Jika Lockdown, Ekonomi Down?

Spread the love

“Jika Lockdown, Ekonomi Down?”

Oleh: Sherly Agustina, M.Ag
(Revowriter Waringin Kurung)

Muslimahtimes – Juru bicara pemerintah penanganan virus Corona, Achmad Yurianto, menyebut kasus positif virus Corona per Kamis, 19 Maret 2020 mencapai 311 orang, 25 orang meninggal dan 11 orang sembuh. (Wartakotalive.com, 19/03/20).

//Corona Menyebar Pesat//

Mengacu pada data John Hopkins University, saat ini jumlah pasien yang terkonfirmasi virus corona di seluruh dunia telah mencapai 156.296 orang, yang tersebar di 142 negara. Artinya, tiga perempat atau 72,8% dari total 195 entitas negara di dunia sudah melaporkan adanya Covid-19, 4.940 meninggal, 68.529 sembuh.

Namun, jika kita bicara mengenai angka kematian, maka kasus corona di Indonesia terhitung memprihatinkan. Karena perbandingan angka kematiannya masih terhitung tinggi jika dibandingkan dengan total kasus yang terkonfirmasi. Rasio kematian akibat Covid-19 di Indonesia mencapai 8,04 % atau lebih tinggi dari China yang “hanya” 2,8%. Pasien Virus Corona meninggal dunia naik 31,5 %, dan jumlah pasien Virus Corona naik 37 persen dalam sehari ini. (Wartakota live.com, 19/03/20)

Sejak diumumkan oleh pemerintah awal Maret hingga dua pekan lebih kasus akibat Corona menyebar pesat. Info terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan kepada para staf medis di seluruh dunia untuk melakukan tindakan pencegahan dan antisipasi penularan virus Corona melalui udara. Langkah tersebut diambil setelah ada studi baru yang menunjukkan bahwa virus SARS-CoV-2 dapat bertahan hidup di udara dalam beberapa jam. (KumparanSains, 18/03/20)

Indonesia masuk negara tercepat menyebar virus dan angka kematian yang tinggi, deretan menteri dan beberapa pemerintah daerah sudah ada yang positif. Potensi sembuh masih ada, tapi penyebaran yang cepat ini yang masih menjadi PR bagi para pekerja medis di negeri ini. Wabah Corona oleh WHO ditetapkan sebagai pandemi, karena belum ditemukan obat serta metode penularannya secara pasti terhadap kasus Covid-19. Salah satu upaya yang efektif dan sudah dilakukan di beberapa negara adalah untuk menghentikan laju wabah virus Corona dengan penguncian (lockdown).

Namun Indonesia belum mengambil kebijakan lockdown dengan tegas, melainkan masih setengah hati. Saat ini masih sebatas Social Distancing menjaga jarak dengan orang lain, membatasi interaksi dan menjauhi tempat umum dan kerumunan, beberapa daerah meliburkan sekolah. Padahal melihat penyebaran yang begitu cepat dan korban meninggal terus bertambah seharusnya segera ambil tindakan lockdown.

Negara yang menerapkan kebijakan LockDown di antaranya Cina, Italia, Irlandia, Denmark, Prancis, Filiphina dan Spanyol. Saat ini, Cina memprioritaskan pengelolaan virus Corona dengan mengalokasikan sekitar 12,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 175,17 triliun untuk pemeriksaan medis dan peralatannya. Sementara Indonesia masih memikirkan downnya ekonomi jika harus Lokcdown segera karena Corona.

//Lockdwon, Ekonomi Down?//

Negara lain sejak diketahui terjangkit virus Corona sibuk mengurusi rakyatnya, recovery dan pencegahan. Unik sekali di Indonesia masih santai dengan kebijakan Social Distancing dan masih menerima TKA yang mendarat di Kendari setelah mereka transit di Thailand, dengan berbagai dalih tidak ada yang illegal, yang utama difikirkan hanya ekonomi bangsa bukan keselamatan rakyatnya.

Pemerintah Indonesia sibuk memikirkan ekonomi dengan memberikan insentif melalui diskon tiket pesawat antara 30%- 40% untuk 10 destinasi dalam negeri dari Maret hingga Mei 2020. Adapun 10 destinasi wisata yang dimaksud meliputi Batam, Denpasar, Yogyakarta, Labuan Bajo, Lombok, Malang, Manado, Silangit, Tanjung Pinang, dan Tanjung Pandan, sasaran wisatawannya adalah warga asing terutama Cina.

Asosiasi Industri Penerbangan Internasional (IATA) pekan ini mengatakan bahwa kerugian industri penerbangan global dapat mencapai USD113 miliar tahun ini akibat Covid-19. Selain dari pemerintah, maskapai bisa memberikan potongan harga untuk sebagian besar destinasi wisata domestik. Namun demikian, para pelaku usaha tetap merasakan kesulitan akibat turunnya jumlah wisatawan.

Apalagi dengan utang Indonesia yang membengkak sebanyak 1000 triliun, pemerintah lebih fokus pada pertumbuhan ekonomi. Jika Lockdown maka dikhawatirkan akan down, tak heran saat diumumkan ada warga RI yang positif Corona, Asian Development Bank (ADB) berkomitmen untuk mengucurkan pinjaman kepada Indonesia sebesar 2,7 miliar dolar AS, atau sekitar Rp38,5 triliun. (Warta Ekonomi.co.id, 02/03/20) tapi apakah dana ini digunakan untuk rakyat?

Sebagai muslim, harus meyakini 100 persen bahwa datangnya wabah Corona ke negeri ini adalah bagian dari kehendakNya (takdir/Qodho). Apapun ketetapan dariNya pasti yang terbaik seburuk apapun dalam pandangan manusia. Maka yang harus dilakukan sebagai negarawan muslim adalah mengikuti bagaimana Rasul Saw dalam menangani wabah. “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Di zaman Rasululullah SAW pun pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Kala itu, Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra. “Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta.” (HR Bukhari).

Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya untuk tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar. Di zaman Rasulullah SAW jikalau ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus, jauh dari pemukiman penduduk.

Tha’un sebagaimana disabdakan Rasulullah saw adalah wabah penyakit menular yang mematikan, penyebabnya berasal dari bakteri Pasterella Pestis yang menyerang tubuh manusia. Jika umat muslim menghadapi hal ini, dalam sebuah hadits disebutkan janji surga dan pahala yang besar bagi siapa saja yang bersabar ketika menghadapi wabah penyakit. “Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya).” (HR Bukhari).

Hal pertama yang dilakukan adalah segera lockdown (isolasi) untuk mencegah agar wabah tersebut tidak menyebar ke daerah lain. Karena Allah menguji dengan wabah, harus diyakini pasti Allah memberikan solusi bagaimana mengurus rakyat agar tetap terpenuhi kebutuhannya bagi yang terisolasi, daerah lainnya dan ekonomi negara diupayakan tetap stabil. Jikapun tidak stabil atau sedikit terguncang hal ini wajar karena ini di luar kekuasaan manusia.

Ketika misalnya khilafah sebagai negara Islam yang menerapkan aturan Allah secara kaffah terkena virus seperti Corona, maka sudah menjadi tanggung jawab pemerintah mengurus warganya mendapatkan fasilitas yang baik dan pelayanan yang terbaik. Tanpa harus berutang ke luar negeri apalagi negeri tersebut adalah musuh Islam.

Pengelolaan yang digunakan oleh khilafah adalah sistem ekonomi Islam, maka sumber keuangan daulah khilafah dari kas Baitul Mal. Negara memiliki dana untuk mengurusi rakyatnya baik yang sudah terjangkit virus ataupun pencegahan bagi yang belum terjangkit virus. Strategi kebijakan ekonomi khilafah merupakan bagian integral dari kebijakan politik pemerintahan, sehingga tak terpisah dari kebijakan negara di bidang lainnya. Di antaranya, pertama, Memastikan suplai kebutuhan vital pada wilayah yang diisolasi, jika pusat penyakit ada di wilayah khilafah.

Membiayai aktivitas edukasi dan promosi hidup sehat pada masyarakat di luar wilayah pusat penyakit. Dana untuk mengatasi Corona di bagian Belanja Negara Baitul Mal masuk dalam dua seksi. Seksi Mashalih ad Daulah, khususnya Biro Mashalih ad Daulah dan Seksi Urusan Darurat/Bencana Alam (Ath Thawari). Seksi ini memberikan bantuan kepada kaum muslim atas setiap kondisi darurat/bencana mendadak yang menimpa mereka. Biaya yang dikeluarkan dari seksi Ath Thawari diperoleh dari pendapatan fai’ dan kharaj. Apabila tidak terdapat harta dalam kedua pos tersebut, maka kebutuhannya dibiayai dari harta kaum muslim (sumbangan sukarela atau pajak).

Indonesia tak akan down jikapun Lockdown kalau aturan Islam yang digunakan, apalagi Allah Swt titipkan kekayaan SDA yang luar biasa di negeri ini. Stop utang karena hal itu menurunkan harga diri dan bunuh diri politik, tentukan sikap berani mengembargo diri dalam menyelesaikan permasalahan dalam negeri termasuk Corona. Mohon ampun pada Allah Swt karena selama ini sudah lalai dan amat jauh dari aturanNya serta berdoa agar diberi kemudahan dan jalan keluar dari musibah ini. Sejatinya semua adalah renungan bagi umat Islam agar tidak semakin jauh dariNya.

Allah’ A’lam Bi Ash Shawab

(Visited 63 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *