Khilafah Merusak, Benarkah?

Spread the love

Oleh : Hana Annisa Afriliani,S.S

(Penulis Buku dan Aktivis Dakwah)

Muslimahtimes– Lagi dan lagi, fitnah terhadap Khilafah dilontarkan petinggi negeri. Kali ini dari Prof. Mahfud MD, beliau mengatakan, “Sistem khilafah yang sekarang ditawarkan yang sebenarnya itu agendanya merusak,” ujar Mahfud di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (3/1). Beliau menyampaikan demikian usai menerima kunjungan perwakilan Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI). (diolah dari kumparan.com/03-01-2020)

Kemudian beliau juga menegaskan bahwa opini yang berhembus terkait pemerintah mengidap islamophobia adalah bentuk adu domba kebencian saja. Benarkah demikian? Dan apakah benar pula bahwa Khilafah bersifat merusak?

Pernyataan tersebut jelas berbahaya, karena secara tidak langsung akan menjadikan umat semakin takut terhadap ide khilafah. Bagaimana tidak, ide khilafah selalu dimonsterisasi. Dianggap sebagai ancaman bagi negara, radikal dan wajib dimusnahkan dari bumi pertiwi.

Berbagai kebijakan pemerintah juga diarahkan untuk hal tersebut. Mulai dari penerbitan SKB 11 Menteri tentang radikalisme, pereduksian ajaran Islam: Jihad dan Khilafah dari kurikulum di madrasah. Keduanya tak lagi masuk dalam materi pembelajaran fiqih, melainkan sejarah kebudayaan saja. Inilah bentuk upaya pemerintah untuk menjauhkan benak umat dari ghirah perjuangan jihad dan penegakan khilafah. Ketika materi jihad dan khilafah dimasukkan ke dalam mata pelajaran sejarah, maka posisi keduanya sekadar kenangan masa lampau. Tak relevan jika diterapkan hari ini.

Persis seperti apa yang pernah diungkapkan oleh Wapres, KH.Ma’ruf Amin, bahwasanya Khilafah sudah tidak cocok diterapkan dalam kehidupan saat ini.

Sungguh semestinya setiap Muslim menilai segala sesuatu berdasarkan kacamata syara saja. Khilafah jelas ajaran Islam. Penegakkannya adalah sebuah kewajiban. Banyak nash yang menunjukkan hal tersebut.

Rasulullah Saw bersabda:

Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada imam/khalifah), maka ia mati jahiliah.” [HR Muslim].

Jika dikatakan bahwa Khilafah adalah ide yang merusak, jelas itu merupakan pernyataan tak mendasar sama sekali. Karena secara historis, Khilafah pernah menguasai 2/3 belahan dunia selama lebih dari 1400 tahun. Saat itu, yang terpotret adalah sebuah kegungan dan kecemerlangan peradaban. Bukan sebuah kerusakan.

Sejarah mencatat bahwa Khilafah mampu menciptakan kondisi masyarakat yang sejahtera dan beradab.

Will Durant seorang sejarawan Barat dalam buku yang dia tulis bersama istrinya Ariel Durant, Story of Civilization, mengatakan, “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka”

Berbagai kegemilangan ditampakkan selama Khilafah tegak di atas muka bumi. Segala aspek kehidupan tertata sempurna berlandaskan pada aturan syariat Islam. Infrastruktur dibangun dengan kualitas terbaik. Dalam bidang pendidikan, Khalifah menerapkan sistem pendidikan Islam yang menjadikan akidah sebagai basis pengajarannya. Sehingga outputnya adalah sosok-sosok intelektual yang beradab dan bertakwa kepada Rabbnya. Sekolah bukan hanya mengejar prestasi akademik, namun juga menempa diri menjadi sosok yang berkepribadian unggul. Khilafah juga memberikan layanan pendidikan gratis bagi seluruh rakyatnya karena pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap rakyat.

Begitupun dalam bidang kesehatan, khilafah memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi rakyat. Sungguh berbeda dengan sistem kapitalisme hari ini yang membisniskan layanan kesehatan kepada rakyatnya sendiri. Sehingga biaya kesehatan kian mahal. Wajar jika akhirnya muncul sebuah sindiran, “orang miskin dilarang sakit.”

Tak hanya itu, dalam masa kekhilafahan, banyak terlahir para ilmuwan hebat yang menghasilkan banyak penemuan. Kelak apa yang mereka hasilkan menjadi inspirasi bagi Barat untuk mengembangkannya. Contohnya Ibnu Sina, ilmuwan Muslim dari Persia. Beliau menulis buku The Canon of Medicine. Buku tersebut akhirnya menjadi pedoman mahasiswa kedokteran di Eropa hingga tahun 1600-an. Selanjutnya ada Al-Khawarizimi ialah ilmuwan muslim yang ahli di bidang matematika. Imuwan dari Persia ini menemukan sistem penomoran 1-10. Ia juga berjasa menemukan konsep aljabar dan algoritma.

Ada juga Ibnu Khaldun, dialah ilmuwan dari Tunisia yang dikenal sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi.

Masih banyak ilmuwan yang lahir dari rahim kekhilafahan. Karya-karyanya mampu menerangi dunia.

//Khilafah Menaungi Keberagaman//

Tak hanya itu, Muslim dan nonmuslim hidup berdampingan secara damai tanpa merasa terdiskriminasi satu dan yang lainnya di dalam naungan Khilafah.

Seorang orientalis dan sejarawan Kristen bernama T.W. Arnold dalam bukunya, The Preaching of Islam : A History of Propagation Of The Muslim Faith, dia banyak membeberkan fakta-fakta kehidupan dalam negara Khilafah.

“Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Khilafah Turki Utsmani–selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani–telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa).”

Tidak jauh berbeda, Karen Amstrong mengatakan bahwa kaum Yahudi menikmati zaman keemasan di Andalusia. Dia mengatakan “Under Islam, the Jews had Enjoyed a golden age in al-Andalus.”

Jadi sungguh, berbagai stigma negatif yang diarahkan kepada Khilafah hanyalah sebuah fitnah yang menampakkan sebuah ketakutan akan kebangkitan Islam. Bagaimana tidak, ketika Khilafah tegak, ia akan menghabisi nyawa kapitalisme. Sedangkan kapitalisme merupakan sistem yang menghegemoni dunia saat ini

Jika pemerintah tak ingin dituding mengidap islamophobia, maka semestinya tidak memonsterisasi ide Khilafah, termasuk mengkriminalisasi pengusungnya. Sebab sejatinya Khilafah bukan ancaman, melainkan sebuah solusi tuntas atas segala permasalahan yang membelit umat hari ini. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *