Islam dan Jaminan Hari Tua

Spread the love

Oleh. Ari Sofiyanti
(Alumni Universitas Airlangga)

Muslimahtimes.com– Banyak orang mengkhawatirkan masa tua mereka. Di saat usia senja dan renta, mereka mengharapkan tidak ada yang menelantarkannya dan kebutuhan hidupnya terpenuhi. Minimal, mereka mendapat dana pensiun yang memadai. Namun sayangnya, hidup di sistem kapitalistik adalah kehidupan yang berat. Sadar atau tidak, kita tengah dituntut untuk menjamin kesejahteraan kita sendiri, termasuk jaminan hari tua.

Banyak orang mengharap menjadi PNS agar saat di usia yang tak produktif lagi mereka tetap mendapat dana pensiun. Akan tetapi, sepertinya para pensiunan dipandang membebani APBN. Hal ini diungkapkan oleh Menkeu, Sri Mulyani, bahwa beban negara dalam membayar dana pensiunan PNS sangat besar, yakni mencapai Rp2.929 triliun. Untuk itu Menkeu pun berencana merombak skema pensiunan dari pay as you go menjadi fully funded.

Skema pay as you go dana pensiun PNS diperoleh dari hasil iuran PNS sebesar 4,75℅ gaji pokok pegawai. Lalu ketika PNS tersebut pensiun, maka akan dibayarkan dananya ditambah sebagian lagi sisanya dari APBN. Nah, sejumlah dana yang dibayarkan APBN saat pegawai pensiun hingga meninggal dunia inilah yang dianggap memberatkan.
Sedangkan pada skema fully funded, analog dengan metode investasi atau asuransi. Bedanya dengan pay as you go, pegawai akan menginvestasikan dana dari gaji pokok ditambah tunjangannya. Namun sebenarnya baik skema pay as you go ataupun fully funded, dana pensiun tetap diambil dari iuran pegawai sendiri ditambah dana dari APBN. Sedangkan dana APBN juga diambil dari pajak rakyat. Artinya seluruh kebutuhan rakyat ditanggung sendiri oleh rakyat. Negara telah berlepas tangan dan pemerintah lebih fokus berhitung keuntungan pribadi. Tapi tetap rakyatlah yang dilabeli beban.
Bicara beban APBN, anehnya pemerintah malah sering mengaminkan proyek-proyek tak urgen dan tabzir yang diinstruksikan para kapitalis. Contohnya saja pembangunan listrik 35 megawatt, LRT, kereta cepat dan Bandara Kertajati yang pembangunannya selalu melibatkan utang dan bunga. Entah generasi keberapa yang dapat melunasinya.

Beban APBN semakin bertambah ketika pejabat menganggarkan rumah dinas, mobil dinas, gorden, kalender, uang saku perjalanan dinas dengan jumlah fantastis hanya untuk kenyamanan ekstra yang mewah. Belum cukup dengan semua kekayaan itu, korupsi pun menjadi jalan pintas pejabat memperoleh kekayaan selangit. Sementara itu rakyat harus pasrah ketika BBM dan listrik dinaikkan serta sedikit demi sedikit subsidi dicabut.

Kekhawatiran rakyat akan hari pensiun sesungguhnya tercipta dari sistem yang salah. Karena dalam sistem Islam, umat bahkan tak mengenal pensiun. Hal itu karena Islam mengatur kehidupan manusia secara holistik dengan aturan Allah yang Maha Benar. Allah memerintahkan agar kebutuhan rakyat dijamin oleh negara. Tentu saja Allah mewajibkan laki-laki baligh untuk bekerja mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan mereka. Namun, rakyat tidak dibebani dengan biaya pendidikan, kesehatan dan keamanan. Karena negara menyediakan secara gratis. Listrik dan transportasi umum pun murah meriah. Hal ini karena adanya pengaturan sumber APBN Islam (Baitulmal) salah satunya dari sumber daya alam. Kita tahu bahwa Allah menganugrahkan kekayaan alam berlimpah pada negeri-negeri kaum muslim dan wajib dikelola secara mandiri, bukan diinvestasikan kepada korporasi swasta. Dengan pengelolaan SDA sesuai syariat Islam, negara tidak perlu menarik pajak dan meminta utang.

Kepada para lansia dan orang-orang lemah yang tak mampu mencari nafkah atau mencukupi kebutuhannya sendiri, ada konsep pertanggungan wali. Mereka akan dirawat oleh keluarga yang menjadi walinya. Apabila mereka tak memiliki wali, maka negara yang akan merawat dan melindungi mereka.

Seluruh syariat Islam ini dijalankan dalam negara berasaskan akidah Islam dan menjadikan iman sebagai sandaran. Hanya dengan syariat Islam seluruh problematika hari ini akan selesai dengan rahmat dan ampunan Allah. Insya Allah.