Merdeka: Lepas dari Krisis Pangan dan Energi

Spread the love

Oleh. Ayu Mela Yulianti
(Penggiat Literasi, Pemerhati Generasi dan Kebijakan Publik)

Muslimahtimes.com– Perang Rusia-Ukraina sedikit banyak memberikan pengaruh terhadap ketersediaan pangan dan energi di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Sebab Rusia-Ukraina adalah negara pemasok pangan dan energi terbesar di dunia. Dan Indonesia adalah salah satu negara pelanggan komoditas yang dihasilkan negara Rusia dan Ukraina.

Kondisi perang menyebabkan Rusia menahan komoditas pangan dan energi miliknya, agar tidak keluar. Mereka memprioritaskan kebutuhan pangan dan energi dalam negeri terlebih dahulu selama perang berkecamuk, agar kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi dan stabil. Selain juga, sanksi Barat yang membuat komoditas Rusia sulit tembus keluar.

Demikian pula dengan Ukraina, pemasok pangan terbesar dunia, dimana negerinya luluh lantak dibombardir Rusia, menahan keluar sisa produk pangan dan energi miliknya. Selain juga kehancuran Ukraina yang diinvasi Rusia beberapa bulan lalu hingga hari ini, membuat produksi pangan dan energi dalam negeri menurun, hingga membutuhkan bantuan pasokan pangan dan energi dari negara luar.

Sementara itu, negara lain di luar Rusia dan Ukraina, sebab terbiasa membeli produk pangan dari luar negeri atau terbiasa impor, pada akhirnya menjadi kelabakan akibat tidak terbiasa memprodukai sendiri pangan dan energi yang menjadi kebutuhannya. Manakala kebutuhan pangan dan energi tidak dapat diperoleh dari impor akibat ketiadaan pasokan dari negara pengimpor.

Jadilah krisis pangan dan energi melanda negeri. Kebutuhan pangan dan energi tidak dapat tercukupi dengan baik akibat ketersediaannya di pasaran menurun, langka, bahkan tidak ada. Ditambah lagi kenaikan harga pangan dan energi yang sangat tinggi membuat sebagian besar masyarakat tidak mampu membeli pangan dan energi akibat rendahnya daya beli, atau bahkan tidak mampu membeli. Akibatnya terjadi kerawanan pangan akut dan malnutrisi serentak dalam mayarakat, baik tingkat lokal maupun nasional. Hingga membutuhkan pemenuhan kebutuhan melalui bantuan makanan darurat.

Dari sini, jelaslah bahwa krisis pangan dan energi ini terjadi lebih didominasi oleh faktor ketergantungan kita pada produk impor, baik pangan maupun energi. Hal ini pun berpengaruh terhadap kekuatan nilai tukar mata uang kita, sebab harus disesuaikan dengan harga produk yang akan kita beli. Rupiah semakin merosot tajam nilainya, hampir tak memiliki nilai dibanding mata uang negara lain.

Inilah sisi pahit yang harus kita tanggung sebagai akibat menjadi negara pengimpor produk pangan dan energi dunia. Secara tidak langsung kita telah tersandera masuk arus globalisasi dunia melalui perdagangan bebas produk pangan dan energi dunia. Perdagangan bebas dalam arus globalisasi memaksa setiap negara untuk membuka pintunya menerima barang yang masuk ke negerinya. Akibatnya, dalam negeri dibanjiri oleh produk luar negeri tanpa ampun, apa saja ada dan membanjiri pasaran dalam negeri. Kondisi ini pun berpengaruh terhadap menurunnya minat para petani lokal untuk berproduksi, selain sebab produk petani lokal yang tidak mampu bersaing dengan produk impor, juga tingginya biaya operasional untuk produksi pangan.

Pun begitu dengan produk energi. Akibat arus globalisasi dan perdagangan bebas, kebutuhan energi, banyak dipasok dari luar negeri, akibatnya menjadi lalai untuk memproduksi sendiri kebutuhan energi di dalam negeri. Karenanya, saat negara pemasok pangan dan energi dunia memberhentikan untuk sementara pasokannya ke negara pasar mereka, dunia langsung mengalami krisis. Pasokan pangan menipis, jika tidak dikatakan berhenti. Tidak terkecuali di Indonesia yang menjadikan impor bahan pangan dan energi sebagai pemasok utama kebutuhan dalam negeri.

Karenanya, perlu upaya terpadu dan terintegrasi untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap produk impor, baik pangan maupun energi. Dengan kembali melakukan program ketahanan pangan dan energi hingga berlanjut pada program kemandirian pangan. Dengan merevitalisasi industri pertanian dan energi. Sebab pada faktanya, Indonesia adalah tanah kaya, mengandung beragam hal yang sebetulnya bisa memenuhi kebutuhan hidup bahkan seluruh rakyat Indonesia, mulai dari barang tambang dan energi, lautan dan segala isinya juga hutan dan segala hal yang dikandungnya. Mulai dari pepohonan yang beraneka ragam, ikan yang beraneka macam hingga barang tambang yang beraneka rupa, yang merupakan modal dasar untuk melakukan program ketahanan pangan dan energi hingga berlanjut pada program kemandirian pangan dan energi.

Sehingga, krisis pangan dan energi dapat diatasi dengan baik, yang pada akhirnya dapat mengembalikan pada kondisi kedaulatan pangan dan energi kita. Maka, kita akan bisa mandiri, tidak tergantung pada pasokan pangan dari luar negeri (impor). Malah bisa jadi kita akan mengulang sejarah tentang swasembada pangan, dimana produksi pangan dalam negeri surplus sampai bisa mengekspor ke luar negeri.

Sebab itu, kita menunggu terbitnya kebijakan-kebijakan dari pemerintah yang dapat mendukung program ketahanan dan kemandirian pangan yang dapat mengantarkan pada tercapainya kedaulatan pangan dan energi kita. Sebab sejatinya kedaulatan pangan dan energi itulah sebenar-benarnya makna kemerdekaan yang hakiki yang dapat kita raih, di tengah ancaman krisis pangan dan energi global.