Masihkah Halusinasi Negara Maju dalam Naungan Sistem Demokrasi?

halusinasi negara maju
Spread the love

Oleh : Mey Afiddatul Asmara Arini Nabela

MuslimahTimes.com–Tahun ini adalah tahun kedua perayaan tahun baru hijriyah yang dilalui umat Islam di kala pandemi. Hampir dua tahun lamanya, rakyat dirundung nestapa karena imbas dari pandemi yang tiada henti. Berbagai kebijakan yang dikerahkan seolah tak berarti apa-apa. Kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir penguasa dan rakyat pun semakin sengsara.

Momentum tahun baru hijriyah identik dengan perubahan. Perubahan yang menuju kehidupan lebih baik secara keseluruhan. Lantas, bagaimana dengan bangsa ini? Apakah sudah menunjukkan sebagai negara maju? Negara yang menjadi mercusuar bagi berbagai penjuru? Negara yang unggul dalam segala bidang? Atau justru malah mundur ke belakang?

Menjelang tahun baru Hijriah kemarin, Menteri PPN/ Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan untuk bisa lepas dari jebakan negara pendapatan kelas menengah (middle income trap), pertumbuhan ekonomi Indonesia harus bisa mencapai 6 persen pada 2022 mendatang. Bila itu bisa dicapai, ia yakin Indonesia bisa naik kelas menjadi negara maju pada 2045. (CNN Indonesia, 04/08/2021)

Dalam perayaan 50 Tahun Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartato, menyampaikan dalam pidatonya, “Partai Golkar sangat optimis bahwa kita mampu menjadi negara maju pada tahun 2045. Kita harus merawat komitmen kita terhadap demokrasi sebagai jalan untuk memastikan tata kelola politik dan pemerintahan yang baik.” (GoRiau.com, 10/8/2021)

Dari pernyataan kepala Bappenas dan Ketua Umum partai Golkar di atas benarkah adanya? Indonesia akan menjadi negara maju dalam komitmen sistem demokrasi? Tidakkah kita berkaca, bagaimana perjalanan bangsa ini? Sudah lebih dari setengah abad lamanya diproklamasikan sebagai negara yang merdeka. Benarkah bangsa ini telah mencapai kemerdekaan yang hakiki?

Pertumbuhan ekonomi masih menjadi benalu bagi para korporasi. Panggung politik bisa dibeli dengan materi. Keadilan hanya dimanjakan bagi yang berpangkat tinggi. Kriminalitas kian menjadi-jadi tanpa hukuman yang pasti. Nasib generasi bangsa semakin kehilangan jati diri. Integritas negara yang tak punya wibawa di mata penjuru negeri. Kemiskinan dan kezaliman yang terus dipertontonkan di negeri ini. Termasuk syariat Islam dikriminalisasi dan dimoderasi. Inilah potret kecil dari negara demokrasi. Lantas, masihkah halusinasi menjadi negara maju dalam naungan sistem demokrasi ?

Sistem yang katanya bersumber dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Sistem yang berasal dari akal dan hawa nafsu manusia. Sistem yang menjadikan rakyat sebagai pemilik kedaulatan mutlak. Walaupun pada faktanya, kedaulatan hanya dipegang oleh para korporat. Sistem yang pasti akan binasa, karena bersumber dari sesuatu yang lemah tak berdaya. Lantas, sistem apa yang menjadi satu-satunya solusi dari segala macam problematika ?

Sistem yang akan mampu menjadi solusi dari segala problematika adalah sistem yang berasal dari Sang Khaliq, yaitu Allah Swt. Alam semesta diciptakan-Nya dengan sedemikian rapinya. Tak ada sedikit pun yang lepas dari pengaturan-Nya. Hanya Dialah yang mengetahui aturan yang terbaik untuk makhluk-Nya. Allah Sang Mudabbir (Pengatur) menciptakan alam semesta dan seisinya lengkap dengan panduan (aturan) di dalamnya. Hanya Allah lah yang pantas menjadi Asy Syari’ (Pembuat hukum) untuk makhluknya.

Allah berfirman :

قُلْ اِنِّيْ عَلٰى بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّيْ وَكَذَّبْتُمْ بِهٖۗ مَا عِنْدِيْ مَا تَسْتَعْجِلُوْنَ بِهٖۗ اِنِ الْحُكْمُ اِلَّا لِلّٰهِ ۗيَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِيْنَ

Artinya : “Katakanlah (Muhammad), “Aku (berada) di atas keterangan yang nyata (Al-Qur’an)dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah kewenanganku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan (hukum itu) hanyalah hak Allah. Dia menerangkan kebenaran dan Dia pemberi keputusan yang terbaik.” (QS.Al An’am : 57)

Pilihannya tergantung pada kita, memilih jalan sesuai titah-Nya atau berbelok arah dari titah-Nya. Jika kita memilih orbit sesuai titah-Nya, kebahagiaan dunia akhirat dalam genggaman. Sebaliknya, jika kita berbelok arah, kesengsaraan dunia akhirat dalam cengkeraman.

Dalam menuju perubahan yang hakiki, dibutuhkan perubahan yang revolusioner (inqilabiyyah) di dalamnya. Tak hanya sebatas, perubahan yang parsial (juziyyah) semata. Perubahan dari level individu sampai level negara. Perubahan totalitas dalam menegakkan syariat-Nya. Perubahan ini hanya akan mampu dan bisa diterapkan dengan tegaknya sebuah sistem yang menerapkan syariat-Nya secara kafah (keseluruhan), yaitu Khilafah Islamiyyah. Sistem ini tak hanya ilusi belaka, tapi sudah dibuktikan selama belasan abad lamanya memimpin dunia. Sebuah peradaban yang mampu menjadi mercusuar bagi peradaban lainnya. Sebuah peradaban yang menggentarkan para musuhnya. Peradaban yang unggul dalam segala bidang, baik dalam bidang pendidikan, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, hukum, kesehatan, dan lain-lain. Tak ada satu pun peradaban yang bisa menandingi kehebatan peradaban Islam. Hanya dengan sistem inilah, Islam rahmatan lil’aalamiin akan tersebar ke seluruh pelosok dunia.

Momentum hijriah ini seharusnya dimaknai sebagai perubahan yang hakiki yang menghadirkan spirit dalam menyambut kebangkitan Islam. Menjadikan Islam tak hanya sebagai ritual, namun sebagai sebuah ideologi yang memimpin dunia. Dengan inilah, tonggak peradaban Islam akan terwujud. Menjadikan Islam sebagai satu-satunya solusi atas segala problematika kehidupan, sehingga baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur akan terealisasikan secara nyata. Wallaahu a’lam bish showab.