Breaking News

Ketika Korupsi Menjadi Harga Mati

Spread the love

Oleh : Ummu Azka

Muslimahtimes– Hari antikorupsi sedunia diperingati setiap tanggal 9 Desember. Jokowi dijadwalkan menghadiri pentas Prestasi Tanpa Korupsi di SMKN 57, Jakarta. Sedangkan wakil presiden Bapak Ma’ruf Amin terjadwal menghadiri perayaan antikorupsi di kantor KPK. Staf khusus presiden bidang komunikasi Fadjroel mengungkapkan, dalam rangka peringatan hari anti korupsi sedunia, Presiden Jokowi berkomitmen mendorong penegakan hukum antikorupsi dari pencegahan hingga pemberantasan korupsi di seluruh Indonesia. (cnnindonesia.com)

Komitmen untuk memberantas korupsi nampaknya berbanding terbalik dengan fakta yang kini terjadi. Publik tentu masih ingat peristiwa penting menjelang pelantikan jilid 2, penguasa merevisi UU KPK. Beberapa pasal yang direvisi disinyalir mengarahkan kepada pengurangan wewenang KPK dalam menjalankan fungsi mulianya untuk mengusut dan menyelidiki kasus korupsi.

Tak hanya itu, catatan kelam pemberantasan korupsi negeri ini semakin tebal dengan diangkatnya Ahok sebagai komisaris Pertamina. Pasalnya, Ahok baru saja selesai menjalani hukumannya sebagai narapidana kasus penistaan agama dan namanya masih dianggap bermasalah dengan kasus pembebasan lahan rumah sakit Sumber Waras.

Belum cukup sampai disitu, pemberian grasi kepada narapidana korupsi Anas Maakmun dengan alasan karena usia yang sudah tua, membuat umat Islam terluka dan membandingkan dengan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Ulama kharismatik dengan kondisi yang lebih memprihatinkan nyatanya hingga kini harus berada dalam dinginnya jeruji besi. Tanpa tuduhan yang jelas beliau mendapatkan hukuman yang naas.

#Butuh Perubahan Sistemik
Kondisi faktual terkait korupsi akut yang sedang dialami mayoritas pejabat negeri, dan perlakuan istimewa penguasa pada mereka adalah buah dari diterapkannya sistem demokrasi neoliberal. Bernaung di bawah sekularisme kapitalis, pemerintahan saat ini tak ubahnya kumpulan pedagang yang mencari keuntungan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kebijakan yang mencekik rakyat cilik. Tarif dasar listrik naik, iuran kesehatan melejit. Sementara petani banyak terpuruk, sebab barang impor kian menumpuk. Hutang negara kian tak terhitung, namun rakyat semakin limbung. Sulitnya mencari lapangan pekerjaan yang layak meski hanya untuk makan.

Perlu ada upaya nyata jika ingin menyelamatkan negeri dari jeratan korupsi. Tak cukup sekadar retorika pemanis media. Beralih pada Islam adalah jawaban satu-satunya agar negeri ini bebas korupsi.

Islam menempatkan kekuasaan sebagai wasilah bagi penerapan syariat. Para pejabat dipilih dari sosok yang layak lagi taat. Keterikatan yang tinggi terhadap syariat merupakan komitmen yang pasti untuk menjamin setiap pejabat bebas dari jeratan korupsi.

Abu Bakar RA adalah contoh nyata pemimpin yang shalih dan antikorupsi. Dalam sebuah riwayat, Aisyah menceritakan, sebelum Abu Bakar wafat, ia menyampaikan wasiat kepada putrinya tersebut untuk memetik seluruh harta kekayaannya. Jika ada yang bertambah setelah beliau menjabat sebagai khalifah, beliau berwasiat untuk mengembalikan kepada negara melalui khalifah yang terpilih setelahnya.

Setelah ayahnya wafat, Aisyah pun memeriksa seluruh harta ayahnya . Tidak ada yang bertambah dari hartanya kecuali unta yang biasa dipergunakan untuk menyirami kebun dan seorang hamba sahaya pengasuh yang menggendong bayinya.

Sosok Abu Bakar sungguh telah mencontohkan kebijakan yang luar biasa. Beliau telah mencontohkan bagaimana pemimpin adalah tonggak utama bagi gerakan antikorupsi. Tak ingin mendapatkan kelebihan harta apa pun selama menjabat sebagai khalifah. Padahal, Abu Bakar adalah juga seorang saudagar yang sangat wajar jika hartanya bertambah.

Sudah saatnya negeri ini terbebas dari korupsi. Semuanya hanya niscaya jika Islam diterapkan secara kaffah dalam institusi negara. Dengannya istilah korupsi harga mati yang menjangkiti moral pejabat negeri akan dihilangkan tanpa tapi tanpa nanti. Wallahu alam bishshowab.

(Visited 13 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *