Heboh Normalisasi KDRT, Begini Islam Menyelesaikan Konflik Suami Istri

  • admin
  • February 8, 2022
  • Comments Off on Heboh Normalisasi KDRT, Begini Islam Menyelesaikan Konflik Suami Istri
Spread the love

Oleh. Kholda Najiyah

(Founder Salehah Institute dan Kelas Bengkel Istri)

Muslimahtimes.com — Ada seorang penceramah yang dituduh menormalisasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dengan mencontohkan kisah pemukulan suami yang tidak diadukan kepada kerabatnya. Sebab, —kata mereka yang meributkan ceramah itu— KDRT seharusnya dilaporkan korban kepada pihak berwajib. Islam lantas dituduh sebagai agama yang seolah-olah mengajarkan dan melanggengkan KDRT. Benarkah demikian?

Sejatinya, kisah itu sendiri diambil secara turun-temurun sebagai contoh untuk diambil hikmahnya, betapa agungnya akhlak istri dalam menangani konflik rumah tangga. Hanya, penggambarannya dengan pukulan yang mungkin kurang tepat, karena Islam tidak membolehkan memukul istri tanpa sebab, apalagi di tempat yang dilarang seperti pipi atau wajah.

Entah, apakah yang dikisahkan sang penceramah adalah kisah yang dikutip dari kitab yang sama dengan yang penulis baca, berikut penulis nukilkan kisah selengkapnya dari terjemahan kitab Az-zaujan fi khaimah as-saa’dah maharat wa masa’il atau Suami Istri dalam Rumah Mungil Penuh Bahagia karya Abdurrahman bin Abdullah al-Qar’awi, hal 24:

Pernah sepasang suami istri berselisih, lalu istri duduk sambil menangis. Secara tak terduga, keluarganya datang mengetuk pintu, yang kebetulan datang untuk mengunjunginya. Mereka bertanya: “Mengapa kamu menangis?” Si istri menjawab, “Aku duduk teringat kepada kalian, maka aku menangis, karena aku berangan-angan seandainya dapat melihat kalian. Maka Mahasuci Allah yang telah mempertemukan kita.”

Sementara itu, si suami mendengarnya mengatakan itu, maka si istri semakin agung di mata sang suami; dan kemuliaannya semakin bertambah di hatinya; karena si istri pandai menjaga rahasia mereka berdua. Suami itu pun memuliakan para kerabat istrinya, kemudian membelikan sebuah hadiah sebagai penghargaan terhadap sikapnya itu (Jawwal Zahada).

Kisah indah ini mengandung pelajaran, jangan bermudah-mudah mengadukan perselisihan rumah tangga kepada pihak luar, baik sahabat, tetangga maupun kerabat. Mengapa? Karena banyak sekali faedah menjaga rahasia hubungan suami dan istri, termasuk menjaga konflik agar tidak melebar.

Pertama, agar tidak merusak kehormatan dan kewibawaan pasangan. Suami dan istri ibarat pakaian yang seharusnya saling menutupi, mendinginkan saat suasana panas dan menghangatkan saat suasana dingin. Apabila semua perselisihan diketahui pihak lain, akhirnya pasangan tidak merasa nyaman, karena merasa rahasianya tidak terjaga. Hal Ini justru akan memperburuk hubungan keduanya.

Kedua, agar tidak ada campur tangan pihak lain yang tentunya tidak akan objektif memandang persoalan rumah tangga berdua. Sebab, jika orang itu mendapat pengaduan dari istri, pasti akan cenderung menyalahkan suami. Sebaliknya, jika seseorang mendapat pengaduan dari suami, pasti akan cenderung menyalahkan istri.

Ketiga, agar suami dan istri mengutamakan musyawarah berdua untuk menyelesaikan konflik. Ulama mengajarkan, perselisihan suami istri, cukup diselesaikan di dalam kamar, yaitu agar tidak terdengar pertengkaran itu oleh anak-anak. Maka itu, tidak perlu konflik suami istri keluar dari dinding-dinding kamar, apalagi sampai keluar dari pagar rumah. Artinya, konflik itu yang paling paham mereka berdua, maka selesaikan berduaan saja di kamar dengan penuh kasih sayang.

Demikian indahnya Islam mengatur konflik dalam rumah tangga, yaitu agar suami dan istri bergaul secara makruf, bahkan jika terjadi perselisihan, hendaknya diselesaikan dengan kepala dingin. Bukan dengan makian atau pukulan, bukan pula dengan mengumbar konflik suami istri ke pihak lain, apalagi ke ruang publik. Sebab, perselisihan suami istri adalah hal yang lumrah terjadi dalam pergaulan yang terus menerus antara lawan jenis yang berbeda jenis kelaminnya sehingga berbeda karakter dasarnya.

Ta’dib Bukan Jarimah

Bagaimana jika dalam perselisihan itu terjadi pemukulan? Dalam Islam, pemukulan yang bersifat fisik dan menyakitkan, bahkan melukai atau membahayakan nyawa pasangan, maka itu terkategori jarimah atau tindak kriminal. Suami maupun istri bisa sebagai pelaku, sebab kriminalitas itu bisa dilakukan siapa saja. Baik terjadi dalam lingkup ruang domestik maupun publik, pemukulan yang meninggalkan luka adalah tindak kriminal. Korban dipersilakan jika ingin mengadu kepada pihak berwajib.

Namun, harus dibedakan antara jarimah (kriminal) dan ta’dib (pendidikan) dalam konteks rumah tangga. Tidak semua jenis pukulan harus dilaporkan kepada pihak berwajib. Jika konteksnya adalah ta’dib atau mendidik dengan syarat-syarat khusus yang diizinkan syariat, maka ini tidak bisa dianggap sebagai KDRT.

Mayoritas ulama sepakat, membolehkan pukulan ringan dalam rangka ta’dib atau mendidik. Namun, konteks ta’dib ini mensyaratkan suatu kondisi khusus, yaitu hanya jika istri berbuat nusyuz atau membangkang suami. Artinya, ta’dib hanya boleh dilakukan saat istri tidak taat suami.

Membangkangnya sejauh apa? Yaitu jika istri melanggar syariat Islam, lalu dinasihati baik-baik, bahkan sudah didiamkan suami di tempat tidurnya (hajr) tapi tidak mempan. Jadi, ta’dib ini adalah jalan keluar terakhir yang boleh dilakukan, seandainya cara sebelumnya telah dilakukan, namun istri tetap membandel.

Mengapa ada kebolehan ta’dib? Karena konflik butuh solusi, sementara faktanya akan selalu ada, istri yang benar-benar bandel, sulit dinasihati, hingga terpaksa harus diluruskan dengan tegas. Namun, namanya boleh, bukan berarti harus. Tetapi bersifat pilihan. Sebab, ada tatacara untuk men-ta’dib istri, yaitu pertama, dinasihati dulu dengan dengan cara lembut. Diberitahu yang benarnya, diluruskan dengan kata-kata yang baik. Jika cara ini tidak mempan, cara kedua, dilakukan hajr yaitu memisahkan di tempat tidur.

Bukan pisah ranjang, tetapi tetap tidur berdua di ranjang yang sama, tapi istri dan suami tidak saling berinteraksi. Didiamkan. Misal saling memunggungi. Harapannya, agar naluri kasih sayang tumbuh lagi, hingga tanpa sengaja berpelukan kembali dan saling memaafkan. Kalau dua cara ini tidak mempan, barulah langkah terakhir, yaitu ta’dib.

Ta’dib ini pun ada syaratnya, yaitu tidak di tempat yang dilarang seperti wajah. Tidak di tempat yang menyakitkan dan membahayakan misalnya pelipis, perut, jantung dan organ vital lainnya. Tidak dilakukan dengan kekuatan penuh sehingga menyakitkan, misal menimbulkan bekas luka, merusak anggota tubuh atau bahkan pukulan mematikan (jika ini yang terjadi, maka masuk kategori jarimah). Jika menggunakan alat, bukan alat yang menyakitkan, hanya seperti siwak atau sikat gigi. Demikian pendapat ulama yang mahsyur.

*Akar Masalah KDRT*

Adapun terminologi KDRT yang dibahas saat ini, merujuk pada fakta banyaknya kasus suami yang sewenang-wenang melakukan kekerasan kepada istri. Baik dengan pukulan yang menyakitkan dan membahayakan kondisi fisik istri, maupun kekerasan verbal berupa kata-kata yang menyakitkan hati. Seperti umpatan atau kata-kata kasar, sampai nama binatang keluar dari mulut pasangan.

Kekerasan yang dilakukan suami ini, kadang-kadang bersumber dari sikap yang temperamental, bukan semata-mata ada nusyuz atau pembangkangan istri. Kekerasan juga dipicu faktor stres, akibat tekanan hidup yang berat. Seperti, beban ekonomi dan beban kerja. Tak heran dalam rumah tangga sekuler saat ini, bahkan ada suami yang tega menganiaya atau membunuh istrinya sendiri.

Sebaliknya, tak sedikit istri yang tidak terkendali dalam bertutur kata, sehingga mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati suaminya. Hal ini memicu kemarahan suami. Mengapa istri yang lembut berubah menjadi kasar? Karena istri juga stres dengan beban hidup yang berat. Misal suami yang kurang bertanggungjawab, seperti tidak memberikan nafkah, melalaikan perhatiannya pada istri dan anak-anak, selingkuh dan tidak memperlakukan istri dengan baik.

Dalam UU No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga didefinisikan bahwa kekerasan dalam rumah tangga bisa mencakup: kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual dan kekerasan ekonomi atau penelantaran keluarga. Regulasi ini tegak berangkat dari fakta banyaknya korban KDRT yang tidak tertolong, karena tidak ada payung hukumnya.

KDRT ini terjadi, karena suami maupun istri yang tidak menjalankan rumah tangga dengan kaidah syariat Islam. Mereka tidak menjadikan Islam sebagai pedoman dalam hidup berumah tangga. Seandainya memakai syariat Islam, baik suami maupun istri, seharusnya mempergauli pasangannya dengan cara yang makruf atau baik.

Apapun masalahnya, tidak boleh melakukan tindakan kasar dan keras, apalagi perbuatan jarimah kepada pasangannya. Rasulullah Saw bersabda: “Khorikum khoirukum liahlihi” yang artinya “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik pada keluarganya.” Jadi, kalau menuduh Islam mendorong KDRT atau syariat Islam melanggenggkan KDRT, itu salah alamat. Sebaliknya, gara-gara gak pakai Islam, itulah yang menyebabkan KDRT.

Islam Solusi Tuntas

KDRT yang terjadi dalam rumah tangga saat ini, dipicu oleh banyak faktor. Seperti rumah tangga yang tidak sejahtera, sehingga memicu stres suami maupun istri. Akar masalah ini yang harus dihapuskan agar KDRT bisa dihilangkan. Misal, dengan menjamin pemenuhan kebutuhan pokok rumah tangga, menggratiskan biaya pendidikan dan kesehatan, mencegah perselingkuhan dengan menegakkan sistem sosial Islam. Bukan sekadar menghukum pelakunya, sementara akar masalah pemicunya tidak diatasi. Seandainya ditegakkan sistem Islam yang adil dan sejahtera, niscaya kekerasan bisa dihindari.

Konflik rumah tangga, utamakan musyawarah antara kedua pasangan. Jika keduanya tidak mampu, silakan meminta pertolongan pihak yang objektif dan adil. Semisal alim ulama atau konsultan rumah tangga yang bisa dipercaya menjaga rahasia; atau kerabat yang amanah dan dianggap mampu memberikan jalan keluar. Tidak serta merta mengkriminalkan pasangan jika konflik masih bisa diselesaikan dengan musyawarah. Sebab, keutuhan rumah tangga yang sakinah, mawadah dan rahmah adalah prioritas. Dan, hal itu sangat bisa diwujudkan tanpa ada kekerasan.(*)