Kurikulum Prototipe dan Nihilnya Jaminan Pemerataan Mutu Pendidikan

Spread the love

Oleh. Ayu Mela Yulianti, SPt.
(Pemerhati Generasi dan Kebijakan Publik)

Muslimahtimes.com– Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mendukung opsi penerapan kurikulum prototipe yang digagas Kemendikbud Ristek. Kurikulum prototipe ditawarkan Kemendikbud Ristek sebagai pilihan bagi sekolah dalam mengatasi kehilangan pembelajaran atau learning loss dan mengakselerasi transformasi pendidikan nasional. ( jakarta, kompas.com, Januari 2022).

Selintas opsi kurikulum prototipe yang ditawarkan Kemendikbud Ristek seperti hal yang menjanjikan pada perbaikan kualitas mutu pendidikan di tanah air. Namun, faktor pendukung pelaksanaan kurikukum prototipe ini sepertinya akan mendapatkan banyak kendala dan hambatan, utamannya di masalah konsep dan tataran praktis.

Kurikulum prototipe memuat lebih sedikit materi, dilengkapi dengan perangkat yang memudahkan guru melakukan diferensiasi pembelajaran. Misalnya, Kemendikbud Ristek akan menyediakan alat asesmen diagnostik untuk literasi membaca dan matematika. Kemendikbud Ristek juga akan membekali guru dengan beragam contoh modul yang bisa diadopsi atau diadaptasi sesuai konteks.

Alhasil, untuk sekolah yang berada di perkotaan dengan akses teknologi yang tidak memiliki kendala teknis, opsi kirikulum prototipe ini sepertinya bisa dilaksanakan dengan baik. Apalagi jika sekolahnya sudah bagus dalam arti sudah memiliki faktor pendukung berupa sarana dan prasarana yang dapat memudahkam pelaksanaan kurikulum prototipe ini di sekolah.

Namun, hal yang sangat berbeda, dengan kenyataan untuk sekolah-sekolah yang ada di pinggiran kota dan daerah tertinggal. Apalagi sekolah ala kadarnya dengan sarana prasarana minimalis yang belum tentu ada, apalagi untuk sekadar dukungan minimal dalam pelaksanaan kurikulum prototipe ini. Yang pada kenyataannya, listrik saja masih byar pret, masih belum optimal menjangkau daerah-daerah terpencil. Apalagi untuk mengakses diferensiasi pembelajaran yang harus dilakukan guru dengan menggunakan perangkat. Sebab pada faktanya, jangankan untuk memiliki perangkat teknologi yang memudahkan untuk mengembangkan diri melalui aktivitas diferensiasi pembelajaran, untuk sekadar menegakkan tulang punggung saja masih tertatih-tatih.

Alhasil,nyang terjadi malah semakin runcing terlihat kesenjangan pendidikan antara sekolah di perkotaan dengan di pinggiran kota, apalagi di pelosok daerah terpencil.

Dan yang pasti adalah akan terjadi penganakemasan terhadap sekolah-sekolah yang dari lahirnya memang sudah bagus dalam arti sudah memiliki fasilitas sarana dan prasarana pendukung yang bisa digunakan untuk melaksanakan model kurikulum apa pun.

Dan sebaliknya, akan terjadi pengabaian terhadap sekolah yang dinilai serba kurang dalam hal faktor pendukung pelaksanaan pendidikan di dalamnya. Karenanya, pada akhirnya, menjadi bahan pertanyaan adalah apakah tidak dipertimbangkan kesenjangan kemampuan sekolah dan tenaga kependidikan di semua wilayah ditanah air ini? Sebab , justru kurikulum prototipe ini bisa semakin memperburuk kesenjangan dan menunjukkan lepasnya negara dari penjaminan mutu pendidikan.

Karenanya, opsi kurikulum prototipe yang ditawarkan oleh Kemendikbud Ristek hanyalah akan menambah daftar masalah kesenjangan pendidikan di negerii ini. Sekolah bagus akan semakin bagus dan sekolah yang kurang bagus akan semakin tertinggal.

Efek buruknya adalah tidak terjadi keseragaman penerimaan pelaksanaan kurikulum baru yang dilaksanakan. Dan siswa disl sekolah hanya akan menjadi daftar panjang kelinci percobaan (bahan uji coba ) kurikulum baru yang ditawarkan oleh para pemilik kebijakan baru. Padahal aspek pendidikan menuntut kesamaan dalam penerimaan program untuk seluruh sekolah di seluruh tanah air, bukan menawarkan pilihan yang berarti penyelenggaraan pendidikan diserahkan kepada kemampuan masing-masing sekolah. Yang berarti pula, negara lepas tangan sebagai penanggung jawab utama penyelenggara pendidikan di tanah air. Dan berarti pula telah terjadi kapitalisasi pendidikan yang menyebabkan pendidikan pada akhirnya tidak akan mampu diakses oleh semua orang, dan yang bisa mengaksesnya hanya kalangan yang memilliki modal. Ditambah negara akan semakin lepas tangan terhadap mutu pendidikan yang dihasilkan. Miris.

Padahal, sesungguhnya yang dibutuhkan dalam pendidikan di negeri ini bukanlah sekadar gonta-ganti kurikulum yang belum terbukti keberhasilannya. Akan tetapi yang dibutuhkan adalah perombakan sistem pendidikan yang memiliki landasan pendidikan yang jelas yang dapat membentuk manusia berkarakter kuat. Dan yang dapat membentuk manusia yang berkarakter kuat hanyalah sistem pendidiikan yang bervisi kuat yaitu membentuk manusia seutuhnya, yaitu manusia yang mengenal jati dirinya sebagai makhluk dari penciptanya.

Sebab produk hasil pendidikan, sejatinya adalah manusia yang memiliki jiwa, bukan barang atau benda mati. Maka, pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang dapat menghidupkan jiwa manusia.

Maka sebaik apa pun sebuah kurikukum yang dibuat oleh manusia, secanggih apa pun peralatan yang dipakainya, namun jika tidak jelas juntrungan produk yang dihasilkannya, atau hanya untuk menghasilkan manusia-manusia pintar yang kosong atau mati jiwanya, maka akan gagallah pelaksanaan kurikulum dalam sistem pendidikan tersebut.

Apalagi jika juntrungan produk pendidikan yang ingin dihasilkan hanyalah untuk mengejar kemajuan yang bersifat materi saja, maka akan hancurlah negeri ini. Sebab produk pendidikan yang sebenarnya adalah membentuk manusia yang berjiwa. Tentu hal pertama yang harus dipoles dan dibentuk adalah jiwanya. Dalam arti hingga jiwa-jiwa manusia tersebut mengenal jati dirinya sebagai makhluk dari Sang Pencipta. Sehingga dari pembentukan jiwa yang benar yaitu jiwa yang mengenal jati dirinya sebagai makhluk, ia tidak akan kehilangan jati dirinya, manakala mendalami ilmu apapun dan dalam jenis kurikulum apa pun. Sebab jati dirinya sebagai makhluk dan jiwanya yang hidup akan menjadi pengontrol sikap dan perilakunya.

Alhasil, pelaksanaan kurikulum prototipe saat ini hanya akan menemui kegagalan dalam mencapai tujuan pendidikan sejati, yaitu membentuk manusia unggul yang memiliki jiwa dan hati nurani. Sebab hanya mengedepankan keunggulan teknologi pengetahuan saja, tanpa memperhatikan kelayakan pelaksanaannya di lapangan. Selain juga kurikulum prototipe akan semakin membuktikan masifnya kapitalisasi di sektor pendidikan, juga nihilnya jaminan mutu pendidikan yang merata di negeri ini.

Wallahualam.