Menyoal Konsep Layak Untuk Model Pendidikan Anak

Spread the love

Oleh : Vivin Indriani

(Member Komunitas Revowriter)

 

#MuslimahTimes — Kementrian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (PPPA) Indonesia mengeluarkan press release tertanggal 01 Juli 2018 tentang penyelenggaraan momen Anugerah Penyiaran Ramah Anak 2018. Acara yang digagas bersama dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ini diadakan dalam rangka mengapresiasi cipta karya anak-anak bangsa dan insan media di dunia penyiaran untuk mewujudkan tayangan-tayangan ramah anak.

Siaran Pers Nomor: B- 125/Set/Rokum/MP 01/07/2018 ini bertajuk “Persembahan Anak Untuk Negeri”. Acara ini juga ditujukan untuk memeriahkan rangkaian Hari Anak Nasional (HAN) 2018 yang jatuh pada 23 Juli lalu dengan tema “Anak Indonesia, anak GENIUS (Gesit – Empati – BeraNI – Unggul – Sehat)”.

Sekretaris Kementerian PPPA, Pribudiarta Nur Sitepu menyampaikan dalam rangkaian acara Anugerah Penyiaran Ramah Anak 2018 bahwa tayangan televisi dan radio memegang peranan yang besar dalam mempengaruhi sikap dan perilaku anak-anak bangsa. Untuk itu dibutuhkan lebih banyak lagi upaya-upaya perlindungan bagi anak agar tercipta penyiaran konten-konten yang ramah anak. Disadari atau tidak, beberapa perubahan sikap pada anak seringkali disebabkan oleh tontonan televisi yang menjadi konsumsinya sehari-hari.

Oleh sebab itu menurut Pribudiarta, menjadi tugas dan tanggung jawab bersama untuk dapat meminimalisir dampak negatif dari tayangan televisi. Diharapkan kegiatan seperti ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan tayangan televisi yang bermanfaat. Sekaligus upaya pemenuhan hak anak untuk mendapatkan informasi yang layak dan berdampak positif terhadap sikap, perilaku dan pola pikir anak. Tayangan yang dinikmati anak juga harus mengandung nilai edukasi dan pesan moral positif.

Berdasarkan Pasal 72 ayat 5 Undang-undang Perlindungan Anak Nomor 35 tahun 2014 tentang hak anak dalam media menyatakan, media berperan melakukan penyebarluasan informasi dan materi edukasi yang bermanfaat dari aspek sosial, budaya, pendidikan, agama, dan kesehatan anak, dengan memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak.

 

// Akar Masalah Adalah Kapitalisme //

Kemajuan teknologi tak pelak menjadikan anak-anak terpaksa harus terpapar tayangan-tayangan tidak mendidik. Bukan hanya melalaikan, namun juga menjerumuskan anak pada pola pikir dan pola sikap yang merusak. Beberapa kerusakan moral pada anak diantaranya seperti pornografi, penyebaran konten kekerasan, tayangan percintaan remaja yang tidak mendidik, salah penokohan serta informasi gaya hidup yang salah dan keliru. Ini sebagian saja dari kerusakan yang disebabkan oleh tayangan televisi tidak mendidik.

Kapitalisasi yang melanda berbagai sektor kehidupan tak lepas juga menimpa dunia siaran pertelevisian. Para pengusaha media kadang tidak berfikir bagaimana tampilan acara televisi seharusnya menjadi tayangan yang membentuk kepribadian masyarakat. Bagi mereka yang terpenting hanyalah laku atau tidaknya sebuah tayangan. Siapapun pengisinya, apapun jenis acaranya, dan seperti apapun kontennya asal menghasilkan pundi-pundi uang dan keuntungan besar bagi kapitalis sah saja untuk ditayangkan. Ini tentu merugikan di satu sisi bagi upaya perlindungan anak dari tayangan tidak mendidik. Namun bagi negara dengan kapitalisasi di berbagai bidang, bukanlah suatu hal yang mustahil untuk merealisasikannya.

Sesuai namanya, kapitalisme. Ideologi yang kini berkembang di seluruh dunia dengan kaidah mendapatkan kapital (uang/modal/harta) sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara. Baik cara yang dibenarkan maupun tidak. Tentu saja ini menjadi dilema bagi negara dengan syu’ur(perasaan) ideologi yang berbeda. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penganut Islam terbesar di dunia tentu saja memiliki prinsip dan pandangan hidup yang tidak mungkin bisa disamakan dengan negara-negara penganut kapitalisme. Ada yang di sebut sebagai nilai-nilai ketimuran, yang sebagian besar dipengaruhi oleh pandangan hidup Islam. Diantaranya terkait pendidikan anak.

