Kisah Cinta Nabi Ibrahim dan Sarah

Spread the love

Oleh: Erni Misran

Sarah, Wanita Pilihan

Sungguh, Allah telah menganugerahi Sarah berbagai nikmat yang menjadikannya sebagai seorang wanita sempurna. Sarah merupakan wanita yang sangat jelita pada zamannya; ia berasal dari keturunan yang terpelihara dan kaya raya; dan ia memiliki akhlak yang terpuji.

Kecantikan wajah Sarah dapat disetarakan dengan kecantikan Hawa, istri Nabi Adam A.S. Sarah merupakan anak paman Nabi Ibrahim yang bernama Haran, yang dinasabkan kepadanya daerah Haran. Penduduk daerah Haran merupakan penyembah berhala sebagaimana penduduk daerah Babylonia, tempat tinggal Nabi Ibrahim. Namun Sarah adalah seorang wanita yang sangat mencela agama yang dipeluk oleh masyarakatnya. Ya, Sarah tidak hanya memiliki kecantikan wajah, melainkan juga memiliki kecantikan hakiki yang memancar dari dirinya: ketaqwaan kepada Allah.

Kecantikan Sarah lahir dan batin sungguh telah memikat hati Nabi Ibrahim. Beliau yang mulia pun kemudian mempersunting Sarah sebagai istrinya. Pilihan Nabi Ibrahim tidaklah salah. Sepanjang liku kehidupan beliau kelak dalam memperjuangkan risalah Allah, Sarah senantiasa mendampingi dengan keshalehannya. Harta yang dimilikinya berupa ternak dan lahan yang luas juga dengan rela hati ia serahkan kepada Nabi Ibrahim untuk diurus dan dikembangkan.

Perjalanan Hijrah

Kehidupan keluarga Nabi Ibrahim di Babylonia sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Mereka benar-benar terasing dari kehidupan masyarakat yang merupakan penyembah berhala di bawah kekuasaan Raja Namrud yang lalim. Sekalipun Nabi Ibrahim telah membuktikan bahwa patung-patung itu tidak mempunyai kuasa, tetap saja kaumnya tak hendak menyembah Allah. Pun ketika Allah menunjukkan kebesarannya dengan menyelamatkan Nabi Ibrahim dari kobaran api yang hendak membakarnya, kaumnya tetap saja ingkar.

Hati Nabi Ibrahim pun bertambah pilu manakala ayah kandung yang dicintainya tak jua mau mengikuti jalan Allah. Bahkan sang ayah sedemikian murkanya sehingga memintanya untuk meninggalkan kampung halamannya untuk selama-lamanya (Q.S. Maryam: 46).  

Akhirnya, Nabi Ibrahim memutuskan untuk hijrah ke Negeri Syam bersama istrinya Sarah, Luth, dan beberapa pengikutnya. Sayangnya, Negeri Syam dilanda masalah paceklik dan penyakit menular. Mereka pun kembali mengadakan perjalan hijrah ke Mesir. Sungguh disayangkan pula, kala itu Mesir diperintah oleh seorang raja lalim yang sangat cenderung kepada wanita cantik. Kehidupan pernikahan mereka diuji manakala harus berhadapan dengan sang raja. Namun berkat keshalehan Sarah, mereka berhasil melewati ujian tersebut.

Keluarga Nabi Ibrahim akhirnya kembali hijrah untuk mencari daerah yang aman. Mereka meninggalkan Mesir dan menetap di Baitul Maqdis, Palestina. Mereka tak henti-hentinya berjuang untuk menyeru orang-orang agar menyembah Allah.

Allah Melindungi Kesucian Sarah

Semasa di Mesir, Nabi Ibrahim dan Sarah harus berjuang untuk mempertahankan cinta mereka dari kelaliman raja yang konon bernama ‘Amr bin Amru’ Al-Qais bin Mailun. Setiap mendengar ada wanita cantik, sang raja selalu ingin memilikinya. Ia tak peduli sekalipun wanita itu telah bersuami. 

Kecantikan Sarah pun sampai ke telinga sang raja. Hasrat sang raja seketika menggebu dan menyuruh pengawalnya untuk memanggil Nabi Ibrahim dan Sarah. Ketika raja bertanya kepada Nabi Ibrahim siapakah wanita yang bersamanya, Nabi
Ibrahim menyatakan bahwa wanita itu adalah saudari perempuannya.

Cinta Nabi Ibrahim kepada Sarah telah memaksanya untuk mengatakan hal yang bohong. Hal itu tidak lain adalah untuk menyelamatkan keutuhan rumah tangga mereka. Ya, para rasul Allah sangat terjaga lisannya, mereka hanya menyampaikan kebenaran. Namun kali ini, Nabi Ibrahim terpaksa berdusta.

 Abu Hurairah R.A. meriwayatkan dalam sebuah hadits riwayat Bukhari bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Ibrahim A.S. tidak pernah berdusta kecuali tiga kali. Dua di antaranya karena Allah: yang pertama adalah perkataannya ketika diajak untuk beribadah kepada berhala tuhan mereka dan Ibrahim A.S. menjawab, ‘Sesungguhnya aku sakit.’ (Q.S. As-Shaffat: 89); dan yang kedua adalah perkataannya, ’Sebenarnya patung besar itulah pelakunya.’ (Q.S. Al-Anbiya: 63). Lalu yang ketiga adalah perkataannya tentang Sarah, ‘Sesungguhnya dia saudariku‘.” 

 Lihatlah bagaimana mesranya Sarah dengan Rabb-nya dalam menghadapi hal ini. Ia dengan kekhusyukan bermunajat kepada Allah saat sang raja hendak berbuat keji kepadanya.  

“Ya Allah. Sesungguhnya aku beriman kepada-Mu dan kepada rasul-Mu serta aku selalu memelihara kehormatanku. Janganlah Engkau biarkan orang itu merusak kesucianku!”

Subhanallah, seketika Allah menghentikan langkah sang raja, tubuhnya kaku dan susah untuk bernafas. Ia tak kuasa untuk melanjutkan maksud kejinya. Sang raja meronta dan memohon untuk dibebaskan. Ia berjanji tidak akan mengganggu Sarah lagi. Sarah pun kembali bermunajat kepada Allah.

“Ya Allah. Andaikan raja ini mati, tentu orang-orang akan menuduh bahwa aku yang membunuhnya!”

Kemudian Allah mengembalikan keadaan sang raja seperti sedia kala. Sayangnya, raja tetap saja berhasrat mengulangi perbuatannya. Sarah pun kembali melantunkan do’a memohon agar Allah menjaga kesuciannya. Dengan kuasa Allah, raja pun kembali mengalami hal yang sama, tidak kuasa untuk bergerak. Ia kembali memohon kepada Sarah agar dibebaskan dan Sarah pun kembali memohon kepada Allah.

Setelah kejadian yang berulang itu, sang raja pun mundur dari niat buruknya. Ketakutan yang hebat menyelimuti jiwanya. Seketika ia membebaskan Sarah dan memberinya hadiah seorang hamba sahaya bernama Hajar.

Betapa indahnya pertolongan Allah. Selama ini Sarah selalu ‘menjaga’ Allah dalam hatinya, maka lihatlah bagaimana penjagaan Allah terhadap Sarah. Allah telah melindungi kesucian Sarah. Allah jua telah mengekalkan kehidupan cinta Nabi Ibrahim dan Sarah.

Menanti Cahaya Mata

Memiliki anak merupakan dambaan bagi semua pasangan suami istri, tak terkecuali bagi dua sejoli ini. Mereka sangat mengharapkan hadirnya cahaya mata dalam kehidupan mereka. Bukan saja sebagai penyeri keluarga, tapi yang lebih utama adalah sebagai penerus risalah. Pengemban amanah dakwah yang akan terus menyeru manusia untuk mengikuti ajaran Allah.

Ternyata Allah masih hendak menguji bahtera rumah tangga Nabi Ibrahim dan Sarah. Berpuluh tahun menanti cahaya mata, namun Allah belum juga berkenan memenuhi keinginan mereka. Segala daya dan upaya tak putus-putus mereka usahakan. Segala harap dan pinta tak henti-henti mereka senandungkan.  

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.” (Q.S. As-Saffat:100)

Betapa sunyi hari-hari yang mereka lalui. Betapa sepi suasana batin yang mereka hadapi. Kenyataan ini sungguh menyusahkan hati Sarah. Di kala usianya yang semakin menua, Sarah memilih untuk lebih mementingkan suaminya daripada dirinya sendiri. Dia ingin membahagiakan suaminya dengan kehadiran seorang anak. Dia mengetepikan perasaannya dan berusaha mencarikan pendamping untuk suaminya.

Pendamping untuk Suami

Melalui kejernihan hatinya, lewat munajat yang tak pernah putus kepada Rabb-nya, Sarah teringat kepada hamba sahayanya, Hajar. Sejak hidup bersama keluarga mereka, Hajar pun telah menjadi wanita yang beriman yang mengikuti risalah Nabi Ibrahim. Sarah melihat pancaran keimanan dan keshalihan dalam diri Hajar. Allah telah melapangkan hati Sarah untuk menawarkan Hajar kepada suaminya sebagai pendamping hidup. Tiada lain keinginannya adalah semoga Allah memberikan keturunan darinya.

Nabi Ibrahim pun akhirnya menikahi Hajar. Tak lama berselang, Allah berkenan memberikan kabar gembira kepada mereka dengan kehadiran Ismail.

“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail).” (Q.S. As-Saffat:101)

Betapa melambungnya perasaan Nabi Ibrahim. Betapa gemuruhnya kesyukuran yang ditunjukkan keluarga ini saat menyambut Ismail.

Ya, Ismail adalah anak lelaki yang sabar dan taat yang senantiasa mendukung perjuangan ayahnya dalam melaksanakan perintah Allah. Ismail yang kelak di kemudian hari akan memberikan keturunan berupa seorang utusan Allah yang terakhir. Seorang penutup para nabi, yaitu junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW.

Lalu, siapakah Hajar? Banyak kisah yang menyatakan bahwa ia adalah seorang budak hitam yang diberikan raja Mesir kepada Sarah. Hajar memiliki kharisma kecantikan yang memancar di wajahnya. Ia seorang wanita yang cerdas, beraklak mulia, dan bermental kuat. Namun, pada sebuah kisah diceritakan bahwa wanita yang dikatakan hamba itu ternyata tidak lain adalah putri raja Mesir sendiri. Kisah itu menuturkan betapa Allah memelihara ketinggian nasab Rasulullah Muhammad SAW.

Cemburukah Sarah?

Bagaimana pula riak perasaan Sarah begitu mengetahui bahwa Hajar hamil dan mampu memberikan keturunan bagi Nabi Ibrahim? Berbagai kisah menunjukkan betapa cemburunya Sarah dengan kenyataan ini. Sarah bahkan meminta Nabi Ibrahim menjauhkan Hajar dan anaknya dari kehidupan Nabi Ibrahim.

Benarkah demikian? Sebagai wanita yang tak bisa menghadirkan buah hati untuk suaminya, rasanya hal itu wajar saja dirasakan oleh Sarah. Namun, sedemikian besarkah api cemburunya sehingga ia hendak ‘membuang’ Hajar? Wallahu ‘alam.

Pada kisah yang lain ada disampaikan bahwa sesungguhnya Sarah pun berbesar hati dengan kehadiran Ismail. Bahkan ia menggendong dan mendekap Ismail dengan penuh kasih sayang. Ia pun mendo’akan Ismail semoga dilindungi Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Hal ini pun terasa wajar bila mengingat keshalehan Sarah. Wallahu ‘alam.

Satu hal yang pasti, Allah kembali menguji keimanan dan keikhlasan hati Nabi Ibrahim dalam memurnikan agamanya. Allah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim untuk hijrah ke sebuah lembah yang sangat jauh, ke tempat yang tandus dan tak berpenghuni.  Nabi Ibrahim dengan mantap memenuhi perintah ini. Beliau yakin akan hikmah yang Allah berikan di balik perintah ini.

Kabar Gembira Lainnya

Allah berkenan memberikan kabar gembira lainnya kepada keluarga Nabi Ibrahim dan Sarah di Palestina. Allah mengutus para malaikat-Nya kepada Nabi Ibrahim untuk mengabarkan akan kehadiran seorang anak yang akan meneruskan amanah dakwah. Sarah terkesima, ia hampir-hampir tidak mempercayainya.

“Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib,” ujar Sarah.

Namun para malaikat meyakinkan Nabi Ibrahim dan Sarah. Betapa semua hal yang terjadi adalah ketetapan Allah. Berita tentang kelahiran Ishaq, yang kemudian akan disusul dengan Ya’qub, itu adalah rahmat dan berkah Allah yang dicurahkan kepada Nabi Ibrahim dan Sarah. (Q.S. Hud: 69 – 73)

Ya, segala hal bisa saja terjadi bila Allah menghendaki. Semuanya adalah mudah bagi Allah. Ketika Ia mengatakan kun, maka semuanya pasti akan terjadi. Tiada yang mustahil.

Betapa manis akhir penantian Nabi Ibrahim dan Sarah. Mereka merasakan semburat pelangi yang memenuhi ruang hati mereka. Di usia Sarah yang sudah 90 tahun, ia akhirnya mengandung dan melahirkan Ishaq, seorang anak laki-laki yang ‘alim.

 “Mereka berkata, ‘Janganlah kamu takut’ dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) anak yang ‘alim (Ishaq)”. (Q.S. Adz-Dzaariyat: 28)

Kisah cinta Nabi Ibrahim dan Sarah penuh liku dan penuh warna. Mereka telah menorehkan sejarah yang abadi melalui jalan ketaatan yang mereka tempuh, begitu pula dengan buah cinta mereka. Salaamun `ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim.

(Visited 179 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *