HIV/AIDS Terus Meningkat, Sampai Kapan?

Spread the love

Oleh: Hamsina Halik

(Revowriter Mamuju)

#MuslimahTimes — Kurang lebih 3.600 dari kelompok IRT terinfeksi virus HIV, yaitu sekitar 10% dari jumlah kumulatif infeksi HIV kurang lebih 36.000, berdasarkan data tahun 2005 hingga 2019. Jika seorang ibu terjangkit virus HIV, secara otomatis anak yang dilahirkannya akan tertular virus ini, yang akan menambah daftar panjang jumlah pengidap HIV. Terbayang bagaimana nasib masa depan mereka.

Dilansir dari jppn.com, dikatakan bahwa, “Kelompok ibu rumah tangga memang dari dulu angka (jumlah) kasus infeksi HIV-nya terus meningkat. Terbanyak kedua setelah kelompok remaja, sampai saat ini saja jumlah IRT yang terkena infeksi HIV sekitar 10 persen dari jumlah kumulatif,” kata Ketua Sekretariat KPA Jawa Barat Iman Teja Rachman di Bandung.

Menurut Iman, dari hasil penelitian di lapangan, faktor utama yang menyebabkan tren jumlah kasus infeksi HIV pada kelompok IRT akibat perilaku suami yang suka ‘jajan’ di luar rumah. Selain itu, dipengaruhi juga oleh perubahan perilaku suami istri yang suka dan menganggap lumrah untuk melakukan hubungan intim bertiga. (1/12/2019)

Berdasarkan data dari UNAIDS, terdapat 36,9 juta masyarakat berbagai negara hidup bersama HIV dan AIDS pada 2017.

Dari total penderita yang ada, 1,8 juta di antaranya adalah anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Selebihnya adalah orang dewasa, sejumlah 35,1 juta penderita.

Masih bersumber dari data tersebut, penderita HIV/AIDS lebih banyak diderita oleh kaum wanita, yakni sebanyak 18,2 juta penderita. Sementara laki-laki sebanyak 16,9 juta penderita. (kompas.com, 1/12/2019)

Solusi Tak Solutif

HIV-AIDS adalah penyakit menular yang tak dapat disembuhkan. AIDS jika telah terinfeksi maka virus ini akan terus berkembang dan menggerogoti tubuh manusia selama hidupnya, jarang yang berhasil mencapai kesembuhan. Rata-rata berujung pada kematian.

Untuk mencegah hal ini, Indonesia mengambil program yang bersumber dari UNAIDS (United Nation Acquired Immune Deficiency Syndrome) dan WHO melalui PBB. Salah satu programnya berupa  kampanye pencegahan HIV/AIDS yang kerap disebut ABCD. Ringkasnya, A=Abstinence (jangan berhubungan seks), B=Be faithfull (setialah pada pasangan),  C=Condom (pakailah kondom),  atau D=no use Drugs (hindari obat-obatan narkotika).

Tak hanya itu,  perkembangan terus dilakukan dalam upaya pengendalian HIV/AIDS di Indonesia, mulai dari inovasi pencegahan penularan dari jarum suntik yang disebut Harm Reduction pada tahun 2006; pencegahan Penularan Melalui Transmisi Seksual (PMTS) mulai tahun 2010; penguatan Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA) pda tahun 2011; pengembangan Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) di tingkat Puskesmas pada tahun 2012; hingga terobosan paling baru yang disebut Strategic use of ARV (SUFA) dimulai pada pertengahan tahun 2013.

Dan, pada Hari Aids Sedunia (HAS) tahun 2017 lalu, telah dicanangkan strategi Fast Track 90-90-90 yang meliputi:untuk mempercepat pencapaian 90% dari orang yang hidup dengan HIV (ODHA) mengetahui status HIV mereka melalui tes atau deteksi dini; 90% dari ODHA yang mengetahui status HIV untuk memulai terapi pengobatan ARV) dan 90% ODHA yang dalam pengobatan ARV telah berhasil menekan jumlah virusnya sehingga mengurangi kemungkinan penularan HIV; serta tidak ada lagi stigma dan diskriminasi ODHA. (depkes.go.id)

Namun, tak satupun solusi ini membuahkan hasil maksimal. Tetap saja, penderita HIV/AIDS dari tahun ke tahun semakin meningkat. Bahkan, dengan program ABCD tersebut bukannya menghentikan, justru semakin menambah polemik baru. Yaitu, semakin terbukanya pintu perzinahan dan berbagai prilaku seks bebas.

Mengapa demikian? Sebab, bukan akar masalahnya yang diselesaikan. Pergaulan bebas yang merupakan pintu utama masuknya penyebaran virus ini tak dihentikan. Pemicunya pun dibiarkan begitu saja. Yaitu kebebasan berprilaku yang merupakan buah dari sistem kapitalisme sekular. Agama dijauhkan dari kehidupan. Akibatnya, ketakwaan individu terkikis. Padahal ketakwaan inilah yang menjadi pertahanan kuat bagi kaum muslim dari berbagai serangan merusak.

Solusi Islam

Islam sebagai agama yang sempurna, lengkap dengan seperangkat aturannya, memiliki beberapa pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, diantaranya:

Pertama, ketakwaan individu. Melalui pendidikan Islam secara menyeluruh,  dengan adanya pembinaan dan pemahaman akidah yang mendalam untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Menjadikan mereka terikat dengan hukum-hukumNya, sebab inilah konsekuensi dari akidah Islam. Dalam hal ini keluarga memiliki peran penting dalam mengokohkan ketakwaan anggota keluarganya. Membentengi anak dari pergaulan bebas.

Kedua, pengaturan sistem pergaulan. Islam memandang bahwa kehidupan antara pria dan wanita diatur sedemikian rupa.  Adanya larangan mendekati zina yaitu seperti tidak berdua-duaan  dengan lawan jenis yang  bukan mahram, tak bercampur baur laki-laki dan perempuan, senantiasa  menutup aurat dan memalingkan pandangan  dari hal yang tak pantas, dll. Maka interaksi antara pria dan wanita akan senantiasa terjaga.

Ketiga, peran utama negara. Berperan penting dalam mencegah meningkatnya penularan HIV AIDS. Diantaranya; negara wajib melarang pornografi-pornoaksi termasuk industri hiburan yang menjajakan  hal ini, tempat prostitusi, dan lokasi maksiat lainnya. Juga penetapan pemberlakuan  sanksi atas hal ini, memberikan hukuman yang berat bagi pelaku termasuk perilaku menyimpang seperti homoseksual.

Untuk para penderita HIV AIDS, maka negara harus melakukan pendataan konkret dengan menyeluruh. Memeriksa darah mereka bagi yang dicurigai rentan terinfeksi HIV AIDS. Kemudian memberlakukan karantina bagi penderita, memisahkan interaksi mereka dari masyarakat umum. Bukan sebagai bentuk diskriminasi, namun untuk menjamin hak-hak hidup mereka.  Disamping itu, pemberian layanan pengobatan gratis, santunan selama dikarantina, serta memenuhi hak pendidikan dan ibadah mereka.

Semua ini, hanya akan terwujud manakala aturan-aturanNya kembali menjadi pedoman dalam menyelesaikan segala macam problematika hidup. Maka, dengan menerapkan syariah-Nya angka kenaikan penderita HIV/AIDS bisa ditekan. Sedikit demi sedikit jumlah penderita  HIV/AIDS akan menurun.

”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. Al Maidah: 50)

Wallahu a’lam[]

(Visited 9 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *