Melejitkan Potensi Ruhiah Anak Selama Masa Karantina

Spread the love

Oleh: Aya Ummu Najwa

Muslimahtimes– Pandemi Corona sudah sampai ke Indonesia. Setelah melumpuhkan negara asalnya yaitu Cina, pandemi ini terus merambat ke sejumlah negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Setelah sekitar 2 bulan pandemi ini merebak di Cina, yang memaksa negara itu untuk mengkarantina warganya, pemerintah baru memutuskan untuk menerapkan social distancing, dengan salah satunya meliburkan kegiatan belajar-mengajar.

Dan akhirnya pemerintah pada tanggal 17 Maret telah menetapkan bahwa peserta didik harus tinggal di rumah, alias tidak pergi ke sekolah dikarenakan pandemi Corona yang kian meluas. Dengan demikian, anak-anak diharuskan tetap di rumah dengan belajar dari rumah.

Dalam Islam pandemi juga pernah terjadi berkali-kali, namun ajaran Islam yang memang aturan terbaik yang datang dari pencipta alam semesta yang diterapkan oleh negara Islam kala itu, telah terbukti mampu melewati dan mengatasi pandemi itu dengan gemilang.

Sangat tepat sekolah telah diliburkan. Anak-anak diharuskan berada di rumah dalam pengawasan orang tua. Namun tak jarang ini menjadi masalah tersendiri bagi orang tua, yang telah terbiasa anak sekolah dan harus memberikan pendidikan selama masa karantina. Banyak orang tua yang gagap bagaimana membangkitkan keimanan anak dalam menyikapi musibah dan bagaimana mengembangkan potensi anak selama masa karantina di rumah.

Padahal inilah saatnya orang tua mengambil kesempatan yang sebesar-besarnya untuk dapat melejitkan potensi ruhiah anak tanpa campur tangan pihak luar. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh orang tua agar anak bisa berkembang menjadi Muslim yang bertakwa, di antaranya:

Pertama dan utama adalah sampaikan kepada anak bahwa musibah adalah kehendak Allah untuk menguji manusia, maka yang harus kita lakukan adalah terus mendekatkan diri kepadaNya. Namun kadang musibah bisa jadi peringatan Allah kepada manusia karena kelalaian manusia juga karena kesombongan manusia, maka manusia harus segera bertaubat dan kembali kepadaNya dengan menerapkan hukum-hukumNya.

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS.Ar-Rum: 41).

Yang kedua adalah sebagai seorang manusia mempunyai rasa takut adalah manusiawi, namun rasa takut itu harus hanya ditujukan kepada Allah semata. Namun Allah telah memerintahkan manusia untuk menghindari wabah jika itu telah terjadi.

Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika kamu melihat bumi tempat wabah, maka jangan memasukinya. Jika kamu berada di sana, maka jangan keluar darinya.” (Ini seperti kebijakan lockdown).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama bersabda:

«إذَا سمِعْتُمْ الطَّاعُونَ بِأَرْضٍ، فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإذَا وقَعَ بِأَرْضٍ، وَأَنْتُمْ فِيهَا، فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا»

“Jikalau kalian mendengar ada wabah tha’un di sesuatu negeri, maka janganlah kalian memasuki negeri itu. Dan jika wabah terjadi di daerah di mana kalian sedang berada di dalamnya, maka jangan keluar dari daerah itu untuk melarikan diri darinya.” (HR Bukhari-Muslim).

Yang ketiga adalah, senantiasa memahamkan mereka pentingnya penerapan hukum-hukum Islam baik individu maupun sekala negara. Ketika wabah merebak, tidak akan bisa diatasi oleh satu orang atau sekelompok umat saja, tapi butuh pemimpin yang bertakwa, yang menyayangi rakyatnya dan juga umat yang taat kepada pemimpinnya. Jangan takut mendakwahkan Islam politik kepada anak, karena mereka adalah penerus estafet perjuangan, di pundak merekalah perjuangan ini akan diteruskan dan merekalah yang akan mengisi masa kegemilangan Islam kelak.

Pandemi ini seharusnya menjadi pelanjaran bahwa ketika azab Allah telah turun maka itu tidak hanya mengenai orang-orang ahli maksiat saja, tapi siapapun bisa terpapar, baik itu orang yang bertakwa sekalipun.

Di sinilah pentingnya dakwah, amar makruf nahi mungkar, agar bisa selamat dunia akhirat jauh dari murka Allah.

وَٱتَّقُواْ فِتۡنَةٗ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمۡ خَآصَّةٗۖ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25).

Selanjutnya adalah membiasakan mengajak mereka melaksanakan amalan harian bersama-sama, dari shalat fardlu, sholat malam, rawatib, dhuha, menjaga wudhu, tilawah, menambah hafalan Qur’an, dengan tetap menjaga suasana yang menyenangkan bagi mereka sehingga mereka tidak mudah bosan. Inilah waktunya orang tua praktek bersama dengan anak, memberikan contoh nyata kepada mereka, hasilnya orang tua sholih, anakpun sholih, biidznillah.

Wallahu a’lam.

(Visited 24 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *