Mengembalikan Peran Ibu sebagai Pencetak Generasi

Spread the love

#ReportaseKajianBulanan
Mengembalikan Peran Ibu sebagai Pencetak Generasi

 

MuslimahTimes– Akhir-akhir ini, publik kembali diramaikan oleh berita tewasnya seorang bayi di tangan ibu kandungnya. Berita semacam ini menjadi lebih sering terdengar di zaman modern seperti sekarang. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian kaum ibu telah kehilangan fitrahnya (lemah lembut dan berkasih sayang).

Sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat, Forum Muslimah Peduli Ummat Kabupaten Indramayu memberikan edukasi seputar peran dan tanggung jawab seorang ibu (dalam Islam). Karenanya, panitia memilih tema “Mengembalikan Peran Ibu sebagai Pencetak Generasi”. Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk kajian rutin bulanan, pada hari Ahad 4 Rabiul Awwal 1441 H.

Puluhan muslimah tampak memadati aula yang telah disediakan panitia. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, mulai dari yang masih single hingga nenek yang sudah memiliki cucu.

Ustazah Uul Khuliyah kembali menjadi pembicara, mengupas tema dengan sudut pandang khas, yakni Islam. Di awal pemaparannya, Ustazah Uul menyinggung sebuah hadis yang menjelaskan tentang keutamaan seorang ibu. Ketika Rasulullah Saw. ditanya oleh seorang sahabat tentang siapa yang layak untuk mendapat perlakuan yang baik, maka Rasul menjawab ibumu, ibumu, ibumu, lalu ayahmu. Jelaslah bahwa hal itu menunjukkan betapa mulianya derajat seorang ibu.

Bahkan, dalam sebuah ungkapan hikmah disebutkan bahwa “wanita adalah tiang negara”, apabila wanitanya baik, baik pula negara, apabila ia rusak maka rusak pula negara. Ungkapan tersebut seolah-olah ingin mengatakan bahwa baik buruknya peradaban suatu kaum (negara) turut pula ditentukan oleh peranan seorang wanita (ibu).

Islam memposisikan kaum ibu begitu mulia, dengan mengatur kehidupan mereka dalam bingkai syariat agar kemuliaannya tetap terjaga. Allah Swt. memerintahkan para wanita (kaum ibu) untuk berdiam di dalam rumah-rumah mereka, mengerjakan amal shalih tanpa harus keluar dari rumahnya. Ladang amal diciptakan didalam rumah mereka, termasuk didalamnya yakni mengatur rumah tangga, mendidik anak (dengan agama) serta memberikan keteladanan yang baik.

Namun, jauh panggang dari api, kondisi kaum ibu dalam sistem kapitalisme liberal menjadikannya sibuk dengan urusan-urusan di luar fitrahnya. Sistem sekuler telah merusak idealisme kaum ibu, meninggalkan rumah-rumah mereka dengan dalih memenuhi kebutuhan hidup. Hingga akhirnya, para ibu telah keluar dari fitrahnya. Kerasnya tekanan hidup diluar rumah mengharuskan mereka berubah (karakter) dari yang semula lemah lembut dan penyayang menjadi garang dan tempramental. Didikan sistem sekuler menghasilkan kaum ibu yang rapuh, labil, mudah depresi, bahkan tidak sedikit diantara mereka yang akhirnya menjadi seorang pembunuh. Na’udzubillaah

Tak dipungkiri, dalam keadaan yang serba sulit (pendidikan, ekonomi, kesehatan, termasuk biaya hidup dll) terkadang menjadi faktor penyebab stress yang dominan. Sementara nilai-nilai agama menjadi semakin menjauh dari kehidupan, alhasil perasaan yang mudah putus asa, cenderung berpikir pendek dan menjadi destruktif menjadi perangai baru kaum ibu.

Hanya ada satu solusi untuk mengakhiri kondisi yang demikian, yakni kembali kepada aturan Sang Khaliq. Menjalani kehidupan yang sesuai dengan fitrah manusia yakni Islam. Maka satu persatu persoalan yang kita hadapi akan terurai.

Apabila negara mampu menjamin kesejahteraan warganya, menyediakan mata pencaharian yang layak bagi setiap kepala keluarga, serta memastikan ketakwaan pada dirinya niscaya beban para ibu akan serta merta hilang dari pundaknya. Kemuliaan para ibu dan ayah akan kembali diraih. Kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah bukan sekedar isapan jempol belaka. Generasi-generasi tangguh akan lahir darinya.

Kajian pun berakhir menjelang kumandang azan. Setelah sederet pertanyaan peserta dijawab tuntas oleh ustazah Uul. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *