Masjid dan Framing Radikalisme

Spread the love

Oleh. Ashaima Va

MuslimahTimes.com – Masjid memiliki makna sakral bagi kaum muslimin. Membangun masjid adalah hal yang pertama Rasulullah saw lakukan saat tiba di Madinah. Masjid Nabawi di Madinah adalah masjid kedua yang Rasulullah bangun. Dari masjidlah pengajaran Al-Qur’an diberikan, keputusan-keputusan penting dibuat, dan perlindungan bagi orang lemah diberikan. Karena begitulah Rasulullah memfungsikan masjid kala itu.

Apa yang Rasulullah lakukan diterapkan pula oleh kaum muslimin masa shahabat, tabi’in, dan masa-masa kekhilafahan setelahnya. Peradaban Islam yang mulia dan gemilang bermula dari masjid. Pada masa kini masjid masih memiliki keagungannya. Sekalipun identitasnya sedikit demi sedikit tergerus. Bagi kaum muslimin, masjid adalah simbol persatuan dan kesetaraan. Tak pandang jabatan, harta, ras, dan suku, semua setara ruku‘ dan sujud menghamba pada Allah Swt. Masjid pun masih menjadi tempat kaum muslimin berkumpul mengkaji Al-Qur’an dan mendengarkan nasihat para ulama.

Sayangnya islamofobia yang sengaja diembuskan para pembenci telah membuat pihak-pihak tertentu memframing Islam sedemikian rupa. Tindakan anarkis oknum telah dituding sebagai ajaran Islam. Digeneralisasi bahwa Islam adalah ajaran yang mengajarkan terorisme. Narasi radikalisme teroris terus dilekatkan pada kaum muslimin yang ingin menerapkan syariat Islam.

Buntutnya Islam yang Rasulullah bawa direduksi agar sesuai dengan nilai-nilai kebebasan dari Barat. Mereka menyebutnya moderasi beragama. Lalu mereka pula mencurigai masjid sebagai biang kerok sumber ajaran terorisme. Adanya pernyataan dari pihak kepolisian untuk mewaspadai masjid sebagai sumber penyebaran paham radikal sungguh menyakiti umat Islam.

Bahkan Direktur Keamanan Negara Badan Intelijen dan Keamanan Polri, Brigjen Pol Umar Effendi, mengatakan Polri berencana melibatkan MUI dalam memetakan masjid untuk mencegah aksi terorisme. (News.detik.com, 2/2/2022)

Umat semestinya menyadari bahwa ada upaya-upaya menjauhkan kaum muslimin dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Tak hanya itu, ada pula upaya menakut-nakuti umat untuk ke masjid. Nantinya pemetaan masjid pun berpotensi memecah-belah umat, memunculkan kecurigaan pada masjid-masjid yang makmur dengan kajian-kajian keislaman. Saat kajiannya mengajarkan ajaran Islam yang utuh dan tak selaras dengan moderasi beragama, maka siap-siap dituding radikal.

Umat yang tak paham akan enggan ke masjid, termasuk untuk salat berjemaah. Masjid sepi, kajian tak laku. Siapa yang diuntungkan? Tentu saja musuh-musuh Islam.

Duhai umat, sadar dan bangunlah untuk jangan mau disudutkan. Pemetaan masjid hanya akan membuat umat curiga dan enggan ke masjid. Padahal kemuliaan yang Allah berikan pada siapa saja yang membangun dan memakmurkan masjid sangat besar. Sebagaimana dalam hadis dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah)

  كلُّ خطوةٍ يخطوها أحدُكم إلى الصلاةِ يُكْتَبُ لَهُ) بها (حسنةٌ ويُمْحَى عنه بِها سَيِّئَة

Setiap langkah menuju tempat salat (masjid) akan dicatat sebagai kebaikan dan akan menghapus kejelekan.” (HR. Imam Ahmad)

Narasi dan framing radikal pada yang tak mendukung opini moderasi beragama selamanya akan digaungkan. Karena yang mereka inginkan adalah ditinggalkannya ajaran Islam yang murni dan utuh agar sesuai dengan nilai-nilai Barat. Sampai masjid pun tak luput dari sasaran. Semoga pertolongan Allah segera tiba dengan kembalinya syariat Islam ke pangkuan kaum muslimin. Dan perisai bagi kaum muslimin yaitu khilafah rasyidah ‘ala minhajin nubuwah segera tegak. Sehingga tidak ada lagi yang semena-mena mencitraburukkan Islam dan simbol-simbolnya.