Hidayah dan Dakwah

Spread the love

Oleh. Widi Yanti

MuslimahTimes.com–Mengajak seseorang untuk berhijrah ke Islam kafah menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Pendekatan dengan berbagai cara dilakukan untuk menjalin ukhuwah. Ada saatnya seseorang bisa dengan mudah menjadi perantara datangnya hidayah bagi orang lain. Beberapa kali bertemu dan berdiskusi mampu menjadikan seseorang berkomitmen dengan Islam dan mengamalkannya. Namun ada kalanya saat ajakan kepada kebenaran Islam justru berakhir dengan kegagalan.

Selama kewajiban seseorang untuk berdakwah telah ditunaikan, dengan mengaitkan antara sebab dan akibat dengan baik, maka hasilnya hanya berserah pada Allah. Jika merujuk pada kisah saat Rasulullah berdakwah di Kota Tha’if, penolakan secara keras dilakukan oleh para tokoh. Di antaranya dua bersaudara dan satu cucu dari ‘Amr bin ‘Umair :Mas’ud, Habib dan ‘Abd bin Layl. Ketiganya menolak Nabi hingga membuat banyak orang berteriak-teriak dan mengejek Rasulullah. Hingga beliau memutuskan untuk berlari ke taman milik ‘Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah. Rasulullah kemudian beristirahat sambil mengadu kepada Allah tentang hal ini. Kedua putra Rabi’ah, ‘Utbah dan Syaibah merasa iba melihat beliau dan memerintahkan budaknya yang beragama Nasrani, Addas agar memberikannya sepiring anggur. Ketika Addas mengantarkannya kepada Rasulullah, beliau tersenyum dan menerima pemberian Addas. Saat beliau akan makan, ia mengucapkan terlebih dahulu “dengan menyebut nama Allah” (Bismillah). Melihat hal ini, Addas terlihat terkejut dan penasaran untuk bertanya: “ucapan tersebut tidak pernah diucapkan oleh seorang pun dari penduduk negeri ini.”

Rasulullah lalu bertanya: “Addas, kamu berasal dari mana? boleh tahu agamamu ?” Addas menjawab: “Saya orang Kristen (Nasrani). Saya berasal dari Ninawa (sekarang masuk wilayah Irak). Rasulullah saw. kemudian merespon, “Oh, kamu berasal dari kampungnya orang salih Yunus bin Mata.” Kali ini, Addas kembali terkejut.

Bagaimana bisa orang yang dia kenal ini tahu tentang Yunus bin Matta. Kalau seseorang bukan berasal dari kampungnya, atau menganut ajaran Nasrani, ia tidak pernah tahu tentang Nabi Yunus. Addas bertanya, “Kamu tahu dari mana tentang Yunus bin Matta?” Rasul menjawab: “Itu saudaraku. Dia adalah seorang Nabi dan aku juga Nabi.” Mendengar hal itu, Addas terperangah kemudian menunduk untuk mencium kepala, kedua tangan dan kaki Nabi. Kemudian Addas masuk Islam.

Dalam kisah tersebut, seorang Rasul juga mengalami penolakan. Namun dengan keyakinan bahwa pertolongan Allah pasti datang kepada orang yang senantiasa menaati-Nya, ikhlas demi meraih rida-Nya. Saat itu Rasulullah berdoa, “Allahuma Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maharahim, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhan pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan nasibku? Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli sebab sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan karena itu yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat dari kemurkaan-Mu dan yang akan Engkau timpakan kepadaku. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha kepadaku. Dan, tiada daya upaya melainkan dengan kehendak-Mu.”

Tidak lama kemudian, ditunjukkan bagaimana mudahnya Addas masuk Islam. Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam batin dan niat seseorang. Allah akan memberikan perlindungan dan pertolongan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Sebaliknya akan memberikan kehinaan dan keterpurukan bagi orang yang pantas menerimanya.

Sesungguhnya Rasulullah mewariskan dakwah yang harus disampaikan kepada umat manusia. Disertai ilmu yang dijadikan pedoman untuk membina diri sendiri dan orang lain. Dengan hidayah, ketakwaan, keimanan, kekhusyukan, keikhlasan dan keyakinan. Hidup diberikan pilihan untuk mengusahakan mendapat hidayah (petunjuk). Karena di sisi lain, setan senantiasa menghembuskan rayuannya untuk menuju jalan kesesatan. Mengajak pada tindakan untuk melanggar aturan Allah. Menjauhkan manusia dari ajaran kebenaran Islam. Menggoda dengan berbagai upaya agar membuat terlena dengan keindahan dunia nan fana.

Allah berfirman, “Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”(QS: Al Anam :125)

Hanya orang pilihan yang merasakan hidayah dari Allah. Menjadikan dirinya sadar bahwa keimanannya kepada Allah menjadikan dirinya mempersembahkan hidup dan matinya hanya untuk Ilahi Rabbi. Menjadikannya bersungguh-sungguh dalam melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Melakukan aktivitas apa pun hanya mengharap rida Allah, bukan lagi mengharap pujian sesama manusia. Berharap dengan penuh keyakinan dengan janji pahala yang diberikan padanya dan berakhir dengan dimasukkan sebagai penghuni surga.

Seruan dakwah ini dilakukan oleh orang-orang yang mencintai Rasulullah. Mereka berani berkorban apa saja untuk membela Rasulullah. Bukankah ucapan orang-orang seperti Mush’ab bin Umair, Zaid bin Haritsah, Umar bin Khathab, Abu Bakar Ashiddiq dan para sahabatnya tidak henti-hentinya berkumandang sampai sekarang. Mengartikan bahwa aktivitas menyeru kebaikan dan menjauhi kemungkaran menjadi aktivitas mulia. Pahala yang terus mengalir meski nyawa tak lagi menyatu dengan raga.

Sesungguhnya perjuangan di dalam dakwah Islam dan keterlibatan kita di dalamnya adalah bukti penghambaan diri kita kepada Allah. Karena itu, seorang muslim tidak akan menghentikan langkahnya di jalan ini hingga maut menjemputnya. Ingatlah firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 105, “Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Wallahua’lam bisshawab