Membela Natuna Butuh Alutsista, Bukan Sekadar Retorika

Spread the love

Oleh. Henyk Widaryanti

MuslimahTimes.com — Siapa yang tak kenal Pangeran Diponegoro? Seorang panglima terkemuka yang melawan Belanda. Taktik perang gerilya membuat musuh pusing tujuh keliling. Dialah salah satu pejuang dari Pulau Jawa yang mendunia. Dua abad berlalu, bahkan 2021 segera berakhir, tapi penjajah tak jua menyingkir. Dahulu dari Eropa, kini ganti Cina yang mengakuisisi Natuna. Sebagaimana para pejuang sebelumnya, akankah prajurit negeri ini bisa mempertahankannya?

Persenjataan yang Lengkap

Ketegangan di perairan Natuna kembali mencuat saat kapal riset Cina terlihat di perairan Natuna. Bahkan, negara tirai bambu itu juga protes tentang pengeboran minyak di Laut Natuna Utara. Merasa keamanan terganggu, Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyatakan siap membela kedaulatan di Natuna. Bahkan mereka berjanji akan mempertahankan wilayah ini sampai mati. (Galamedianews, 6/12/21)

Sayangnya, Global Fire Power (GFP) melaporkan, kekuatan militer Indonesia kalah dengan Cina. Negeri maritim ini menduduki peringkat 16 sedangkan Cina nomor 3 dari 137 negara. Berdasarkan GFP, Indonesia memiliki pasukan militer 800.000 personel dengan jumlah populasi sekitar 262.787.403 jiwa. Sedangkan, Cina berkisar 2.693.000 personel, sekitar 1.384.688.986 jiwa.

Selain jumlah pasukan yang kalah jauh, alutsista yang dimiliki pun berbeda. Persenjataan angkatan laut negeri ini memiliki 5 kapal selam, 8 fregat, 139 kapal patroli hingga 11 kapal perang ranjau. Sedangkan Cina memiliki 1 kapal induk, 76 kapal selam, 52 fregat, 33 kapal perusak, 192 kapal patroli, hingga 33 kapal perang ranjau. Jikalau seluruh persenjataan ini saling berhadapan di perairan Natuna, kita dapat membayangkan siapa pemenangnya.

Semangat Jihad

Meskipun jumlah alutsista kurang, kita tak perlu risau. Ada hal yang tidak dimiliki Cina, yaitu semangat Jihad. Masih ingat peristiwa Surabaya? Ketika Bung Tomo mengobarkan semangat juang melawan tentara Inggris. Pekikan takbir menggema di seantero Kota Pahlawan itu. Artinya, Bung Tomo mengobarkan semangat Jihad untuk mempertahankan tanah airnya.

Peristiwa yang sama terjadi berabad-abad silam, ketika Rasulullah saw. menghadapi Quraisy di Perang Badar. Jumlah tentara Islam dengan musuh saat itu 1:3. Namun, gelora jihad berhasil membawa mereka pada kemenangan. Kejadian yang sama terjadi saat Perang Yarmuk. Jumlah pasukan muslim 24.000 sedangkan tentara Romawi 120.000 orang. Meski jumlah pasukan kalah jauh, kemenangan memihak kaum muslimin.

Semangat jihad membakar jiwa kaum muslim. Alasannya karena Allah ta’ala,
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 111).

Melengkapi Persenjataan

Meskipun semangat juang itu utama, sebagai mukmin tak boleh menyepelekan persiapan. Karena Allah Swt. berfirman,
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al Anfal: 60).

Perintah Allah Swt. di atas sangat diperhatikan Sultan Muhammad Al Fatih. Dengan segenap usaha, harta, tenaga, jiwa dan raga, kaum muslim bertawakal menundukkan Konstantinopel. Kepandaian dan strategi perang yang unik dari Al Fatih membuat para pasukan berhasil menyulap gunung menjadi lautan. Dimana kapal-kapal mampu berjalan menyusuri gunung, dan sukses mengepung kota itu di pagi harinya. Inilah bukti bahwa Islam mengajari umatnya untuk sungguh-sungguh berjuang.

Pemberdayaan Keuangan

Bagi negeri khatulistiwa, pengadaan alutsista yang canggih itu mustahil. Penambahan peralatan perang butuh biaya banyak. Kalau mengandalkan pajak, tidak akan cukup. Bagaimana kalau dengan utang atau hibah peralatan? Namanya hibah, biasanya barang bekas. Meskipun masih bisa digunakan, kekuatannya tak sebanding dengan peralatan baru. Apalagi teknologinya, tentu masih tertinggal. Bukannya dapat mengusir musuh, takutnya kalah dengan ganasnya lautan. Seperti tragedi KRI Nanggala (402).

Oleh karena itu, Islam menawarkan sistem keuangannya, dimana hasil pengelolaan SDA, jizyah, fa’i, kharaj, ghanimah, harta tak bertuan, harta dari orang yang curang, dll sebagai sumber pemasukan. Semua pendapatan itu dipakai untuk memenuhi kebutuhan negara termasuk pengadaan alat perang yang canggih.

Khatimah

Kemenangan Natuna di akhir tahun ini hanya diperoleh jika mempunyai semangat jihad dan alutsista lengkap. Namun, hanya Islam yang mampu mewujudkannya.