah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak saleh yang mendoakan orang tuanya”.

Begitu tinggi dan mulianya kedudukan seorang guru dalam Islam, sehingga Allah memerintahkan kepada para makhluknya untuk mendoakan guru yang mengajarkan ilmu. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah, para malaikat dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan juga ikan besar, semuanya bershalawat kepada muallim (orang yang berilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia”. (HR. Tirmidzi).

Namun, menjadi guru mempunyai tanggung jawab yang luar biasa berat. Selain menjadi orang yang pertama mengamalkan ilmunya jika itu ilmu Islam, juga dia harus mempunyai beberapa kriteria yang menunjang pekerjaannya sebagai guru.

Imam Ghazali menyebutkan beberapa syarat menjadi guru yaitu kasih sayang dan lemah lembut, tidak mengharap upah, pujian, ucapan terima kasih atas balas jasa, jujur dan terpercaya bagi murid-muridnya, membimbing dengan kasih sayang, tidak dengan kemarahan, luhur budi dan toleransi, tidak merendahkan ilmu lain di luar spesialisasinya, juga memperhatikan perbedaan individu.

Sungguh, menjadi guru adalah suatu kemuliaan dan keutamaan. Dia akan memperoleh kebaikan yang melimpah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasallam:

Hadis dari Sahl bin Sa’id Radhiallahu ‘Anhu, “Demi Allah, jika Allah Subhanahu Wa Ta’aala memberi petunjuk kepada satu orang melalui perantaramu maka hal itu jauh lebih baik dari pada kekayaan yang sangat berharga,” (HR. Bukhori dan Muslim).

Bagi kita sebagai murid, mari kita mengingat kembali Sayyidina Ali Bin Abi Thalib dalam hal penghormatan kepada guru. Beliau adalah satu-satunya sahabat Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam yang mendapat julukan babul ilmi (pintu ilmu pengetahuan) oleh Nabi. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dalam satu kesempatan pernah bersabda sebagaimana disebutkan dalam kitab al-‘Ushfuriyyah tentang Sayyidina Ali:

“Saya adalah kota ilmu dan Ali sebagai pintunya”. Hadis ini menunjukkan betapa tingginya ilmu Sayyidina Ali sehingga Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menjulukinya sebagai pintu ilmu pengetahuan.

Namun keluasan ilmu yang dimiliki Sayyidina Ali tidak serta-merta menjadikannya congkak dan sombong. Justru ketinggian ilmu yang beliau miliki semakin menunjukkan kerendahan hati beliau. Ini terbukti dari salah satu atsar-nya tentang penghormatan kepada guru. Beliau berkata: “Aku adalah hamba/abdi dari siapapun yang mengajariku walaupun hanya satu haruf. Aku pasrah padanya. Entah aku mau dijual, dimerdekakan, atau tetap sebagai seorang hamba”.

MasyaAllah, begitu mulianya kedudukan seorang guru yang dijamin oleh Allah, juga pelajaran dari imam Ali untuk kita semua agar senantiasa menghormati guru yang telah menunjukkan cahaya kehidupan kepada kita, agar ilmu yang diajarkan dan yang diperoleh senantiasa mendapatkan keberkahan dari Allah Subhanahu Wata’aala.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *