Judul: Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda

Spread the love

Judul: Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda

Penulis: Nicko Pandawa
Penerbit: Komunitas Literasi Islam
Tahun Terbit: 2020
Tebal: 436 halaman
Peresensi: Nisfuanna

Muslimahtimes.com – “Bagaimana perkembangan Pan-Islamisme mulai dari kelahiran dan kompleksitasnya di Timur Tengah sampai pengaruhnya ke Hindia-Belanda yang begitu kuat?”

Pertanyaan di atas adalah salah satu dari dua persoalan yang dijawab oleh penulis melalui buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda” yang terbit tahun 2021. Gagasan Pan-Islamisme sendiri muncul akibat kondisi umat Islam yang terpecah belah. Gerakan ini juga menjadi salah satu bentuk perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme yang menghegemoni wilayah Timur Tengah pada abad ke-19.

Pemaparan sejarah dalam buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanja” dimulai dari kondisi Khilafah Utsmaniyyah yang merosot hingga penobatan Sultan Abdul Hamid II yang memberikan harapan bagi umat Islam. Salah satu perjuangan Sultan Abdul Hamid adalah membentuk Pan Islamisme. “Ia (Sultan Abdul Hamid II) menganggap Islam sebagai pemersatu yang paling manjur untuk warga negaranya dalam konteks politik dalam negeri.” [h.58]

“Menurut Anthony Reid, sebuah gerakan dianggap Pan-Islamisme jika ia memberikan suatu basis ideologis untuk kerja sama di antara, atau di luar, satuan-satuan politik tersendiri; di dalam suatu perjuangan politik yang ada di bawah bendera Islam.” ~ [h.4].

Dalam buku ini, gagasan Pan-Islamisme dari Sultan Abdul Hamid II mendapat gesekan tidak hanya dari negara-negara Eropa, tetapi dari dalam ‘tubuh’ umat Islam. Pemikiran Eropa yang sudah merasuk di wilayah-wilayah berbasis Islam menghadirkan tandingan yang digaungkan oleh Djamaludin Al Afghani dengan konsep yang berbeda, yaitu ‘Pan-Islamisme Modern’.

“… dimana Pan-Islamisme [Al Afghani] yang mereka maksud sudah banyak dipengaruhi dengan ide nasionalisme model patriotik Perancis.” [h.374] Ide nasionalisme sendiri diartikan sebagai ideologi kecintaan pada tanah airnya. Konsep tanah air inilah yang menjadi salah satu pembeda kedua gerakan yang disebutkan dalam buku, selain penyebab-penyebab lainnya. “… ‘tanah air’ yang dimaksud oleh doktrin nasionalisme yang ditanam penjajah … adalah tanah air yang teritorialnya adalah batas-batas ciptaan kolonial.” ~ [h. 238]

Adanya hubungan antara umat muslim di Hindia Belanda dengan Khilafah Utsmani dan wilayah Timur Tengah, menjadi jalan masuk pengaruh Pan-Islamisme, baik konsep Sultan Abdul Hamid II maupun Djamaludin Al Afghani. Proses masuknya gerakan Pan-Islamisme disampaikan dengan sistematis dan jelas dalam buku ini, di antaranya kehadiran konsulat Utsmani di Hindia Belanda dan kerja-kerja yang dilakukan para konsulnya, kongres-kongres yang terjadi setelah kejatuhan Khilafah Utsmani, juga pengaruh media-media di Hindia Belanda.

Kondisi rumit umat diuraikan penulis melalui konflik-intrik dalam tubuh Islam dan arus deras pemikiran ‘Barat’, membuat ide nasionalisme terlihat semakin ‘realistis’. Perkembangan nasionalisme di Hindia Belanda pun tidak lepas dari friksi yang menyebabkan munculnya dua kubu kuat, yaitu nasionalisme religius dan nasionalisme sekuler.

“Buku Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda” memaparkan kajian sejarahnya dengan referensi yang diriset penulis dalam waktu dua tahun. Catatan kaki hampir selalu muncul di setiap lembarnya, berisikan sumber-sumber baik primer atau sekunder. Tidak jarang penulis memberikan dua/tiga judul buku untuk dijadikan pembanding dalam sebuah bahasan.

Riset yang cukup menggetarkan ini ternyata tidak membuat pemaparan sejarahnya menjadi rumit, malah lebih terasa mengalir. Bagi pembaca awam akan mudah diajak memahami setiap fase-fase perubahan, Muslim di Hindia Belanda, yang sebelumnya mendukung penuh Pan-Islamisme bergeser memilih nasionalisme sebagai dasar perjuangannya melawan kolonialisme Belanda. Jadi, jangan lewatkan buku sejarah yang satu ini.