Mencintai Ketidaksempurnaan menuju Jalan Kebahagiaan

Spread the love

Judul buku : Buku Yang Sampulnya Sobek

Pengarang : Arafat
Penerbit : KMO Indonesia
Tahun Terbit : 2021
Cetakan : ke-1
ISBN : 978-623-332-089-4
Jumlah halaman: 146 halaman
Harga : Rp 85.000
Peresensi : Euis Hamidah

Muslimahtimes.com – “Hidup di dunia yang tidak sempurna mengajarkan kita kerinduan kepada surga yang sempurna” (Hlm. 15)

Kesempurnaan adalah hal yang niscaya dalam kehidupan. Sesempurna apa pun yang kita lakukan, pasti ada celah kesalahan. Tiada kesempurnaan yang sempurna kecuali kesempurnaan yang dimiliki oleh Allah Swt Sang Maha Sempurna. Dialah Yang Maha Sempurna dan tidak ada celah sedikit pun bagi kita untuk mengingkari ke-Maha Sempurnaannya.

Buku ini memiliki cover yang berbeda dibanding buku yang lain. Ya, buku ini memiliki cover yang tidak utuh, alias hanya setengah seperti dirobek. Namun siapalah sangka? Buku yang sampulnya sobek, menjadi daya tarik untuk para pembaca banyak. Selain itu, penempatan ilustrasi yang ada di awal atau di akhir bab menjadi ciri khas buku ini. Di dalamnya, untaian kata dirangkai dengan sangat apik, juga penggunaan kalimatnya pun disusun seperti kita sedang berdialog, baik dengan penulis maupun dengan diri kita sendiri.

Pokok bahasan pun dibahas dengan sangat ringkas, namun begitu mendalam maknanya. Jarak antar kalimatnya pun agak renggang, sehingga membuat mata lebih nyaman dan betah untuk membaca lama-lama. Penggunaan kertas yang dipilih pun sangat cocok, serta jumlah halaman yang tergolong cukup sedikit pun bisa membuat orang yang kurang senang membaca atau sedang malam membaca jadi senang untuk membaca.
Di halaman-halaman awal buku ini, menggiring opini kita untuk berkaca diri. Jika kita terkadang membeli buku dengan cover yang utuh, maka buku ini dihadirkan dengan cover yang sobek. Begitu pula diri kita, tidak ada sesempurna itu dalam menghadapi kehidupan. Terkadang masih banyak sifat dalam diri kita yang membuat kita menjadi kurang bersyukur dalam menerima diri apa adanya dan apa yang sudah digariskan untuk kita oleh Sang Maha Pengatur.

Dalam hidup, terkadang kita disibukkan dengan sifat perfeksionis yang merongrong diri. Sifat yang membuat diri kelimpungan karena standar yang terlalu tinggi. Sifat perfeksionis bisa menjadi boomerang bagi diri, saat standar yang ditetapkan terlalu tinggi dan tak ada yang memenuhi kualifikasi diri. Akhirnya hanya pil pahit kekecewaan yang ditelah oleh diri sendiri.

Sifat tidak menerima diri pun membuat kita tidak menerima akan segala kemampuan yang dimiliki dan yang sudah Sang Maha Pemberi anugerahi. Dan berimbas pada kata “Membandingkan”. Membandingkan atau dibanding-bandingkan adalah hal yang paling setiap orang tidak sukai. Namun, membadingkan merupakan hal yang kadang dilakukan tanpa disadari. Setelah senang membandingkan, maka kadang kita akan menjiplak keberhasilan orang dengan menerapkan standar orang lain atau kesuksesan orang lain pada diri sendiri. Sehingga jika tidak tercapai, maka menyalahkan dirilah menjadi titik akhir.

Mencemaskan pendapat orang lain menjadi salah satu masalah yang tidak dapat dihindari. Setiap pendapat yang dilontarkan orang lain belum tentu benar dan sesuai dengan apa yang kita alami. Syukur-syukur sesuai, jika tidak? Kelelahan dan kekecewaan yang kita alami, karena berupaya menjadi seperti yang mereka inginkan.

Tidak memahami potensi diri juga dapat menjadi salah satu penyebab diri salah menempatkan passion dalam menjalani hidup. Jangan sampai karena tidak memahami diri membuat kita menjadi terbebani menjalani hidup. Takut akan sesuatu hal yang belum terjadi pun kadang membuat kita menjadi enggan untuk maju ke depan. Sehingga progress dalam diri hanya berhenti di titik yang sama, tanpa ada pergerakan yang berarti.

Dan yang terakhir, terlalu rumit kadang diperbuat oleh diri sendiri. Tak dipungkiri, terkadang kita mengambil hal-hal yang cukup rumit untuk mengukur kemampuan diri. Namun jika tidak ada jalan keluar, yang pusing ya diri sendiri. Jika ada jalan yang mudah, kenapa ambil jalan yang sulit lagi berbelit?

Di dua bab terakhir terdapat halaman-halaman kosong yang dapat digunakan menuliskan curahan hati atau kendala yang dihadapi dalam menerima diri.

“Jangan merasa direndahkan, tetapi tidak boleh pula merasa diri paling tinggi. Semua manusia sama saja. Ingat, kata sama juga berlaku untuk diri kita.” (Hlm. 82)

“Memaafkan memang berat. Tetapi, jika kita tidak siap menanggung beratnya menjadi seorang pemaaf, bersiap-siaplah untuk menanggung lebih berat lagi menjadi seorang pendendam.” (Hlm.83)

Menerima diri apa adanya bukanlah hal yang mudah, karena kadang kita menuntut kesempurnaan. Maka, jalan yang terbaik adalah memaafkan. Memaafkan semua kekurangan yang ada pada diri sendiri dan juga pada setiap orang yang kita temui. Tentu saja, buku ini bisa jadi referensi untuk dibaca oleh kita yang masih menuntut kesempurnaan dalam hidup. Padahal, mencintai ketidaksempurnaan lebih mudah dan membuat hidup lebih bermakna. So, yuk baca!