Kala Azan Diserupakan Gonggongan

Spread the love

 

Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S

MuslimahTimes.com – “Bundaaa sudah azan, kok belum selesai ngajinya?” ucap anakku ketika azan salat Zuhur berkumandang, sementara kajian di Zoom belum usai.

Begitulah anak-anakku sudah terbiasa ketika mendengar azan langsung bergegas mengambil air wudu dan langsung salat setelah azan selesai.

Begitu pun saat mereka sedang asyik bermain, tiba-tiba azan berkumandang, mereka pun langsung membereskan mainan dan bersiap untuk salat. Dahsyatnya panggilan azan, membuat anak-anak yang fitrahnya suci dan jiwanya bersih pun bersegera menyambutnya. Aku jadi ingat saat dua tahun lalu umrah bersama suamiku. Di tanah suci Makkah dan Madinah, suara azan begitu merdu dan indah mengalun, seiring dengan semua kaum muslimin berbondong-bondong mendatangi masjid untuk melaksanakan salat berjamaah. Para pedagang pun meninggalkan toko-tokonya begitu saja demi melaksanakan salat.

Soal salat di awal waktu, sejak awal menikah, aku dan suami memang berkomitmen membiasakan salat di awal waktu. Jadi, ketika azan berkumandang langsung kami menghentikan semua aktivitas dan bersiap melaksanakan salat. Akhirnya anak-anakku juga terbiasa mengikuti pola tersebut. Tanpa dikomando, begitu mendengar azan biasanya mereka langsung bersiap salat. Jadi, kumandang azan sangat berharga bagiku sebab mengingatkanku akan waktu salat. Meski aku sudah tahu kapan waktunya salat, tapi adanya panggilan azan membuat jiwaku terpanggil dan terdorong untuk bersegera menjawab panggilan-Nya itu.

Aku merasa sangat bersyukur karena tempat tinggalku sangat dekat dengan masjid. Sehingga suara kumandang azan terdengar sangat jelas di lima waktu salat. Bagiku suara itu bukan hanya indah maknanya, tetapi juga menjadi alarm bagi kita untuk mengingat-Nya.

Suatu hari, speaker masjid di dekat rumahku rusak, sehingga suara azan hampir tak terdengar. Hanya sayup-sayup suara azan dari masjid yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalku yang terdengar. Sampai suatu subuh, aku terlambat bangun beberapa menit karena tak terdengar lantunan salawat sebelum subuh, apalagi suara azan. Padahal biasanya aku bangun sebelum subuh, karena masjid di dekat rumahku memperdengarkan salawat 30 menit sebelum subuh. Sungguh, suasana yang menyentuh qalbu.

Sementara itu, di belakang tempat tinggalku ada seorang Nasrani yang memelihara anjing. Gonggongan nya seringkali terdengar nyaring, tak mengenal waktu. Namun, aku berusaha memahaminya, tak menganggapnya gangguan, asalkan anjingnya tak dilepas dan menjulurkan liur kepadaku. Itu baru gangguan, karena liur anjing najis dalam Islam.

Maka, aku sangat tersentak saat seorang Menteri yang membawahi bidang Agama justru menganalogikan suara speaker masjid, termasuk azan, dengan suara gonggongan anjing. Kurasa tak hanya aku yang gusar, seluruh kaum muslimin pun murka. Wajar, beranda media sosialku dipenuhi kritik atas pernyataan sang menteri. Betapa tidak, selama ini tak ada yang pernah mempersoalkan suara speaker masjid, mengapa tiba-tiba mengkritisinya bahkan berwacana mengaturnya? Sungguh tak ubahnya laksana menepuk air tenang.

Mungkin beginilah konsekuensi logis dari hidup dalam naungan sekularisme? Segala hal berbau Islam kian dibatasi. Sungguh benar apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah saw bahwa kelak hukum-hukum Islam akan dicerabut satu per satu, mulai dari perkara pemerintahan hingga terakhir perkara salat. Dan benarlah adanya, kini azan yang merupakan panggilan salat sekaligus mengandung syiar ketauhidan mulai disenggol. Benarlah hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak ‘ala shahihaini.

Sungguh, simpul-simpul Islam akan dilepaskan satu demi satu, setiap kali satu simpul terlepas, orang-orang bergantung pada simpul berikutnya. Yang pertama terlepas adalah al-hukm (Pemerintahan/hukum) dan yang terakhir adalah salat.

Mungkinkah, pernyataan sang Menteri merupakan sinyal bahwa simpul Islam yang paling akhir juga sedang berupaya dilepaskan? Aku sungguh khawatir akan kondisi kaum muslimin hari ini dan nanti, jika kebanyakan bersikap pragmatis bin apatis. Kita harus bergerak mengubah keadaan, berpikir kritis dan bergerak sistematis demi terwujudnya peradaban Islam yang gemilang. Allahu Akbar!!!!