Dalam Islam kewajiban mendidik anak adalah tanggung jawab orang tua. Memberikan pengarahan seperti apa jalan hidup yang harus diambil adalah suatu amanah yang wajib dijalankan dengan benar. Menjaga adab dan etika anak, perilaku dan kebiasaan serta perangai anak menjadi mafahim(konsep), maqoyis(standar nilai) dan qonaat(keyakinan) Islam adalah harga mati. Sebab ini adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari tujuan penciptaan manusia di muka bumi oleh Sang Khalik. Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman,

وَمَاخَلَقْتُالْجِنَّوَالْإِنْسَإِلَّالِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Ini tentu berbeda jauh dengan gaya pendidikan kapitalisme. Dimana inti pengajaran pendidikan adalah fashluddin ‘anil hayah(memisahkan agama dari kehidupan/sekulerisme). Maka lahirlah dari prinsip sekuler ini gaya pendidikan liberal. Acuannya adalah kebebasan menentukan sendiri apa yang diinginkan oleh anak. Tidak ada pembatasan. Meskipun pada penerapannya negara mereka sendiri mengalami kesulitan mencegah anak dari dampak tayangan kekerasan di televisi. Atau dampak rusaknya gaya hidup anak dan remaja yang menjadi penerus bangsa.

 

// Islam, The Way Of Life //

Tidak bisa dipungkiri bahwa aturan buatan manusia bersifat lemah. Sebab manusia adalah makhluk dengan begitu banyak kelemahan dan kealpaan. Seandainya pun peraturan yang dibuat baik bagi generasi di suatu wilayah, namun pada hakikatnya tidak berguna apa-apa bagi wilayah lainnya.

Maka hukum dan aturan semestinya hanya dari penguasa alam semesta. Dia yang Maha Sempurna, Maha Tahu apa yang paling dibutuhkan oleh hamba ciptaanNya. Islam punya metode yang beragam namun semua bersumber dari syariat Islam. Syariat buatan Allah Azza wa Jalla. Syariat yang tidak sekedar menyelesaikan persoalan dasar tayangan televisi yang tidak mendidik, namun juga persoalan anak secara keseluruhan.

Dalam hadits nabi disebutkan:

حَدَّثَنَاعَبْدَانُآخْبَرَنَاعَبْدُاللهآَخْبَرَنَايُوْنُسْعَنِالزُّهْرِيْقَالَ: آَخْبَرَنِيآَبُوْسَلَمَةُبْنُعَبْدُالرَّحْمَنْآَنَّآبَاهُرَيْرَةَرَضِيَاللهعَنْهُقَالَ : قَالَرَسُوْلُاللهِصَلَّاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ, مَامِنْمَوْلُودٍإِلاَّيُوْلَدُعَلَىالْفِطْرَةِ, فَآَبَوَاهُفَآَبَوَاهُيُهَوِّدَانِهِآَوْيُنَصِّرَانِهِآَوْيُمَجِّسَانِه. (رواهالبخارى) 14

“Telah menceritakan kepada kita Abdan telah mengabarkan kepada kita Abdullah telah mengabarkan kepada kita Yunus dari Zuhri sesungguhnya Aba Hurairah ra. Berkata : Rasulullah saw berkata: Tiada seorang anakpun yang lahir kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR.Bukhari).

Dikarenakan pendidikan anak adalah mutlak kewajiban dan tanggung jawab orang tua, maka pendidikan keislaman adalah pendidikan yang tepat di berikan kepada anak di usia dini. Mengenal Tuhannya, mengenal Rasulnya dan mengenal jati dirinya sebagai seorang muslim yang merupakan hamba Allah SWT.

Pendidikan yang baik tentang Islam akan menjadi pondasi bagi anak membentengi dirinya dari perbuatan dan tauladan buruk yang dilihatnya didalam tayangan-tayangan televisi maupun media elektronik lainnya. Pendidikan Islam ini menjadi maklumat, panduan dan standarnya dalam membedakan mana yang boleh dan tidak boleh dikerjakan. Anak dengan sendirinya akan memiliki penasehat dari dalam dirinya jikalau keilmuan Islam telah tertancap kuat dalam dirinya. Bahkan dengan ilmu keislaman inilah, dia akan memperoleh banyak kemanfaatan tidak hanya derajat yang baik di dunia namun juga di akherat kelak. Dalam beberapa hadits dikisahkan :

وعنابنعباسرضياللهتعلاعنهاانهقال : للعلماءدرجاتفوقدرجاةالمؤمنينبسبعمائةدرجات. مابينالدرجتينخمسامائةسنة. يقال: الئلمافضلمنالئملبخمسةاوجة : الاولالئلمبغيرعمليكونوالئملبغيرعلملايكون. والثانيالئلمبغيرعملينفعوالئملبغيرعلملاينفع. والثالثالئملللازموالئملصفةالئباد. والصفةاللهافضلمنصفةالئباد. (اخرجهدرةالناصحين) (رواهاحمد)

Artinya: “Dari Ibnu Abbas RA berkata: bagi orang-orang yang berilmu (ulama) beberapa derajat diatas derajat orang mukmin dengan berbanding 700 derajat. Antara derajat yang satu dengan yang lain mencapai 500 tahun dikatakan: “ilmu lebih utama dari amal melalui 5 sistem: 1) Ilmu tanpa amal pun tetap ada, dan amal tanpa ilmu tak akan bisa, 2) Ilmu tanpa amal bisa manfaat, dan amal tanpa ilmu tak ada manfaatnya, 3) Amal adalah permistian, dan ilmu yang menerangi seperti lampu, 4) Ilmu adalah ucapan para nabi, 5) Ilmu adalah sifat Allah, dan amal adalah sifatan hamba, sementara sifat Allah lebih utama dari sifatan Hamba”. (Durrotun Nasihin) (H.R. Ahmad)

Maka sudah selayaknya siapapun yang menghendaki kebaikan dunia dan akherat anak dan keluarganya, sekaligus mengharapkan keselamatan hidup di dunia, layak baginya mengambil Islam sebagai metode kehidupan. Dampak buruk penerapan ideologi sekular kapitalisme telah menciptakan beragam kesulitan dalam segala lini termasuk dalam persoalan penjagaan anak. Di tambal seperti apapun aturan buatan manusia tidak akan bisa sempurna sebagaimana hukum syariat buatan Allah, Pencipta Alam Raya.

Dalam hal kemajuan teknologi dan sarana komunikasi pun demikian. Teknologi dalam pengaturannya senantiasa mengikuti kemana rules(aturan) yang mengiringinya. Seandainya aturan itu dibuat untuk kepentingan sesaat, maka tidak ada kebaikan baginya. Tayangan-tayangan yang meresahkan bagi pendidikan anak akan senantiasa ada berulang tiap waktu. Namun jika teknologi diarahkan pada aturan buatan Allah, semata-mata mengharap rahmat dan pertolongan Allah, niscaya akan menjadi teknologi yang tidak hanya mencerdaskan generasi. Namun sekaligus menjadi sarana pencapaian terbesar kemajuan peradaban suatu bangsa.

Tengoklah ke ribuan tahun silam ketika Islam berjaya dibawah naungan penerapan syariat Islam oleh negara. Kemajuan teknologi bisa dirasakan oleh siapa saja baik kecil maupun dewasa. Hasil-hasil dari teknologi itupun menjadi inspirasi bagi bangsa-bangsa lain di luar Islam justru untuk belajar di sekolah dan perguruan tinggi Islam. Hal-hal yang mengancam kerusakan generasi diluar Islam tersaring apik oleh kerja negara yang melarang pandangan hidup barat masuk ke negri-negri Islam. Hasilnya adalah peradaban maju yang berkeadaban. Dipuja puji dan dijadikan sebagai mercusuar peradabab dunia kala itu.

Daniel Briffault dalam bukunya Making of Humanity halaman 84 menuliskan, “Sejak tahun 700 masehi, cahaya peradaban Arab Islam mulai berkibar membentang dari Timur Tengah menuju arah timur sampai daerah Persia dan ke Barat sampai Spanyol. Mereka telah mengembalikan penemuan-penemuan sebagian besar ilmu pengetahuan klasik dan membukukan penemuan-penemuan baru yang mereka temukan dalam bidang matematika, kimia, fisika dan ilmu-ilmu lain. Dalam keadaan yang demikian ini, seperti di selainnya, maka kaum muslimin Arab merupakan guru bangsa Eropa. Karena kaum muslimin telah menyumbangkan saham besar demi mengantarkan kebangkitan ilmu-ilmu pengetahuan di benua Eropa ini”.

 

===================================

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *