Kuraih Cinta Allah dengan Bertaubat Kepada-Nya

Spread the love

Oleh. Najwa Azahra
(Siswi SMA Durrotul Ummah Tangerang)

Muslimahtimes.com– Malam adalah waktu yang dipergunakan manusia untuk mengistirahatkan tubuhnya dan menenangkan pikirannya dari hiruk-pikuk dinamika kehidupan. Sebelum kedua mata ini terpejam hingga hari esok, sudahkah kita meluangkan waktu untuk muhasabah diri? Mengingat kembali tentang semua hal yang telah terjadi di hari ini, apakah keseluruhan aktivitas kita semata-mata karena Allah? Atau sekadar untuk mendapat materi dan sanjung puji?

Mari kita buka kembali, lembar demi lembar mushaf Al-Qur’an yang jarang tersentuh, dan seringkali kita lupa membacanya, padahal kita tahu bahwa setiap huruf dalam kalam-kalam-Nya mendatangkan sepuluh pahala kebaikan untuk kita, namun sayangnya banyak di antara kita yang masih mengabaikannya. Dan kini, izinkanlah aksaraku mengambil sejenak menitmu, demi sampai satu kalam-Nya yang agung padamu. Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 18

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Tidaklah tobat itu (diterima Allah) bagi orang-orang yang melakukan keburukan sehingga apabila datang ajal kepada seorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan, “Saya benar-benar bertobat sekarang.” Tidak (pula) bagi orang-orang yang meninggal dunia, sementara mereka di dalam kekufuran. Telah Kami sediakan azab yang sangat pedih bagi mereka.”

Dalam ayat ini Allah telah mengabarkan kepada kita, bahwasanya Allah menerima taubat seorang hamba apabila ia bertaubat sebelum ajal datang menjemputnya. Tapi terkadang kita bertanya-tanya, apakah Allah akan menerima taubat seorang hamba yang seringkali mengulangi kesalahannya? Seakan-akan lupa, bahwa setiap gerak-gerik perbuatannya tak lepas dari pengawasan Allah?

Maka, untuk menjawab derasnya kecamuk pertanyaanmu, semoga kisah ini mampu menjadi jawaban terbaik yang menyadarkanmu betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh menempuh jalan taubat.

Kisah ini terjadi jauh sebelum masa para sahabat Rasulullah. Tentang seorang laki-laki yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia mencari tahu tentang keberadaan orang-orang paling alim di muka bumi, hingga akhirnya ia ditujukan kepada seorang rahib. Dia mendatangi rahib itu, bertanya kepadanya, “Jika ada seseorang yang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima?” Sang Rahib menjawab, “Orang sepertinya tidak diterima taubatnya.” Selepas mendengar jawaban Sang Rahib, tanpa pikir panjang orang tersebut langsung membunuh rahib itu, dan pada akhirnya terdapat 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya. Kemudian, ia kembali mencari tahu tentang keberadaan orang paling alim di muka bumi, dan bertemulah ia dengan seorang ‘alim. Lantas, ia mulai bertanya kepada orang ‘alim tersebut, “Jika ada seseorang yang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima?” Sang ‘alim menjawab, “Ya, taubatmu masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi dirimu dengan taubat? Beranjaklah kamu dari tempat ini, dan pergilah ke tempat yang jauh di sana, karena di tempat itu terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali kepada tempatmu yang dahulu, karena tempat tersebut adalah tempat yang amat buruk.”

Maka, laki-laki inipun pergi menuju tempat yang ditujukan oleh orang ‘alim tersebut, namun ketika lelaki ini sampai pada pertengahan jalan, maut telah menjemputnya. Amalan lelaki ini ternyata telah mengundang perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat azab. Malaikat rahmat berkata, “Orang ini telah datang dalam keadaan bertaubat kepada Allah.” Namun malaikat azab berkata, “Orang ini sama sekali belum melakukan kebaikan sedikit pun”. Di antara perselisihan tersebut, datanglah malaikat lain sebagai pemutus perselisihan keduanya. Malaikat ini pun berkata, “Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat buruk yang telah ia tinggalkan dengan tempat baik yang akan ia tuju).” Lalu, diukurlah kedua jarak tersebut, dan didapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang menjadi tujuannya. Akhirnya lelaki tersebut mendapat ampunan atas dosa-dosanya terdahulu.

Kisah yang sangat mendebarkan, kisah yang tak teraba dengan pikiran terbatas kita, kisah yang menjadi bukti betapa luasnya ampunan Allah untuk mereka yang memiliki kesungguhan dalam bertaubat. Dan dari kisah ini kita menjadi tahu, bahwa Allah akan menerima taubat setiap hamba-Nya sekalipun kita datang dengan dosa yang besar. Sebab esensi dari taubat kita kepada Allah adalah bentuk komitmen kita untuk meninggalkan setiap perbuatan yang mendatangkan murka-Nya dan berusaha untuk tidak mengulanginya dikemudian hari.

Dan yang menjadi titik fokus taubat kita adalah, ketiadaan untuk menunda taubat dari dalam diri kita. Karena tidak satupun manusia yang tahu kapan dan dimana ajal menyapanya. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar ra, Rasulullah Saw bersabda,
“Allah masih menerima taubat seseorang selama ruh belum ditenggorokan.”
(HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim)

Maka dari itu, tidak ada kata ragu untuk bertaubat, yakinlah ampunan Allah itu sangat luas, dan kesempatan bertaubat tidak akan didapatkan oleh mereka yang seringkali menunda-nunda taubatnya, hingga ajal menjemputnya. Ingatlah, bahwa siksa Allah itu amat pedih.