Hakikat Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Spread the love

Oleh. Aya Ummu Najwa

MuslimahTimes.com – Bulan Rabiul Awal telah menyapa, pada bulan yang merupakan bulan Maulid Nabi ini, beramai umat Islam menyanjungkan dan menggemakan shalawat, sebagai bentuk cinta kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Umat Islam ingin membuktikan betapa mereka mencintai Rasulullah, sang teladan pembawa risalah.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali ‘Imran: 31).

Meneladani dan mengikuti Rasulullah shalallahu alaihi wasallam merupakan bukti nyata rasa cinta kepada beliau. Dan merupakan bentuk cinta yang sesungguhnya dengan menjadikan beliau sebagai tauladan di dalam segala bentuk peribadatan. Dengan mengamalkan semua yang beliau bawa, semua yang beliau ucapakan, lakukan, maupun putuskan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. al-Ahzaab: 21).

Dalam hal mencintai Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam kita harus total tidak boleh setengah-setengah atau lebih mencintai yang lain dibandingkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, atau bahkan menyamakan kadarnya.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Salah seorang di antara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Setiap kata cinta butuh pembuktian, cinta yang tidak hanya di bibir semata. Di antara bentuk cinta pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ittiba’ (mengikuti), taat dan berpegang teguh pada petunjuknya. Mengikuti Sunnah ya, dan menerapkannya dalam kehidupan.Karena, ketaatan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah buah dari kecintaan.
Penyair Arab mengatakan:

لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقاً لَأَطَعْتَهُ إِنَّ المُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْعٌ

“Sekiranya cintamu itu benar niscaya engkau akan mentaatinya Karena orang yang mencintai tentu akan mentaati orang yang dicintainya”

Namun sejatinya, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam lebih mencintai umatnya. Cinta beliau kepada umatnya tak bisa diganti dengan apapun. Beliau begitu memikirkan nasib umatnya setelah kepergiannya. Cintanya agung, cintanya murni untuk umatnya. Bahkan sebagai bentuk cinta beliau, Rasulullah telah meninggalkan kepada umatnya warisan yang luar biasa berharga, dan ketika umat Islam menggunakan dengan sebaik-baiknya warisan Rasulullah ini maka hidupnya akan penuh keberkahan dan keselamatan dunia akhirat.

Setidaknya ada tiga perkara yang diwariskan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam kepada umatnya.

Pertama, adalah Islam, yang terkandung dalam al-Kitab dan as-Sunnah. Dengan berpegang teguh kepada keduanya, kita tak akan tersesat. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

« تَركْتُ فيكُمْ أَمْرَيْنِ لنْ تَضِلُّوا ما تَمسَّكْتُمْ بهما : كتابَ الله ، وسنّة رسولِهِ »
“Telah aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara yang kalian tak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya; Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR Malik).

Maka, ketika umat mengaku mencintai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, maka dia wajib mengikuti beliau dan menerapkan apa yang terkandung dalam Al-Qur’an dan as-sunah secara total, dari urusan waris hingga ekonomi, dari urusan shalat hingga jihad, dari urusan rumah tangga hingga bernegara.

Kedua, adalah ulama, yang menjadi pewaris para nabi (waratsatul anbiya`). Merekalah yang menjadi penuntun bagi umat karena penguasaan mereka terhadap ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah saw. Beliau bersabda:

« إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ »
“Sesungguhnya ulama adalah para pewaris dari para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar atau dirham melainkan mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya (ilmu), maka dia telah mengambil bahagian yang cukup (banyak).” (HR Tirmidzi).

Kehadiran ulama di tengah-tengah umat adalah rahmat, dengan adanya para ulama, dakwah Islam bisa berjalan, amar makruf nahi mungkar akan terus ada, maka, ketika para ulama yang mukhlis mulai hilang maka sejatinya itu adalah musibah di tengah-tengah umat, karena akan terhentinya aliran ilmu dan aktivitas dakwah.

Ketiga adalah Khilafah. Mereka adalah para pemimpin pasca Rasulullah Saw yang bertugas menerapkan Islam secara menyeluruh dalam segala aspek kehidupan tanpa kecuali. Rasulullah saw bersabda:

« كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِىٌّ خَلَفَهُ نَبِىٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ فَتَكْثُرُ »

“Dahulu Bani Israel diatur hidupnya oleh para nabi, setiap seorang nabi meninggal, dia digantikan oleh nabi lainnya, dan sesungguhnya tidak ada nabi setelahku. Dan akan ada para khalifah dan jumlah mereka akan banyak.” (HR Muslim, no 1842).

Itulah tiga warisan yang diwariskan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Tiga warisan tersebut wajib hukumnya dipelihara dan dilestarikan demi kemaslahatan umat Islam di dunia dan di akhirat. Jika umat Islam lalai atau abai memelihara warisan-warisan tersebut, maka umat Islam akan terjerumus dalam kerusakan. Maka inti dari mencintai Rasulullah adalah senantiasa menaati, menghormati, dan meneladani setiap apa yang beliau bawa, secara total tidak setengah-setengah.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *