Menikung Makar, Menanti Fajar

Spread the love

Oleh: Shafayasmin Salsabila

(Revowriter Indramayu)

#MuslimahTimes –– Negara manakah yang penduduk Muslimnya terbesar sedunia? Indonesia adalah jawabannya. Sebanyak 225,25 juta jiwa atau sekitar 87,2% dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia menganut agama Islam.

Jika jumlah yang besar ini disejajari dengan kesadaran beragama yang tinggi, niscaya akan lahirlah sebuah kekuatan fenomenal. Sayangnya begitu banyak upaya penggembosan serta menjegalan saat semangat umat mulai nampak berpijar.

Demam Hijrah

Media berbicara. Hijrah menjadi satu diksi yang berseliweran mewarnai halaman pemberitaan. Bahkan layar LCD turut memamerkan kiprah hijrah yang dahulu identik dengan berpindahnya Rasulullah Saw dan kaum Muslim dari Mekkah menuju Madinah.

Setelah booming pakaian Muslimah yang dikenal dengan hijab syar’i, kini hijrah seakan menjadi trend baru. Pengajian bukan lagi terisi wajah-wajah berusia senja, kini anak-anak muda tak mau ketinggalan. Uniknya, perhelatan kajian tidak hanya diselenggarakan di masjid, kini taman, hotel, gedung pertemuan, disulap menjadi taman syurga.

Meski dianggap sebagai trend, hijrah bagi sebagian Muslim benar-benar menjadi titik balik dalam kehidupan. Meresapi makna terdalam, mereka larut dalam air mata pertaubatan. Layang-layang yang putus itu kembali tertangkap tangan suci, menjadikannya kokoh, tak lagi diombang ambing oleh angin. Saat visi hidup didapat, jati diri sebagai seorang Muslim ditemukan, maka mata hanya dapat melihat satu terang. Perubahan, ingin bangkit dan berjuang.

Maka dapat disaksikan, para artis berhijrah. Ramai menutup aurat. Berkumpul bersama sahabat taat mengkaji Islam selayak tengah melahap makanan yang lezat.

Lekatnya surau di kampung dengan tahsin Alquran, kini didapati pula di kota besar. Kaum millenial, hingga para preman antusias dalam mengenal Islam. Siapapun bisa merasakan betapa dekat saat kemenangan yang dijanjikan.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa…” (TQS. An Nur: 55)

Batu Sandungan

Jumlah Muslim di Indonesia yang besar serta gaung hijrah yang kian membahana, tentu tak tertangkap manis bagi segolongan manusia. Yakni mereka yang tak suka dengan kejayaan Islam. Mereka adalah pihak yang merasa terusik dan alergi dengan segala pesona Islam. Bagi mereka tak ada ampun bagi Islam, tak akan dibiarkan cahayanya menelan kegelapan. Karena mereka justru hidup dari menghisap kegelapan. Tanpanya, sama dengan kematian.

Makar pun tak henti digelar. Tipu daya menjadi jurus andalan. Menjadikan racun seolah madu. Dipandang indah namun tersimpan kebusukan di dalamnya.

Seperti tatkala Indonesia memboyong gelar sebagai negara paling santai sedunia. Seperti dikutip dari KOMPAS.com, laporan terbaru dari agen perjalanan asal Inggris, Lastminute.com menyebut Indonesia sebagai Most Chilled Out Countries in The World, atau Negara Paling Santai di Seluruh Dunia.

Penelitian menemukan, Indonesia memiliki garis pantai yang panjangnya lebih dari 88 ribu kilometer. Mempunyai lebih dari 186 ruang hijau. Suhu rata-rata 25 derajat Celsius, tidak terlalu dingin, juga tidak panas. Indonesia yang dijuluki surga tropis juga punya 66 spa dan retret kesehatan. Kesemuannya menjadikan Indonesia sebagai rujukan utama destinasi wisata.

Bukannya tak bangga. Hanya saja, bahaya mengancam di depan mata. Saat pintu pariwisata dibuka lebar hingga wisatawan manca negara berbondong-bondong menapaki Indonesia, tanpa disadari serangan budaya serta arus weternisasi turut masuk dan siap meng-invasi Muslim pribumi.

Gaya hidup ala barat, sekulerisme, liberalisme, hedonisme, pergaulan bebas, dan sarana-sarana maksiat akan menyebar dan menjamur. Perhatian Umat pun teralihkan. Bisa jadi ikut mengarus dan terjebak pada uforia bersama kesenangan dunia. Demam hijrah bisa berubah menjadi demam wisata. Sehingga traveling menjadi life style yang mengalihkan Umat dari perjuangan sesungguhnya.

Sedia Payung Sebelum Hujan

Tindakan preventif, bagaimanapun lebih berguna ketimbang terlanjur ‘sakit’. Mengenali makar mereka, adalah tindakan cerdas untuk kemudian diantisipasi agar tidak sampai terjadi. Siapa yang menginginkan kerusakan. Jika keharmonisan jauh lebih menjanjikan ketentraman.

Maka, sebisa yang kita mampu. Tancapkan kaki lebih dalam lagi dalam perjuangan hijrah. Tetap fokus pada visi akhirat. Jangan sampai dilalaikan dari tujuan sebenarnya. Sesungguhnya Umat membutuhkan perisai yang mampu melindungi dari berbagai serangan dari luar. Perisai itu adalah seorang khalifah. Pemimpin bagi umat dengan menjadikan aturan Allah sebagai pilihan untuk menata umat. Menghalau dari setiap tipu daya.

Usah senang dengan gelar pemberian Barat. Sebaliknya waspada menjadi pilihan sikap utama. Jangan sampai Indonesia dijajah lebih parah lagi dari aspek sosial budaya, pemikiran bahkan dijajah akidahnya.

Bertahan berjuang menikung makar, sesaat bersabar karena fajar kemenangan sebentar lagi akan datang. Islam akan menang. “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (TQS. At Taubah: 32)

In syaAllah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *