Kunjungan Menlu AS Pompeo, Indonesia diantara Dua Kepentingan Negara Besar

Spread the love

Oleh. Ermawati Basri
(Aktivis Muslimah Makassar)

MuslimahTimes.com – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, tiba di Jakarta pada Kamis (29/10/2020) dini hari. Kedatangan Pompeo ke Indonesia dalam rangka kunjungan kerjanya ke sejumlah negara di Asia. Menteri Luar Negeri, Retno LP Marsudi sebelumnya menyatakan, ada dua agenda yang akan dilakukan Pompeo selama berada di Tanah Air. “Selain melakukan pertemuan bilateral dengan saya, Menlu Pompeo juga akan hadir dalam Forum Gerakan Pemuda Anshor mengenai dialog agama dan peradaban,” kata Retno melalui telekonferensi, Kamis (22/10/2020). Retno menambahkan, Amerika merupakan salah satu mitra penting bagi Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia ingin terus membangun kemitraan kokoh yang saling menguntungkan dan menghormati dengan AS. “Komitmen kuat peningkatan kemitraan ini tercermin dengan intensifnya saling kunjung pejabat kedua negara, bahkan di masa pandemi,” ujar dia (Kompas.com, 29/10/2020).

//Di balik Kunjungan Menlu AS ke Indonesia//

Tidak bisa dipungkiri, berbagai spekulasi muncul sejak wacana kedatangan Pompeo ke Indonesia. Sebelumnya, Menhan Prabowo Subianto pun telah melakukan kunjungan atas undangan dari Menhan AS. Dalam sebuah artikel di laman AFP, Rabu (21/10/2020), undangan itu merupakan bagian dari upaya AS memperkuat dan memperluas aliansi dengan negara-negara dengan “like-minded democracies” seperti Indonesia untuk melawan pengaruh Rusia dan China (CNBC, 21/10/2020).

Hubungan China-AS semakin memanas di kawasan Laut Cina Selatan. Di sisi lain, hubungan Cina-Indonesia semakin mesra. Sehingga, patut diduga keberpihakan Indonesia sangat mungkin diberikan kepada negara tirai bambu tersebut. Oleh karena itu, wajar jika AS yang merupakan mitra lama Indonesia, merasa terusik akan hubungan ini. Di sinilah pentingnya AS melakukan upaya pendekatan dengan Indonesia agar dapat memastikan kepentingannya tetap terakomodasi. Aroma mencari dukungan Indonesia atas konflik AS-Cina pun lebih menonjol daripada sekadar kunjungan bilateral untuk membicarakan investasi di antara kedua negara tersebut.

Sejalan dengan hal itu, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia,  Hikmahanto Juwana, berpendapat bahwa kunjungan Pompeo ke Indonesia dilatarbelakangi kekhawatiran AS terhadap Indonesia yang terlalu dekat dengan Cina, terutama di masa pandemi saat ini. “Bahkan dengan kekuatan ekonominya dan penemuan vaksin telah mengembangkan pengaruh di negara-negara kawasan,” kata Hikmahanto kepada DW Indonesia, Jumat (23/10). Menurutnya, kunjungan Pompeo untuk mengharapkan dukungan Indonesia kepada AS dalam konflik Laut China Selatan. “AS tentunya berharap Indonesia berada di belakang AS. Permintaan AS untuk mendaratkan pesawat tempur mata-mata dapat diartikan demikian,” kata Hikmahanto (suara.com, 23/10/2020).

//Watak Kapitalisme//

AS sebagai pemimpin kapitalis barat dan Cina sebagai negara kapitalis timur sekaligus negara komunis dalam bidang politiknya, ketika keduanya melakukan hubungan dengan negara lain maka karakter kapitalisnya tidak mungkin hilang. Karakter kapitalis itu, tidak mungkin dibangun berdasarkan hubungan saling menguntungkan, namun sebaliknya hanya menguntungkan bagi mereka saja. Ada maksud tersembunyi di balik hubungannya dengan negara lain, baik yang akhirnya terungkap maupun tidak. Hal ini tak jarang akhirnya menjerat negara lain, agar tergantung padanya hingga harus mengikuti segala keinginannya. Tak jarang pula, negara lain hanya menjadi korban hubungan ini.

Indonesia berada dalam dua kepentingan negara besar yang masing-masing telah melakukan manuver-nya untuk memastikan dukungan Indonesia berada di tangannya. Akankah Indonesia mampu bersikap mandiri?

//Indonesia Mampu Mandiri dan Kuat//

Indonesia dikaruniai limpahan sumber daya alam dari Allah Swt. Belum lagi bonus demografi yang jika dikelola dengan baik, menjadikannya negara mandiri tanpa perlu didikte oleh negara lain. Pun, posisi geografis Indonesia yang sangat strategis. Kesemuanya memang sangat menggiurkan bagi negara kapitalis. Selayaknya semua potensi ini digunakan untuk segera mengambil sikap menentukan nasib sendiri, bukan malah jadi santapan nikmat para kapitalis. Jika potensi ini dikelola mandiri meniscayakan Indonesia menjadi negara kuat yang berpengaruh secara internasional. Hal ini bukanlah isapan jempol belaka. Sebagai negeri Muslim terbesar, seyogianya mengambil aturan Sang Pencipta dalam pengelolaan negara agar keberkahan dari langit dan bumi segera diperoleh. Oleh karena itu, Indonesia tidak boleh penjadi pelayan kepentingan negara-negara kapitalis, baik AS maupun Cina serta negara-negara lainnya. Saatnyalah Indonesia kembali pada Aturan Sang Pencipta dalam segala aspek kehidupan, agar dapat berdiri di kaki sendiri dan tetap berada dalam keberkahan dari Allah Swt. Sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. Al-‘Araf: 96
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Jadi kuncinya adalah takwa, yaitu tunduk dan patuh menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Hal ini berarti, jika Indonesia ingin mendapatkan keberkahan dari langit dan bumi, menjadi negara yang dapat diperhitungkan di dunia internasional dan tidak bisa didikte oleh negara manapun, berarti harus siap menjadikan seluruh aturan Allah Swt sebagai aturan di negerinya. Menerapkan Islam secara kaffah pada seluruh aspek kehidupannya. Hal ini telah terbukti di masa lalu, ketika kekhalifahan masih ada. Khilafah adalah negara yang kuat dan berpengaruh secara global dengan menjalankan politik luar negerinya, yakni dakwah dan jihad. Semoga Indonesia segera memilih jalan ini, agar kehidupan dunia dan akhirat rakyatnya menjadi sebaik-baiknya kehidupan.
Wallahu ‘alam bish shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *