Gus Muwafiq Sebut Nabi ‘Rembes’; Adakah Dia Belajar Hadits Ini?

Spread the love

Oleh: Sherly Agustina M.Ag

#MuslimahTimes — “Pernyataan Gus Muwafiq: kelahiran Nabi Saw dan kehidupannya di masa kecil biasa saja. Sebab jika terlihat bersinar maka ketahuan oleh bala tentara Abrahah. Nabi saat kecil rembes (bhs Jawa: ingusan) karena ikut kakeknya.” (Tempo.com).

Kalimat Gus Mufawiq pada ceramahnya beberapa waktu lalu menuai kontroversi di kalangan umat Islam. Meskipun Gus Muwafiq telah mengklarifikasi dan meminta maaf melalui sosial media, sebagian besar umat Islam belum dapat menerima atas kalimat yang tidak pantas ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw.

Tidak sepatutnya sosok Nabi Muhammad yang mulia dijadikan candaan oleh seorang dai, apalagi hanya agar jamaah menerima dakwahnya. Menggambarkan sosok dan perilaku Nabi Muhammad Saw harus sesuai hadis  yang mutawatir, tidak perlu ditambah-tambah apalagi dikurangi.

Sebagaimana sebuah kaidah menjelaskan: “Untuk setiap maqam (tempat) ada maqal (ucapan)nya, dan untuk setiap maqal (ucapan) ada maqam (tempat) nya.”

Bagi seorang dai pasti memahami dan mengetahui kaidah tersebut. Bagaimana seharusnya mendeskripsikan sosok dan perilaku Baginda Nabi Muhammad Saw. Adalah keharusan bagi pendakwah untuk berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu kepada jamaah. Jika tidak tahu maka lebih baik tidak disampaikan atau diam. Dan sampaikan dalil sesuai dengan isinya.

Ibnu Abbas ra berkata: “Adalah anak-anak Abu Thalib itu kalau bangun di pagi hari dalam keadaan lusuh awut-awutan, sedangkan Nabi Saw di pagi hari dalam keadaan berwajah cerah dan berambut rapi berminyak”.

Anas Radhiyallahu anhu mengatakan:

كَانَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَأَجْمَلَ النَّاسِ وَأَشْجَعَ النَّاسِ

Beliau adalah orang yang paling dermawan, paling tampan dan paling pemberani [HR al-Bukhâri dan Muslim]

Ummul Mukminîn ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma pernah ditanya mengenai akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau menjawab:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

Akhlaknya adalah al-Qur`ân [HR al-Bukhâri dan Muslim]

Ada banyak literatur yang menunjukkan bahwa kelahiran Rasulullah disertai cahaya. Di antaranya:

  1. Hadits Riwayat Abdur Razaq

“Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dari Jabir bin Abdullah al Anshari, dia berkata: “Ya Rasulullah, demi ayah ibuku, beritahukan padaku apakah makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah sebelum penciptaan alam semesta ini? Nabi Saw menjawab: “Wahai Jabir, sesungguhnya Allah Swt telah menciptakan Nur nabimu (Muhammad) lebih dahulu dari alam semesta ini…”

  1. Kitab ‘Al-Anwar Al Muhammadiyah” karya Al Imam Yusuf bin Ismail an Nabhani.

“Manakala Allah Swt dengan iradah-Nya berkehendak menciptakan ciptaanNya dia ciptakan hakikat Muhammad yang tercipta dari Nur Muhammad Saw daripada Nur-Nya..”

  1. Riwayat Syeikh Abdurrahman bin Ali Ad Dibai

“Arsy berguncang karena sangat senang dan bahagia, bertambahlah kehaibahan kursi Allah Swt, langit pun dipenuhi dengan cahaya..”

Gus Muwafiq beralasan jika jamaahnya saat itu adalah kaum milenial, maka diksi yang dipilih Gus Muwafiq yang dapat dimengerti oleh kaum milenial. Dengan mengatakan sinar kelahiran Nabi Muhammad Saw seperti lampu, neon, lampu LED. Dan mengatakan bahwa Nabi Saw “rembes”. Akhirnya jamaah menginterpretasikan sesuai dengan yang digambarkan Gus Muwafiq.

Padahal untuk menjelaskannya tidak perlu dengan gambaran yang tidak sesuai, atau menambah-nambahkan, cukup sampaikan apa yang tertulis pada hadis mutawatir. Karena sesuatu yang ghaib keberadaanya tidak mampu akal menjangkaunya, seperti cahaya kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Karena beriman kepada Rasul ialah bagian dari rukun iman dan sangat urgent bagi seorang muslim, maka dalam menjelaskannya harus bermula dari penguatan keimanan atau akidah. Inilah pentingnya mengajarkan pokok-pokok keimanan sejak usia dini.

Dan tidak mudah menanamkan akidah serta ajaran-ajaran Islam kepada generasi muda saat ini, di samping Islam tengah diserang dengan berbagai narasi jahat kaum muda pun begitu massif dijejali dengan budaya barat.

Maka butuh negara yang mengatur, mengurus dan menjaga akidah warganya dengan baik. Memfasilitasi warga negaranya dengan pendidikan yang mengutamakan akidah agamanya. Sehingga tidak akan terjadi lagi penjelasan-penjelasan konyol yang dapat mengikis akidah dalam memahamkan umat tentang keimanan. Negara itu ialah khilafah.

_Allahu A’lam bi ash Shawab_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *